Kredibilitas UGM dan UI bisa Jatuh

Oleh Ajiyana Brajamusti

KAMI sangat prihatin dan kecewa sehubungan dengan kelakuan ilmuwan dari Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI) yang menjadi pembicara dalam seminar publik yang berjudul “Kasus Pajak Asian Agri”. Para ilmuwan tersebut bukannya berpikir bagaimana mengembalikan keuangan negara yang potensial raib karena penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri, eh malah mempersoalkan jurnalis Tempo yang membongkar pertama kali dugaan penggelapan pajak.

Keprihatinan kami tentu juga menjadi keprihatinan anak bangsa lainnya, soalnya bagaimana mungkin lembaga besar dan ternama seperti Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UGM dan Pusat Pengkajian & Penelitian Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI bisa dipinjam tangan untuk melakukan vonis terhadap jurnalis? Apalagi, dalam berbagai iklan yang dipublikasikan penyelenggara diskusi, yaitu Veloxxe Consulting (pemiliknya mantan wartawan Putut Prabantoro), menyatakan bahwa lembaga tersebut dibayar Asian Agri. Kami mohon penjelasan Rektor UGM dan Rektor UI, apakah penelitian seperti ini legal atau ilegal?

Kami juga meminta Rektor UGM dan Rektor UI untuk meneliti aspek ekonomis yang telah diperoleh kedua pimpinan lembaga tersebut. Penjelasan ini penting, soalnya kredibilitas kedua perguruan tinggi tersebut di ujung tanduk, apabila ada oknum-oknum di lembaga terhormat tersebut yang memperoleh manfaat finansial untuk kepentingan pribadi, baik yang dilakukan Hermin Indah Wahyuni, sebagai Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UGM, maupun Dwi Urip Premono,1 sebagai Executive Director Pusat Pengkajian dan Penelitian ISIP UI, yang kebetulan menjadi pembicara dalam seminar tersebut. Dalam pandangan kami, akan sangat bijaksana jika para ilmuwan Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UGM dan ilmuwan Pusat Pengkajian dan Penelitian ISIP UI bersama-sama dan bahu-membahu membantu menyelesaikan mengembalikan keuangan negara dari dugaan penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri.

Apalagi, Dirjen Pajak pernah menyebut bahwa potensial kerugian negara bisa mencapai lebih dari Rp1,3 triliun dan kasusnya kini sedang dimonitor oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sekali lagi, kami sangat prihatin dengan ilmuwan bayaran yang menisbikan faktor-faktor lain yang esensinya justru lebih penting dan lebih bernilai. Kami merinding, bagaimana nasib bangsa kita ke depan bila para ilmuwan -yang sering kali disebut memiliki hikmat dan kebijaksanaan,tetapi kelakuannya juga tergantung kepada fulus. Sungguh mengerikan.

Catatan blogger:
1. Yang datang sebagai pembicara mewakili P3 ISIP bukan Dwi Urip, melainkan Wahyu Wibowo.

Tulisan ini merupakan tanggapan pada artikel UGM = Universitas Garuda Mas. Tulisan yang cukup panjang bagi sebuah komentar ini saya putuskan untuk menjadi artikel tersendiri. Saya sudah berkirim surat kepada penulis komentar ini ke alamat email indonesia[dot]solidarity[at]yahoo[dot]com -dari laporan feedback setiap komentar yang masuk. Email saya yang berisi permohonan kesediaan dimuatnya komentar itu menjadi artikel tersendiri belum dibalas. Sayang, jejak URL yang beliau tinggalkan nampaknya alamat blog yang belum ada: http://suwap.wordpress.com.

2 responses to “Kredibilitas UGM dan UI bisa Jatuh

  1. hmmm, lagi-lagi…jurnalis juga bukan manusia sempurna. Jadi mari kita tempatkan pada tempat yang seharusnya. Sebenarnya kasus tersebut tak kan meledak jikalau hasil penelitian terhadap pemberitaan Tempo baik-baik saja. Sayang, yang terjadi malah sebaliknya.

    Jikalau hendak fair, maka lakukanlah penelitian tandingan terhadap bukti empiris tersebut (pemberitaan Tempo). Sampai sekarang, Deny Indrayana dan Budi Irawanto yang koar2 akan melakukan penelitian tandingan malah adem ayem. Nah, tentunya sebagai jurnalis harus bersikap fair bukan?

    Kalau menurutku kesalahan Jurusan Ilmu Komunikasi (JIK) adalah ia mengambil momen yang kurang tepat untuk mengkritisi jurnalis. JIK, dengan rekam jejak penelitian yang kurang tersohor tentang jurnalistik, apesnya malah langsung berhadapan dengan biang Jurnalistik (Tempo).

    Akhirnya, saya yang udik dan katrok ini bertanya-tanya…apakah masalah fairness dan cover both side kudu dikesampingkan untuk masalah2 yag ‘dianggap’ lebih penting?
    apakah kita bisa mencuci pakaian yang kotor dengan air yang kotor pula?

    salam kenal,

    b4

  2. oh ya, nie alamat saya bos:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s