Perlunya Catatan Post-Research

Ada satu persamaan yang perlu dipegang teguh oleh tiga profesi: peneliti, auditor, dan jurnalis. Mereka harus menulis laporan dengan jujur.

Saya lulusan Akuntansi Universitas Gadjah Mada pada Agustus 2004. Masih berhak atas gelar Akuntan (Akt) dari Departemen Keuangan. Sertifikatnya masih rapi saya simpan. Sayang, gelar itu tidak (belum?) saya pakai hingga kini. Lah wong profesi saya jurnalis kok.

Frankly, saya pun kurang mumpuni bidang audit. Audit I dapat B, Audit II dapat C, dan Audit Internal dapat A-. Namun saya punya kolega yang tersebar di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Departemen Keuangan, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), kantor akuntan publik swasta, konsultan keuangan, serta kenalan beberapa dosen dan mahasiswa akuntansi. Kalau ada yang mengganjal, dengan senang hati saya bisa berkonsultasi dan bertanya pada mereka.

Saya juga bukanlah menguasai perihal riset. Metodologi Penelitian dapat B, Skripsi juga B, Metode Kuantitatif untuk Pengambilan Keputusan dapat A, Statistik I dapat A, Statistik II dapat A, Matematika I dapat A, dan Matematika II juga A.

Dengan dangkalnya pengalaman tersebut, saya belum bisa bersombong ria kayak Prof. Tjipta Lesmana yang mengaku-ngaku tahu seluk-beluk jurnalisme sekaligus mengawinkannya dengan bingkaian akademik. “Saya menulis sejak 30 tahun yang lalu,” kumandangnya dalam sebuah seminar.

Namun saya juga belum tentu punya standar cupu. Indeks Prestasi Kumulatif saya 3,56 atawa cum laude. Afterall, waktu SMU dulu, saya dua kali juara satu lomba akuntansi. Saya sudah menulis opini untuk Kompas Jawa Tengah-Yogyakarta sewaktu mahasiswa (tahun 2003).

So, biarlah saya menuangkan pikiran soal audit, riset, dan jurnalisme di bawah ini, dengan takaran pengetahuan yang saya miliki. Toh ini blog milik saya sendiri. Hehehe…

Saya menangkap air muka yang berubah dari wajah para peneliti Jurusan Komunikasi UGM. Kala itu Metta Dharmasaputra memaparkan behind the scene berita Asian Agri. “Kami harus menelusuri data sebanyak sembilan truk dengan konfirmasi yang berlapis. Ada tiga lapis. Pihak Asian Agri juga kami wawancara namun komentar mereka minim,” tutur penulis berita investigatif tersebut.

Peneliti kampus biru itu menilai (berdasarkan teks berita) berita ini penuh dengan bias, terlalu tendensius, tajam dan abrasif, sehingga belum menemui standar profesional jurnalisme.

Seusai mendengarkan paparan Metta, mereka bisa agak ngeh. Itu pun masih dengan balutan “gengsi akademisi” yang dipertahankan. “Penelitian kami kan tak sejauh menelisik cerita di balik berita. Kami hanya meneliti dari teks berita yang sudah dimuat dalam periode tertentu,” ujar Ketua Jurusan Dr. Phil Hermin Indah Wahyuni.

Padahal, dalam sesi sebelumnya, Septiawan Santana Kurnia sudah mengingatkan metode tekstual seperti ini banyak kelemahannya. Septiawan bukan orang awam di dunia jurnalisme. Dialah penulis buku wajib baca (setidaknya direkomendasikan baca) mahasiswa jurnalisme/komunikasi/publisistik yang berjudul “Jurnalisme Investigatif” dan “Jurnalisme Sastrawi”. Namun pandangan Septiawan dianggap angin lalu oleh para peneliti yang menguasai forum (hanya) hingga menjelang akhir seminar ini.

Jika saja mereka sejak awal menyertakan pernyataan Metta dan Tempo sebagai variabel, tentu hasilnya akan berbeda.

Post-audit notes

Dalam bidang audit laporan keuangan, si auditor akan mengeluarkan laporan pemeriksaan. Jika auditee (pihak yang diperiksa) adalah perusahaan publik, laporan keuangan tersebut harus dipublikasikan melalui iklan di media massa. Sama dengan peneliti, auditor akan mengeluarkan opini sebagai hasil atau kesimpulan pemeriksaan.

Pendapat paling bagus opini wajar tanpa pengecualian (unqualified). Lantas ada pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan; opini wajar (qualified); tidak wajar (adverse); hingga yang terburuk tak mengeluarkan pendapat (disclaimer). Sebenarnya ada pendapat yang tak lazim dan jarang: opini sepotong-sepotong (piece-meal).

Audit adalah kegiatan pada titik waktu saat ini untuk memeriksa data pada masa lampau. Laporan audit akan disajikan beberapa bulan kemudian. Jika sepanjang masa pemeriksaan ini ada peristiwa yang mengakibatkan perubahan besar yang mempengaruhi laporan keuangan secara material, auditor harus menyertakannya dalam catatan pasca-audit. Siapa tahu pergeseran keuangan ini bisa mempengaruhi opini, bahkan mensyaratkan harus meralat opini.

Sama halnya dengan jurnalistik, jika ada fakta baru yang terungkap, padahal berita sudah terlanjur tayang, bukankah ada mekanisme ralat atau hak jawab?

Di bidang penelitian ini, setidaknya harusnya ada catatan post-research. Kalau mereka terlalu gengsi meralat hasil riset ini, mereka wajib mencantumkan pengakuan Metta yang sayangnya dilontarkan seusai masa penelitian ini.

Tulisan lainnya:

UGM = Universitas Garuda Mas

Mouth of the Month

Peneliti UGM dan UI: Berita Tempo Menabrak Kode Etik berita di Hukumonline

Siapa yang Tendensius, Tempo atau Ilmuwan? dalam blog Rusdi Mathari

3 responses to “Perlunya Catatan Post-Research

  1. Sip Cob. Awakmu isik luwih wesik soko Tjipta Lesmana, sing aku kruwu sering “bikin” masalah dengan komentar-komentarnya termasuk komentar dia tentang korban Kerusuhan Mei 1998.

  2. Amin Mas. Mugo2 awake dhewe pancen tetap resik tanpa kena goda bikin pernyataan2 bombastis kayak si profesor…

  3. Pingback: Bahasa Perlokutif, Haramkah? « My Thoughts, My Activism, My Life, Myself…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s