UGM = Universitas Garuda Mas

Ini celetukan kawan saya -sekaligus kakak kelas saya di Jurusan Akuntansi UGM- Agus Supriyanto, yang kini jurnalis Tempo. Agus Selasa malam (18/12) menyelonongkan sebuah sms pada waktu saya asyik ngobrol di sekre AJI Jakarta.

Dalam pesan singkat itu, Agus menulis bilik berita Tempo lagi rame. Bahan ger-gerannya adalah Jurusan Ilmu Komunikasi kampus biru ini yang menerima dana penelitian soal objektivitas berita Tempo mengenai dugaan penggelapan pajak Asian Agri. “UGM jadi Universitas Garuda Mas,” tutur Agus.

Anda bisa mengintip konteks tulisan ini di halaman Mouth of the Month blog ini. Atau berita saya yang sudah dimuat di Hukumonline.

Agus adalah angkatan 1999 sedangkan saya angkatan 2000. Kami sempat aktif dalam pers kampus Fakultas Ekonomi UGM, EQuilibrium (sengaja kami menulis EQ dengan “q” kapital karena seringkali kami bikin akronim EQ untuk biro pers ini). Jadi, kami satu almamater dengan Metta Dharmasaputra yang mengaku dari UGM dalam seminar itu.

Meski gudangnya ilmu komunikasi, saya terakhir kali lihat produk pers mahasiswa ini fakultas hanya sebuah majalah tempel di dinding. Tak se-eksis dulu. Pers kampus yang masih bernafas (gabungan kata ini cukup jelas maknanya kan? tak semetafor penilaian peneliti yang ngaku dari UI itu kan? kalau masih ragu mengartikannya, artinya persma yang masih terbit, bukan papan nama doang) saat ini hanya bisa dihitung dengan jari: Balairung dan Bulaksumur Pos, EQ (bukannya nyombong), Ekspresi UNY, Arena UIN Sunan Kalijaga, dan lainnya.

Namun, “mereka masih ada aktivitas kok. Bikin seminar, buat leaflet, booklet, atau majalah setahun sekali,” ujar Ruis lewat obrolan telepon yang renyah, Rabu siang ini (19/12). Alumnus asal Sosiologi 2000 ini sempat bergiat di Sintesa. Kini dia jadi jurnalis Kontan.

Kampus kami hanya dibatasi oleh tembok yang memisahkan lapangan voli FE UGM dengan deretan kantin dan ruang kegiatan mahasiswa Fisipol UGM.

Penilaian saya pribadi, dengan kondisi seperti itu, di mana persma FISIP UGM yang bernama Sintesa “hidup segan mati tak mau”, sivitas akademika di sini kurang memupuk atmosfer jurnalisme (bisa jadi dugaan saya ini keliru -dan semoga memang keliru- karena bisa saja para mahasiswanya sibuk di persma tingkat universitas, misalnya). Padahal dengan lantang Kajur Ilkom Dr. Phil Hermin Indah Wahyuni berteriak, “Kampus ini melahirkan wartawan.” Sedangkan Hermin sendiri dalam wawancara dengan beberapa jurnalis, dia mengaku tak setitik pun punya pengalaman praksis jurnalistik.

Nampaknya tergesa-gesa, untuk menghindari kata “gegabah”, jika jurusan ini menilai lewat hasil penelitiannya bahwa berita Tempo kurang objektif. Tinjauan yang tekstual an sich akan menghasilkan simpulan yang kurang utuh juga. “Tidak adil. Ilmuwan pengen kita tidak bias tapi hasil penelitian mereka juga tak luput dari bias,” tutur Kang Rusdi.

Kata Kang Happy yang mantan wartawan, jurnalisme punya norma-norma tersendiri. Yang bisa saja berbeda dari norma versi kampus. Salah satu peneliti dari UGM pun dengan jumawa bilang, “peneliti memang beda dari jurnalis. Kami tak perlu dikejar deadline.”

So, memang ada jarak-jurang bukan? Jurnalisme punya seperangkat nilai sendiri yang beda nian dari dunia akademik yang seringkali tidak down to earth. “Dengan ilmu kita membangun peradaban,” sambung si peneliti itu masih berkhotbah.

“Makanya wartawan itu banyak baca…” timpal Prof Tjipta Lesmana, Ketua Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan.

Di akhir forum seminar itu, saya bersama Kang Rusdi memojok peneliti yang mengaku dari Universitas Indonesia (yang juga jadi pembicara seminar yang didanai Asian Agri itu). “Sampeyan tahu Mas, anak S1 yang di Tempo bisa dihitung dengan jari. Sisanya S2 dan S3,” repet Kang Rusdi.

Ups… banyak ngelantur. Bisa saja para akademisi yang merasa tak perlu jadi jurnalis untuk mengkaji jurnalisme itu mengecap pers (khususnya Tempo) penuh dengan bias serta bukan storyteller yang netral. Penuh gaya tajam dan menyerang (shrill and abrasive).

Tapi mereka lupa, tak sedikit jurnalis yang pandai, kritis, selalu menerapkan cek, ricek, kroscek demi memberikan informasi yang cover all sides.

Sebagai alumnus UGM, saya benar-benar kecewa. Para akademisi di sana rela didanai oleh sebuah perusahaan yang sedang disorot lantaran dugaan pidana korupsi untuk meneliti. Dan para peneliti itu (faktanya hasil penelitiannya memang begitu) membela perusahaan tersebut. UGM memang sudah menjadi Universitas Garuda Mas. Wahai mahapatih, silakan menangis di liang kubur…

Sms dari Ruis tiba-tiba menyeruak, “Dasar riset mereka apa yah? Kamu beruntung masih bisa gelisah…”

26 responses to “UGM = Universitas Garuda Mas

  1. FYI, Asian Agri merupakan bagian dari grup bisnis Raja Garuda Mas (RGM).

  2. Pingback: Perlunya Catatan Post-Research « My Thoughts, My Activism, My Life, Myself…

  3. Dengan hormat,

    Singkatan UGM = Universitas Garuda Mas, saya kira, adalah ide yang benar-benar sound bites. Mungkin ledekan ini bakal berumur lebih panjang dari dugaan penciptanya. Terima kasih untuk ide lucu ini.

  4. Saya juga ucapkan terima kasih pada para awak redaksi Tempo yang membuat ledekan ini (whoever). Agus lalu menyampaikannya lewat pesan pendeknya kepada saya. Thx juga ya Gus…

  5. Rekotr Universitas Garuda Mas Prof Tjipta Lesmana. Hehehe..

  6. Setuju… Prof Tjipta adalah rektor visioner mampu melihat isi benak wartawan. “Dengan golok di tangan saya bedah dada wartawan supaya tahu apa motivasi nulis berita dan sapa yg nyuruh… ah Metta tai kucing,” demikian pidato sang “rektor” di forum umum… sungguh hebat…

  7. Luar biasa ilmuwan kita ya. Tp satu hal, jika dizalimi pers, tenang. Kini kita tahu kemana harus mengadu. Datanglah ke sana. Mereka welcome. Tapi, ada baiknya, bawalah plang “Terima Pesanan Sesuai Keinginan ”. Siapa tahu mereka kelupaan memasangnya di pintu kamar kerja mereka.

  8. Yah kan mereka datang dari jurusan ISIP, Institut Siap Ikuti Pesanan…

  9. “Bukan Asian Agri yang menawari. Justru kami yang menawarkan penelitian ini… Kalau ada wartawan yang tak suka amplop, saya malah suka ‘amplop dan isinya’.”

    ckk…ck…ck… begini nih! kalo ilmuwan lupa sama habitusnya

    -salam kenal mas Yacob-

  10. Salam kenal juga Mas Rezco. Gaji jadi akademisi kecil kali. Hingga tergiur kayak gini…

  11. Salam kenal…saya juga alumni Komunikasi UGM 1999. Topik Universitas Garuda Mas sungguh menarik sekaligus mengagetkan, seperti petir di siang bolong. Sudah begitu parahkah idealisme para peneliti dari UGM? Tapi gaji dosen kan memang kecil…serba salah deh.

  12. Idealisme akademisi sudah parah? Setidaknya ada beberapa perusahaan di meja hijau yang memanfaatkan hasil penelitian (yang mereka sponsori) untuk berkelit dari tuduhan: Newmont, Lapindo, Temasek vs KPPU… What can I say for the such facts?

  13. saya paling geli dengan komentar Prof. Tjipta “kami disatukan dengan ilmu dan metode”…aduh, blio lupa kali ya, penggunaan ilmu dan metode itu pun tdk bebas nilai, tidak bebas kepentingan. Blio-nya juga bilang metode yg dipakai sudah bagus, saya setuju terutama dengan metode critical discourse itu. Tapi, kok mereka gak doing critical ya, heran deh. Bukankah dengan metode yg dr namanya saja sudah “critical”, mereka mustinya bisa menjelajahi opposing interests di balik sebuah texts. Tapi jadinya kok malah berlawanan dgn spirit metodenya ya..heran deh….

  14. Maksudnya, kami disatukan oleh sponsor… hehehe…

  15. Kredibilitas UGM dan UI bisa Jatuh

    The comment is moderated by author. It is removed to be a separated article on the blog. To read it, please click https://yacobyahya.wordpress.com/2008/01/03/kredibilitas-ugm-dan-ui-bisa-jatuh/

  16. Pingback: Kredibilitas UGM dan UI bisa Jatuh « My Thoughts, My Activism, My Life, Myself…

  17. dududuh,,,,ribut apa sih mas-mas ini?
    ooh,,,masalah komUGM ma Asian Agri to?
    alah alah,,,hari gini mas masih aja ngobrolin itu!
    yang lebih heboh ada mas,,,

    tuu,,,agnes monica dituduh jadi orang ketiga putusnya bams dengan pacarnya yang sekarang^^

  18. didot kartomarmo

    saya lulusan Ilmu komunikasi UGM juga…. Tapi nglamar jadi wartawan kemana-mana ga ketrima, selalu aja dapat kerjaan jadi tukang bikin animasi. Gimana yah kalo mata kuliah jurnalistik, pers dan lain-lainnya diganti mata kuliah animasi. Animasi lebih menghasilkan duit dibanding nulis lho…. he..he…

  19. @dopp: iya nih. berita gosip emang lebih sip daripada yang serius-serius.

    @didot: emang gak ada mata kuliah animasi? mending gak usah ada. soalnya, kalo udah jadi mata kuliah, pola pikir kita akan terkerangka bahwa mata kuliah ini bakal menjanjikan profesi yang bergengsi. buat apa bondong2 daftar jurusan akuntansi, kedokteran, jurnalistik (tepatnya publisistik jadi pi-ar), dan lain2. banyak yang masuk jurusan itu, lulus2 malah banyak pesaing waktu cari pekerjaan. mending cari skill yang memang masih jarang orang yang bisa, dan itu tidak didapat di bangku kuliah. kayak sampeyan yang lebih makmur daripada wartawan itu. hehehe…

  20. didot kartomarmo

    Ralat…aku ga pernah bilang aku lebih makmur drpd wartawan lho… Untung aku bukan pejabat yang lagi diwawancarai. Kalo jadi pejabat , salah ngomong aku bisa disuruh lengser nih… bahaya….

  21. Gak perlu diralat, soalnya yang ngomong makmur itu saya, bukan sampeyan, hehehe…

  22. Salam kenal,Pak.
    Kebetulan lg blogwalking nyari2 keyword Ilmu Komunikasi UGM. Eh,mlh tdampar di sini.

    Iya,mslh dg Tempo ini memang “menggegerkan”. Tp,entah kenapa di internal kampus tdk pernah dibicarakn oleh dosen2 sama sekali. Jdnya,saya mengerti mslh ini mlh dari berbagai pemberitaan di media.

    Oh ya,Pak, sekedar info, Sintesa skg msh rutin terbit kok. Minimal sebulan sekali.

  23. Zulfi,
    Makasih atas update infonya soal perkembangan Sintesa. Persma yang sudah kesohor ini semoga tak pernah mati bergiat. Salam buat semuanya.

  24. Pingback: Sektor Media, Anak Bungsu Gerakan Buruh « My Thought, My Activism, My Life, Myself

  25. mohon maaf ada yang bisa bantu saya gak? saya cari program olah data untuk statistik milik prof. sutrisno hadi. kalau ada kasih tau saya ya dimana perolehnya n caranya. untuk buat skripsi soalnya. dah pusing gak kelar-kelar. mohon di balas di Email saya. makasih sebelumnya

  26. program olah data sps 2000 sutrisno hadi ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s