Banjir oh Banjir (2)

“Selama 22 tahun sejak aku lahir di sini, baru kali ini ada banjir di Bojonegoro,” jerit adik sepupu saya, Dwi Setyorini, lewat pesan singkat, Minggu (30/12).

Dhik Dwi, panggilan kami kepada dia, mengeluhkan keadaan di kota asal tambang migas Blok Cepu itu. Air bersih nihil. Zonder aliran listrik. Warung-warung praktis tutup. Logistik dan bahan pangan macet.

Banjir meraung sejak Jumat silam (28/12). Halaman rumah Bu Dhe Jum dan Pak Dhe Fauzan, ortu Dwi, awalnya terendam semata kaki. Lambat laun namun pasti banjir makin meruyak dan menerobos rumah. Sabtu (29/12) jadi setengah meter. Lantas Minggu, hari ini, sore tadi sudah seleher orang dewasa. Rumah Dhe Yan berada di Jalan Paglima Polim.

Inginnya mereka mengungsi ke Pati, menemani Ibu. Apa lacur. Akses keluar dan masuk Cepu, Blora sudah putus. Mau lewat Ngawi-Sragen-Purwodadi? Sami mawon. Mereka terisolasi. Tak bisa keluar kota kecil ini. Dhe Yan akhirnya mengungsi ke sebuah penginapan. Sialnya, hanya dapat kamar lantai dasar.

Kekhawatiran saya mulai hampir jadi nyata. Jika kondisi ini terus berlanjut, Dhe Jum si ahli masak itu tak bisa datang ke peringatan 100 hari meninggalnya Bapak. Pada 10 November lalu, peringatan 40 hari Bapak, Dhe Jum-lah yang menggawangi dapur kami. “Tak perlu maksa ke Pati, Dhe. Biar nanti Ibu pesan katering saja,” ujar saya mencoba menenangkan.

Ibu tak kalah paniknya. Saya khawatir tensi darahnya menanjak lagi. Kemarin sebelum lebaran kambing sudah sempat menyentuh lantai 230. Gawat. Maklum, Ibu saat ini hanya punya Dhe Yan, saudaranya yang tersisa. Dari sepuluh bersaudara, kini tinggal dua. Ibu anak ragil, Dhe Yan anak ketujuh. “Aku jadi mumet lagi mikiran Dhe Yan,” kata Ibu kepada saya dalam percakapan telepon.

Dhe Yan sendiri kini kambuh lagi sakitnya. Pada situasi banjir saat ini, “sering ke belakang, Mas,” ujar Dhik Dwi kepada saya.

Ramai media memberitakan penyebab banjir adalah amukan Bengawan Solo… “air mengalir sampai jauh, akhirnya ke rumah…”. Namun bagi saya, tak sesimpel itu. Ngawi, Sragen, Blora, Cepu, Purwodadi adalah area hutan jati. Jika selama berpuluh tahun, setidaknya 25 tahun sesuai usia saya yang belum pernah tumon banjir, daerah ini tak pernah tersentuh air bah. Sewaktu saya pulang-pergi Pati-Yogyakarta via jalur Purwodadi di waktu lebaran lalu, masih musim kemarau, sebagian bukit kapur di daerah itu sudah gundul tak berambut hijau.

Memperhitungkan faktor Bengawan Solo an sich? Nampaknya kita jangan tergesa mengambil kesimpulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s