Resensi Film Lust, Caution: Getirnya Nasib Wanita Pejuang Kemerdekaan

Jika biasanya wanita cantik yang membawa petaka seorang lelaki, justru kali ini si jelita yang celaka. Untuk menikmati film ini, saya sarankan jangan nonton di layar bioskop atau layar kaca (jika nanti ditayangkan di teve) Indonesia. Dijamin bakal kena pangkas gunting sensor.

Satu berkah buat Tang Wei, aktris 28 tahun. Lewat akting buka-bukaannya dengan Tony Leung, ketenarannya makin melejit. Bahkan disebut-sebut dia pantas menyabet aktris mandarin tahun 2007. Inilah film fenomenal pertama buatnya. “Saya tak pernah menyesal memulai karir pada usia yang tak lagi muda,” ujarnya.

Ini film bukan main-main. Tangan dingin sutradara dan produser Ang Lee mengantarkannya menyabet Golden Lion. Film ini juga menyingkirkan The Warlords (Jet Li, Andy Lau) dan The Sun Also Rises (Anthony Wong, Joan Chen) dalam perebutan tempat sebagai wakil film mandarin dalam nominasi film berbahasa asing terbaik Academy Award. Film ini disadur dari novela tulisan Eileen Chang, dengan judul yang sama, yang terbit pada 1979.

Film ini tak hanya disokong oleh kualitas akting para artisnya (Tony Leung, Joan Chen, Lee Hom-wang). Namun juga kontroversi yang terkandung di dalam ceritanya. Film dan novela ini berkisah tentang rombongan drama para pelajar yang hendak menggugah rasa patriotisme Cina di era Perang Dunia II. Mereka terlibat dalam misi membunuh para kolaborator dan komprador yang bekerja sama dengan penjajah Jepang -umumnya dari golongan Kuomintang yang menyeberang mendirikan negara Taiwan. Istimewanya, pihak badan sensor Taiwan justru berbuka tangan dan tak menggunting sedikit pun film ini yang beredar di layar lebar negara tersebut.  

Tang dalam film tersebut, bagi saya, lebih cantik dengan rambut aslinya yang hitam lurus tergerai. Tanpa make up  apa lagi polesan gincu. Namun gadis pelajar lugu pemalu ini harus berdandan layaknya istri orang kaya China, yang berambut di-roll mengombak dengan lipstik merah merona.

Acungan jempol memang sepantasnya diarahkan kepada Tang. Perempuan ini mampu melakoni peran Wang, gadis lugu dan pemalu, namun bermain panas di atas ranjang. Dia lakoni untuk keyakinan menuju kemerdekaan bangsanya dari tangan Jepang.

 

(Tang Wei, dalam sebuah malam penghargaan. Foto dari flickr)

Kisah bermula dari seorang pelajar, Wang Jiazie (Tang Wei). Wang (bisa juga disebut Wong Chia Chi) ditinggal pergi ayahnya ke Inggris. Maksud hati ingin menyusul. Namun kondisi Cina kala itu (1942) bergejolak. Jepang mendudukinya sehingga penduduk yang hendak keluar sangat susah mendapat izin.

Wang diajak bergabung dalam perkumpulan drama yang dipimpin oleh Kuang Yumin (Lee Hom-wang). Mereka terdiri dari enam orang, termasuk Wang. Empat pria dan dua perempuan. Wang terpilih sebagai pemeran utama wanita berkat aksi panggungnya yang menawan. Rombongan ini selalu memainkan cerita yang membakar semangat heroisme penonton. Kuang sendiri kehilangan kakak kandungnya karena gugur bertempur dengan Jepang yang dibantu Kuomintang.

Karena jiwa nasionalismenya yang menggebu, keenamnya hendak berperan dalam gerakan kemerdekaan. Mereka bergerak dalam tanah, dengan koordinasi Wu Tua. Incaran mereka satu pentolan Kuomintang: Tuan Yee (Tony Leung).

Diaturlah siasat. Keenamnya menyamar. Tak sulit bagi sekelompok seniman drama. Wang menjadi Nyonya Mak (Mak Taitai), Kuang sebagai asisten, lainnya sebagai Tuan Mak, sopir, dan lainnya. Pasangan Mak diplot sebagai pebisnis dari Shanghai. Tujuannya untuk menembus akses ke rumah Tuan dan Nyonya Yee atau Yee Taitai (Joan Chen).

Lagipula Yee Taitai gemar main mahyong dan menjamu makan teman-temannya: para istri pejabat atau pebisnis kaya. Awalnya Mak Taitai mendekati Yee Taitai. Dari permainan mahyong yang rutin di rumah Yee, Mak Taitai bisa bertemu dengan si tuan.

Berawal dari situ, keduanya mulai saling terpikat. Tuan Yee mengajak Mak Taitai berbelanja jas. Sebenarnya inilah kesempatan bagi para penyamar untuk menghabisi Tuan Yee. Diantarlah Mak Taitai ke rumahnya. Di sana sudah menunggu lima temannya bersiap-siap mengeksekusi Yee. Namun Yee agaknya hati-hati. Ajakan Mak untuk sekadar minum teh di dalam rumah dia tampik. Hilanglah kesempatan emas ini.

Hingga tiga tahun kemudian berlalu. Wang alias Nyonya Mak minta strategi diubah. Dia ingin sengaja bermain affair dengan Tuan Yee. Untuk menjiwai lakon itu, Wang rela melepas keperawanannya kepada salah satu teman main drama.  

Selanjutnya, didekatinya kembali keluarga Yee. Mak Taitai makin mampu masuk ke dalam dengan permainan panasnya bersama Yee. Namun Tuan Yee tetaplah pria yang dingin dan mampu menjaga jarak. Suatu saat dia meminta Mak agar tidak nyelonong ke ruang kerja rahasianya.

Wang makin tak sadar. Dia terseret derasnya arus cinta bersama Yee. Padahal, dia sendiri pernah mencoba merajut hubungan dengan Kuang. Kelima kawannya berpencar menggelar aksi di berbagai kota lainnya. Sebenarnya Wang ingin operasi ini segera selesai. Namun Wu Tua, sebagai koordinator aksi bawah tanah ini, selalu mengulur waktu. Alasannya tunggu momen tepat.

Wu tiada ubahnya, sama dinginnya dengan Yee. Bahkan situasi semacam ini menuntut dia tega dan tak berperasaan. Pertama kalinya Wang bergabung bersamanya, Wang menulis surat kepada ayahnya di Inggris. Surat itu disampaikan kepada Wu untuk dikirim. Janji Wu, operasi ini segera selesai setelah itu mengirim Wang supaya bisa berkumpul dengan ayahnya. Alih-alih, surat itu malah dibakar Wu -dan takkan pernah sampai kepada ayah Wang.

Suatu ketika, Yee mengajak Mak beli cincin berlian. Itulah momen yang tepat, kesempatan kedua, untuk menghabisi Yee. Di sekitar toko sudah siaga para aktivis dan Kuang untuk mencelakai Yee. Namun Mak berbalik memperingatkan Yee. Yee pun berhasil lolos dari intaian yang sudah direncanakan itu.

Hari itu juga, dilakukan penyisiran besar-besaran oleh aparat Kuomintang. Tertangkaplah Wang alias Mak. Lima kawannya pun turut tertangkap. Wu Tua, yang hanya memerintah anak buahnya, berhasil lolos. Keenamnya bersatu kembali, namun kini sebagai tawanan.

Yee menerima berkas identitas keenam orang itu. Asistennya menunggu bubuhan tanda tangannya. Kini giliran Yee yang mengalami pergolakan batin. Baru tahu dia, bahwa Mak adalah tokoh samaran yang dimainkan oleh Wang. Jika Yee meneken, pertanda acc eksekusi keenam aktivis kemerdekaan itu. Dengan berat hati Yee menandatanganinya. Keenamnya dibantai di areal pertambangan terpencil.

Baik Yee maupun Wu, dua pimpinan dari kubu yang berseberangan, tetap selamat. Memang dari dulu, prajurit atau bawahan selalu yang jadi korban pertama kalinya.

3 responses to “Resensi Film Lust, Caution: Getirnya Nasib Wanita Pejuang Kemerdekaan

  1. i was completely immersed in this film.. even likened my only wife as Mak Taitai hahaha..

    setuju..saya juga turut mengacungkan jempol untuk dua pemain utama Tang Wei dan Tony Leung. Akting mereka luar biasa… (akting di ranjang juga ruarrr biasaa…)
    si Tang Wei yang malu-malu..
    si Tony Leung yang bengis..

    This is highly recommended..

  2. TU FILM KERENZ ABISSSSS SUMPEEE DEE

  3. Filmnya ada di mana neh kalo mau beli…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s