Percakapan Pembantu dan Majikannya

“Pak Harto mati, Pak.”

“Apa? Ha?”

“Pak Harto meninggal…”

“Kenapa…”

“Pak Harto sudah tua yah Pak. Bapak sudah tua kok enggak meninggal?”

Twewewew… sepenggal perbicangan tersebut bukanlah fiksi apalagi buatan alias khayalan saya. Kedua orang itu, pembantu dan majikan, beradu cakap di sebuah kamar rumah sakit -kebetulan sekamar dengan saya yang lagi dirawat lantaran demam berdarah dan tipus.

Pembantu terkesan sambil lalu saja mengurusi Si Opa, panggilan si kakek tua majikannya yang dirawat karena stroke dan susah kencing. “Sudah ada suster,” celetuknya. Dia lebih asyik mencetat-cetit tombol hape entah sms-an dengan siapa.

Sedangkan Si Opa juga rewel tak ketulungan. Tangannya bergerak aktif sehingga beberapa kali darah muncrat dari liang infus. Slang lepas. Padahal dia lagi dialiri tiga jenis cairan yang berbeda.

Klop sudah duet ma(w)ut itu.

“Pak Harto itu jahat,” sambung si engkong dengan suara gambreng (kurang jelas).

“Jahat kenapa Pak?” tanya si pembantu.

“Yah suka bunuh orang,” tutur Opa sambil minta disuapi minum.

Keduanya tetap menjalani lakonnya masing-masing. Ada majikan yang rewel, ada pula pembantu yang acuh tak acuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s