Terbunuh Jenuh

Perjalanan 12 jam ini aku lalui dengan rasa sepi…

Terminal Pati, 16:45. Bus Nusantara yang mengantarku ke Lebak Bulus sudah nongol. Dengan langkah berat aku menelankan diri ke dalam pintu kendaraan gede itu. Roda bergelinding dengan pelan. Mendung sore itu makin berat. Awan hitam memayungi hijau permai padang padi. Namun tak cukup menghibur berat hatiku meninggalkan rumah dan Ibu.

Terminal Kudus, 17:30. Bus ini parkir lama nian. Tanah terminal tergenang air hujan yang tanpa ampun turun berjam-jam yang lalu. Para penumpang dan orang-orang lainnya harus mengangkat celana dan alas kaki supaya tak termakan oleh banjir yang setinggi mata kaki itu. Aku makin suntuk. Sial. Bus ngetem sejam lebih. Pengamen maupun pengasong tak mampu menemani sepi hati. Pukul 18:47 bus baru meluncur membelah jalan Sayung, Demak, hingga tiba di Semarang pada 19:30. Dari Demak baru aku dapat kawan sebelah. Seorang anak gadis berjilbab. Sedangkan sepasang ortunya berada di deretan bangku seberang, bersama anak balita mereka. Kami berdua tak satupun melempar cakap. Diam.

Perjalanan serasa berat. Tiada teman pendamping. Tak ada kegiatan atau obrolan pembunuh waktu, justru waktu yang membunuhku. Sepasang kursi lainnya diisi oleh pasangan: pacar atau suami istri atawa teman.

Perut kian lapar. Biasanya kalau sampai kantor cabang Semarang bus diserbu oleh pedagang lumpia. Sebenarnya lumayan untuk ganjal perut. Apes. Kali ini mereka tak kelihatan batang hidungnya. Mungkin lantara hujan.

Waktu merambat serasa pelan. Pukul 21:30 bus baru mampir di sebuah resto di daerah Gringsing, Batang. Kabupaten Kendal sudah lewat beberapa waktu lalu. Sudah telat bagiku. Perut sudah tak enak menerima asupan yang masuk. Namun harus tetap terisi. Jangan sampai tumbang lagi.

Alas Roban aku lalui dengan hampa. Berderet warung makan pinggir jalan memancarkan pendar lampu petromaks. Lamat-lamat kantuk menyergap. Batang, Pekalongan, Brebes aku lalui dengan tidur. Bangun sebentar, baru sampai Tegal. Aku lanjutkan tidurku hingga ke Indramayu pada dini harinya. Suasana masih itu-itu juga. Sederet rumah pinggir jalan yang nampak pulas dalam sepi malam. Memasuki mulut ibu kota, kulihat cerobong asap kompleks industri tiada henti memuntahkan asap ke angkasa. Pekat kelabu berbaur dengan langit yang masih kelam. Bulan hanya menyembulkan separuh bentuknya.

Alarm hape berteriak. Pertanda waktu subuh. Pukul 04:45. Baru sampai tol menuju Jakarta. Bus makin cepat melaju. Syukurlah. Pukul 05:15, bus sampai juga di terminal Lebak Bulus. Tamat sudah penderitaan dari kejenuhan ini.

Aku pun bergegas salat subuh di masjid. Lalu sebentar ke toilet. Lantas kupanggil taksi. Roda sedan itu mengirimku ke kontrakan di Kebayoran Lama. Rasa penat kuhempaskan semua bersama dengan kulempar tubuhku di atas kasur busa yang mulai kempis… Hari ini juga harus mulai kerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s