Tipus Sekaligus Demam Berdarah

Mohon maaf sudah sekian lama tak aktif menulis di blog sederhana ini. Kepada para pembubuh komentar, mohon maaf belum sempat membalasnya. Meski tak aktif, syukur, hits blog ini masih terjaga.

Sabtu, 19 Januari 2008. Aku begitu capek seusai rapat persiapan pendirian federasi serikat pekerja media -di gedung Koran Tempo. Jumat hingga Minggu pekan besok kami melanjutkan pembahasan di Anyer. Aku habiskan waktu saja di depan teve dalam kamar sambi nonton film dvd. Rasa lelah tak mengizinkanku menulis berita.

Minggu, 20 Januari 2008. Rasa capek dan terkuras makin menjadi-jadi. Tak bisa glawat (bergerak meraih sesuatu). Mas Wiwin, kakak, datang siang harinya. Sorenya kuputuskan ke sebuah klinik di dekat rumah kontrakan. Ketemu dokter Irma. Dia curiga ada demam berdarah (DB). “Kalau tiga hari lagi masih panas, kita tes lab ambil darah,” tuturnya sambil menulis resep sepaket antibiotik dan multivitamin serta pemati rasa pusing.

Selasa, 22 Januari 2008. Panas masih terasa. Malah berhari-hari ini badan terasa dingin menggigil jika senja meraba. Nafsu makan juga mati lantaran mual. Aku putuskan ke klinik yang sama. Ada dokter Ichsan. Dia malah curiga aku tipus. Terlihat dari lidah yang pucat putih. “Kalaupun DB, itu juga gak ada obatnya. Paling diinfus. Intinya ada cairan masuk. Saya kasih antibiotik buat tipus saja,” ujarnya. Dia terkesan enggan merekomendasikan medical check-up. Padahal hasil lab seperti inilah (yang dari rekomendasi dokter umum) yang sangat penting sebagai tiket masuk ke dokter spesialis. “Boleh saja sih tes lab, tapi paling hasilnya begitu,” sambungnya. Dia kasih resep multivitamin C dosis tinggi dan B kompleks. Serta obat mual. Siangnya aku diboyong Mas Wiwin ke rumah Rawamangun, rumah keluarga istrinya.

Sabtu, 26 Januari 2008. Selama berhari-hari secara rutin seusai sarapan, aku muntah. Kondisi juga tak membaik. Mbak Gita, kakak ipar, memutuskan membawaku cek ke Rumah Sakit Omni. Kebetulan cuma beberapa jarak dari rumah di Rawamangun. Bertemu dokter Diana. Tes darah pukul 10.00, hasil ketahuan hanya lebih dari 30 menit. Kadar trombosit turun, jadi 115 ribu. “Normalnya 150-450 ribu. Orang sehat saja rata-rata 200 ribu. Rawat inap yah,” ujar si dokter. Selain minimnya kadar trombosit, tertera dalam hasil tes, darahku mengandung bakteri Salmonella typhii. Lengkap sudah, DB plus tipus -kalau tipus dua kali ini.

Mbak Gita menimbang-nimbang. Dia punya kolega, Mas Hakim yang “langganan” RS Sint Carolus. Yah sudah. Kami meluncur ke sana hari itu juga. Jarum infus menembus punggung tapak tangan kiri. Agak nyeri.

Minggu, 27 Januari 2008. Pagi hari ambil darah. Sarapan. Mandi. Tidur lagi. Sebagian besar waktu aku habiskan di atas dipan. Tiduran saja. Sambil sesekali berlempar sapa dengan penunggu pasien yang lain.

Siangnya, beberapa kawan dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada menjenguk. Terutama alumni EQuilibrium, pers mahasiswa di mana dulu aku bergiat. Ada Beta, Totok, Bulba, Meirma, dan Bagus. Sebelumnya, Mas Umar -yang akrab dipanggil Puput- dari Kontan menengok. Mereka bawa buah-buahan.

Kolega dari Hukumonline, Herman dan Imam menggantikanku untuk datang ke Anyer. “Kita harus meregistrasi serikat pekerja kita secepatnya ke Disnakertrans DKI. Paling lambat Juli. Lalu Agustus kita persiapan bentuk federasi,” tutur Herman melaporkan dari balik hape. Aku sendiri adalah ketua serikat di Hukumonline.

Senin, 28 Januari 2008. Pagi hari ambil darah. Jumlah denyut nadi 67 per menit. “Olahraga dong. Normalnya 80 kali tiap menit,” hardik si suster. Dia gak tahu sih, kan aku baru saja bangun tidur. Lagipula semalam tidurku terganggu oleh pasien tetangga sebelah yang rewel. Kantong infus sudah lama kosong tapi tak diganti juga. Untung darahku belum sempat tersedot naik ke atas. Hasil tes darah kemarin kandungan trombosit 107 ribu.

Teman dari Hukumonline menjenguk. Sebenarnya ada beberapa orang. Tapi dihalau satpam. Akhirnya hanya Mpok Eni dan Mona yang masuk mewakili kawan-kawan. Dibawakan dua potong roti, Sey hari ini (tepatnya 25 Januari lalu) merayakan ultah.

Malam harinya, suster Murni, ketua regu jaga malam, memberitahuku, besok adalah rencana pulang. Trombosit yang diambil sampel tadi pagi sudah meningkat jadi 147 ribu. Syukurlah.

Selasa, 29 Januari 2008. Pagi hari masih seperti biasa. Jarum menembus kulit tangan, menyedot beberapa mililiter darah. Makan pagi. Mandi sekalian buang air. “Hari ini rencana pulang dan masih ada makan siang,” tukas seorng suster. Hasil tes darah datang lebih cepat. Sudah terdapat 207 ribu trombosit dalam darah. Denyut nadi 100 semenit. Suhu badan stabil di kisaran 36-36,5 derajat Celcius. “Penyakit DB-nya memang tidak parah kok. Sejak Anda masuk sebenarnya sudah pada tahap penyembuhan,” terang dokter Harris yang menanganiku.

Mas Ateng dan Ronal dari Aliansi Jurnalis Independen Jakarta menengokku sebentar. Sebuah rencana yang tertunda pelaksanaannya. “Aku mau menjengukmu, Cob,” ujar Mas Ateng dari balik telepon, Sabtu malam yang lalu.

Siang hari, setelah hitung-hitungan ongkos, aku pulang bersama kakak ke Rawamangun. Kakak datang dengan Mas Gun, kolega di tempat kerja. Total biaya lebih dari Rp2,5 juta untuk empat hari tiga malam inap. Tapi aku hanya keluar tak lebih dari Rp50 ribu -tepatnya Rp21 ribu. Beberapa biaya ditanggung oleh asuransi tempat aku bekerja. Kami memakai Winterthur. Hingga kini belum aku kasih tahu Ibu. Bisa-bisa tensinya meninggi.

Rabu hingga Minggu depan aku harus istirahat. Senin mulai kerja lagi. Jangan sampai kena penyakit lagi. Jangan sampai tertusuk jarum suntik atau infus lagi. Sakitnya mengalahkan senyum manis suster…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s