Jika Aku Seorang Investor, akan Kuborong Saham Media

Kalau aku punya banyak duit, akan aku beli saham-saham media. Dalam rapat umum pemegang saham, aku akan bersuara, “Perusahaan ini harus ada serikat pekerjanya.”

Konon, yang membuat mengendornya keangkuhan pemerintah Afrika Selatan bukannya embargo. Berapa lama politik boikot di negeri Mandela ini terbukti kurang punya greget. Yang membuat lunak sikap kaum rasialis -yang duduk di kekuasaan- adalah keengganan  perusahaan gede berinvestasi di sana. Dan hal itu, akibat dari andil para aktivis yang membeli saham perusahaan kakap itu. Tak perlu jadi pemilik mayoritas. Selembar saham pun sudah cukup untuk menggenggam hak bersuara dalam rapat pemegang saham. Jika kita mampu mengutarakan ide-ide dengan rasional dan logis, kalangan pemegag saham dominan pun bakal memafhumi dan bahkan mengamini usulan kita.

Saat ini, jurus penghindaran (avoidance) lewat aksi boikot dirasa kurang cukup. Betul, pada kondisi tertentu, hal ini bisa efektif. Tapi tak selalu cespleng. Misalnya, sekali lagi misal -tak perlu ada yang tersinggung, jika aku berkoar-koar, “Jangan beli Kompas. Media kakap ini memecat Bambang Wisudo lantaran dia aktivis serikat pekerja. Kita musti berangus media pongah yang memberangus serikat pekerja ini, dengan stop membeli. Keuntungan dari penjualan bukannya untuk kesejahteraan buruhnya… blablabla, tralala, trilili, bipiti bipiti bop…” Bisa jadi seruanku ini kayak khotbah di atas bukit.

Saat ini kita membutuhkan cara baru, yakni dengan masuk dan aktif berada di dalamnya. Tak perlu masuk jadi karyawan perusahaan itu baru lantang berkoar. Tak perlu juga masuk jadi jajaran direksi. Jalannya sebuah perusahaan serta kebijakannya sangat bergantung pada amanat rapat pemegang saham. Yang dibutuhkan “hanya” dana. Beli sahamnya, bersuara di forumnya.

Sudah banyak bukti, dalih “masuk ke dalam sistem” tak manjur. Bahkan kita bisa terseret ke dalam pusaran kebobrokannya. Misalnya, “Pilih saya jadi gubernur, bupati, atau anggota parlemen. Pasti saya akan membawa perubahan. Pasti saya akan memberantas korupsi…” Eh. setelah jadi pejabat, korupsi juga kan?

Jadi pemegang saham bukan berarti terlalu “masuk ke dalam”. Justru pemegang saham berada “di luar” sistem mekanisme jalannya roda perusahaan sehari-hari. Namun pemegang sahamlah yang menjadi penentu arah policy perusahaan ke depan.

Ah, andai saja aku punya dana melimpah. Bukan saham perbankan, bukan saham sektor energi, bukan insting spekulan, bukan dewa judi yang aku perlukan. Walau harganya anjlok dan tak menguntungkan, aku mau bidik saham media. Di sana aku akan bersuara, “Perusahaan ini harus punya serikat pekerja. Perusahaan ini harus menaikkan gaji jurnalisnya. Perusahaan ini harus memberlakukan antiamplop bagi wartawannya…”

Masalahnya, perusahaan media di Indonesia yang melempar sahamnya kepada publik baru segelintir…

*Tulisan ini hasil diskusi setahun lebih yang lalu, dengan seorang kakak kelas Akuntansi UGM yang bekerja di sebuah perusahaan tambang besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s