Banjir oh Banjir

Kalau kondisi ini berlangsung hingga bulan depan, saya khawatir Bu Dhe dari Bojonegoro tak bisa datang ke seratus hari meninggalnya Bapak.

Purwodadi banjir. Berita dari Metrotv tempo hari (26/12). Saya menduga trafik dari dan ke Pati-Solo-Yogyakarta terputus. Sewaktu saya kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM), saya tak pernah terganggu oleh air bah ini. Kala itu jalanan lancar saja. Saya baru khawatir kalau pulang ke Pati terlalu sore. Bus Purwodadi-Pati terakhir ada pukul setengah lima sore. Atau pada saat musim haji. Banyak bus yang dicarter mengangkut rombongan (pengantar) calon haji.

Kalaupun banjir, justru yang sering langganan adalah jalur Semarang-Demak-Kudus. Di daerah Sayung, tepatnya. Termasuk wilayah kota wali, Demak. Makanya saya ogah pulang dari Yogya lewat jalur Semarang. Tapi, waktu saya balik ke Jakarta, saya tak tertahan oleh banjir di Sayung. Meskipun Terminal Kudus terendam air semata kaki.

Banjir juga melanda wilayah Blora. Metrotv juga melaporkan dalam news-sticker (berita tulisan berjalan) jalur Pati-Blora putus. Blaik. Dari dan ke Pati-Bojonegoro kan juga pakai jalur itu. Tepatnya Pati-Cepu.

Jika kondisi ini konsisten hingga Januari nanti, tepatnya 9 Januari, saya khawatir Dhe Jum terhalang datang ke sini. Semoga banjir cepat surut.

Pertanda alam makin rusak. Akibat ulah manusia yang jahil dan serakah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s