Mengapa Pedagang Kaki Lima Marak di Pati

“Retribusi per hari Rp1.500. Kalau jualan di alun-alun malah ditarik Rp5.000 Mas.”

Itu ujar seorang gadis penjual bakso yang mangkal di depan toko Sumber Urip, dekat rumah kami. Waktu itu saya bersama kakak ipar, Mbak Gita, menyambangi warung baksonya. Kami hendak berburu butiran bakso goreng. Untunglah, malam itu kami dapat. Biasanya, kalau sudah lewat magrib, bakso gorengnya sudah amblas dan tinggal bakso rebus. Maklum, warung ini laku nian.

Warung ini langganan kami. Milik Pak Laspin. Dulu Pak Pin menjajakan bakso keliling dengan gerobak. Kami menyantapnya sejak saya masih TK. Sejak saya sekolah SD,  barulah Pak Pin menempati warung itu. Sedangkan gadis itu adalah anaknya. Kakak si gadis juga jualan bakso. Mewarisi bakat ortunya. Si cowok bergelaran di alun-alun. Tak heran si gadis tahu betul “tarif” pajak jalanan.

Dari hari ke hari lapak pedagang kaki lima makin marak saja di kota sekecil ini. Para pendatang makin sesak. Padang, Lamongan, Klaten, dan lain sebagainya. Tujuan mereka kemari satu: berdagang.

Uniknya, penduduk kota pensiunan ini juga getol membeli, seberapapun penghasilan. Tiap malam alun-alun selalu semarak -kecuali hujan. Ada saja yang dibeli. Bakso, pempek, soto, gado-gado, fried chicken, mainan, dan segala macamnya. Para konsumen selalu membeli dan membeli tiada henti.

Inilah dahsyatnya kekuatan si kecil (baca: Usaha Kecil Menengah alias UKM). Jika Anda berjalan dari arah timur, Jalan Pemuda, makin ke barat, ke alun-alun lantas ke Jalan Panglima Sudirman, Anda akan menemui bertebarannya usaha-usaha kecil. Makin ramai saja para bakul di kota ini. Bahkan, nasi kucing atawa angkringan makin gampang ditemui di mana saja. Padahal Pati belum punya atmosfer kampus seperti kota Solo, Yogyakarta, atau Jakarta. Perguruan tinggi yang sohor hanya sebuah akademi informatika, AMIK-AKI (Anda pun belum tentu pernah dengar namanya kan?), yang terletak di sebelah selatan gereja. Itupun kini nampaknya sedang lesu, tak seramai dulu pada tahun 1990-an.

Kondisi itulah yang dimanfaatkan oleh Pemda Pati. Yah lewat itu tadi: retribusi.

Saya sih membayangkan Pati tak hanya sebagai kota pedagang kaki lima. Kondisi ekonomi yang terlalu konsumtif suatu saat bisa runtuh. Saya membayangkan kota tercinta ini punya basis produksi. Praktis industri gede ikon kota ini baru hanya kacang: Garuda dan Dua Kelinci. Kota ini masih kalah dibanding Kudus atau Jepara yang sedang maju pesat.

Kalau perekonomian lokal kokoh, kan saya tak perlu jauh merantau ke kota lain. Kalau lapangan kerja di sini memungkinkan, bekerja di tempat asal toh bisa mencukupi kebutuhan dengan penghasilan lumayan. Idep-idep juga memajukan kampung halaman. Semoga satu saat angan ini jadi kenyataan…

One response to “Mengapa Pedagang Kaki Lima Marak di Pati

  1. salam kenal ya .. insyllh coba bakso pak laspin klo pulang kepati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s