Walau Sakit Tetap Kerja

Jumat, 11 Januari 2008. Kujejakkan lagi kaki di ibunya kota. Subuh memayungi terminal Lebak Bulus. Seusai “jungkir balik” dua rakaat di masjid pojok terminal, hatiku bulat: aku harus cepat pulang ke kontrakan.

Semasih di rumah Pati aku sudah merasa meriang. Niatku nyekar ke makam Bapak tak kesampaian. Seharian Kamis lalu aku habiskan di tempat tidur. Dhik Dwi sudah pulang pagi lalu. Bersama Dhe Ngat dan Bu Jaemo. Tinggallah Dhe Yan dan Dhe Jum menemani Ibuk.

Sore itu aku malas ke terminal Pati. Kayuhan becak Lik Bejo yang bersemangat tak mampu menimba hasratku. Lesu lesi nian. Demam makin menjalar.

Bus serasa lamban. Tiba di Kudus magrib. Lama banget ngetem. Di Demak tersendat. Di Semarang bus lama amir berhenti. Untung ada penjaja lumpia. Aku sikat dua buah. Tapi tak bisa mengusir rasa lapar. Pun demikian, nafsu makan sudah melayang. Aku merasa lemak-lemak dalam tubuhku bekerja keras membakar dirinya sendiri, memerangi rasa meriang.

Tiba di Kendal sudah telat untuk makan. Pukul 21.30. Aku isi saja perut sekenanya: susu anget dan roti coklat. Tak kenyang memang. Daripada gak kolu nelan nasi. Perjalanan selanjutnya serasa siksaan. Perut dan dada perih bagai tertusuk sembilu.

***

Setiba di kontrakan Jakarta, aku merebahkan diri. Mengabari orang-orang rumah Pati, bahwa sudah sampai. Aku itung-itung, peringatan seribu hari Bapak kira-kira 29 Juni 2010 nanti.

Dihajar lelah, aku lahap waktu tidur hingga setengah dua belas siang. Habis Jumatan, aku bergegas ke kantor. Tetap harus kerja. Meskipun sakit. Jurnalis tak boleh cengeng, memang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s