Takar Film The Departed: Tak Sememukau Infernal Affairs

Brad Pitt punya mainan baru. Kini dia lebih banyak di balik layar sebagai produser. Dengan bendera perusahaan produsen film Plan B, suami Angelina Jolie ini sudah menggawangi beberapa judul besar. Salah satunya, The Departed, penyabet Oscar yang menyadur film mandarin Infernal Affairs (Tonny Leung vs Andy Lau).

Sayangnya, nama besar Academy Award belum cukup menandingi peran watak Tonny dan Andy. Duet (tepatnya duel) Leo DiCaprio dan Matt Damon masih biasa-biasa saja.

Departed menyuguhkan adegan banyak darah dan umpatan serta seks. Wajah imut Leo versi Titanic kini berganti dengan garis muka yang keras, kaku, serta kulu. Mungkin hanya peran watak Leo dan Jack Nocholson (yang sukses melakoni peran penjahat Joker dalam Batman) yang perlu diacungi jempol.

Leo memerankan polisi intel yang menyusup ke barisan triad pimpinan Jack. Dalam Infernal Affairs, peran itu melekat pada Tonny Leung. Sebaliknya, Matt adalah polisi yang juga anak asuh Jack. Dia sekaligus informan penting buat Jack sehingga triad ini bagai belut. Sejak lama tak bisa polisi menangkapnya. Bahkan sekaligus Jack berkedok pemeluk agama yang dermawan. Dalam Infernal Affairs, Matt adalam Andy dan Jack adalah Eric Tsang. 

Di akhir cerita, baik Matt, Jack, Leo mati. Jack ditembak oleh Matt demi mendongkrak karir pribadinya (maklum, Jack adalah buron kelas kakap -polisi mana pun yang menangkapnya bakal menyandang gengsi dan jaminan karir). Sedangkan Leo mati saat hendak mengembalikan identitasnya yang dihapus oleh Matt sebagai polisi (persis adegan di Infernal Affairs, tertembak kepalanya di lift). Dan yang agak menyimpang dari pakem Infernal, Matt juga akhirnya mati, di tangan Mark Wahlberg, polisi disersi yang karirnya disalip Matt.

Melakoni tokoh rubah berwajah dua nampaknya sulit bagi Matt. Matt masih lekat sebagai jagoan yang macho seperti seri film Borne. Tak pantas memerani watak yang mendua. Walhasil, Matt masih kalah jauh dari Andy Lau untuk soal ini.

Film ini juga penuh adegan kekerasan, peluru menembus kepala. Penonton yang bertubi-tubi melihatnya bakal terkikis dan tumpul rasa kepekaannya. Harusnya film ini juga mampu menyentuh emosi pemirsa seperti versi aslinya dalam Infernal. Ini bukan urusan polisi menangkap penjahat dan bromocorah penguasa dunia gelap.

Lebih jauh dari itu, film ini menggambarkan pergelutan batin dan watak seorang polisi yang disusupkan ke dalam triad selama bertahun-tahun. Dia mengawasi bos besar yang jadi target utama buronan. Tapi dia juga bergaul dan berkawan dengan sesama bawahan penjahat yang juga punya suka-duka. Dia harus melupakan karir karena konsekuensi sebagai penyamar, dia tak punya identitas tetap. Jati diri sebenarnya hanya dipegang oleh atasan, yang satu saat kalau tangan jahil menyergap, data identitas dia bisa dihapus begitu saja dari berkas karyawan.

Sementara di lain sisi, ada polisi karir yang selalu di depan meja, yang mendapatkan angin segar promosi jabatan. Namun ternyata dia sendiri adalah tikus yang ditanam oleh bos triad itu sendiri. Pergolakan dalam hati yang seperti inilah yang kurang berhasil dicuatkan oleh Departed.

Hati penonton juga jangan harap jauh tergerak lantaran tak ditingkahi oleh alunan lagu yang mendayu seperti dalam Infernal. Departed begitu kering suara dan nada yang mengharukan.

Tokoh Matt yang mati di akhir film tampaknya sebagai pertanda bahwa film ini tak dapat dikembangkan lagi menjadi sequel-sequel ke depannya. Dalam Infernal, Andy Lau, si polisi-penjahat itu, masih hidup. Dalam Infernal Affairs 3 (flashback beberapa bulan sebelum Tonny meninggal serta kelanjutan setelah Tonny meninggal. Seri ketiga ini memang punya alur campur-aduk antara kilas balik dan masa sesudahnya), Andy dimutasi ke jabatan yang sepi, dan muncullah polisi muda cemerlang lainnya, Leon Lai. Yang naasnya, di akhir trilogi ini, Leon juga harus mati kepalanya tertembus peluru oleh Andy. (Sedangkan seri kedua adalah prequel di kala Andy dan Tonny masih muda -diperankan oleh Edison Chen dan Shawn Yue).

Walhasil, embel-embel penyabet Academy Award ataupun Oscar belum tentu jaminan mutu menandingi film mandarin. Ternyata Holywood bukan segalanya…

One response to “Takar Film The Departed: Tak Sememukau Infernal Affairs

  1. Yups….. setuju sekali kalo ternyata film hollywood bukan segala-galanya. Lebih yahud nonton the departed dari aslinya alias internal affairs. Lebih tegang, lebih mengaduk-aduk rasa. Hollywood lagi kekurangan ide kali… sampe beberapa film asia dibuat versi Amerikanya ( baca:hollywood), seperti The eye, Trilogi The ring,ju-on…. Horey…. Hidup film Asia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s