Si Jenaka Kini Telah Tiada

Komedian yang dibesarkan oleh grup lawak Srimulat, Basuki, baru saja meninggalkan kita semua.

Saya hanya pernah sekali menemui dan wawancara dia. Itu pun wawancara yang tidak dimaksudkan (intended) untuk dimuat. Hanya obrolan biasa belaka. Meskipun remeh, tetap berkesan bagi saya.

Kala itu, medio 2006. Saya masih bekerja di Mingguan Ekonomi dan Bisnis Kontan. Waktu itu saya hendak liputan untuk Rubrik Tokoh. Saya lagi mengejar Puan Maharani, putri mantan presiden Megawati Soekarnoputri.

Ketika itu digelarlah pertunjukan wayang orang di Gedung Kesenian Jakarta, seberang Pasar Baru. Kalau dari Jalan Juanda, sebelum ke arah Gedung Badan Pusat Statistik (BPS). Angle liputan kala itu, Si Puan yang ikut main wayang. Yah unik saja. Orang yang tidak bergelut di bidangnya turut serta meramaikan kesenian ini. Awalnya saya usulkan pemetik harpa Maya Hasan. Sayang si doi berhalangan hadir karena alasan sakit sehingga saya belokkan arah mengincar Puan.

Ditemani fotografer Kontan Carel, saya blusukan ke ruang rias –pria, tentunya. Sekadar iseng saja. Rupanya di sana ada Basuki yang sedang bersiap dirias menjadi salah satu Punakawan. Dengan sosoknya yang pendek dan berperut bulat, Basuki pantas untuk peran Gareng atau Bagong.

Punakawan adalah empat serangkai penasihat Pandawa yang terdiri dari sang ayah Semar dan tiga bersaudara Bagong, Gareng, dan Petruk. Dalam wayang versi Jawa Barat, Bagong disebut Cepot. Punakawan seringkali muncul pada sesi goro-goro atau lelucon. Keempat rakyat cilik itu selalu membuat kelucuan namun padat berisi sentilan dan kritik.

Nampaknya mencairkan ketegangan sebelum tampil merupakan hal yang mudah bagi seniman kawakan itu. Dia isi waktu di ruang rias dengan menyanyi dan menghisap rokok mild.

“Akhirnya aku balik lagi ke wayang orang Mas,” cerita dia santai kepada saya yang justru masih kikuk.

“Sebelum jadi pelawak aku dibesarkan oleh rombongan wayang wong. Aku pindah dari Solo ke Semarang,” sambungnya sambil berdendang, “Semarang kaline banjir… (Semarang sungaina banjir)” Basuki mengaku sudah sekian lama dia tidak main wayang wong lagi. Kesempatan kali ini sangat berharga buatnya. Semacam “kerinduan yang terobati” terpancar dari air muka Basuki, meski dibungkus tebalnya bedak putih dan coretan tebal merah gincu (dandanan khas Punakawan).

Di Srimulat, dia termasuk pentolan. Dia generasi seniman setelah masa Gepeng dan ayahnya. Seperti rahasia umum, guyonan Srimulat selalu menghadirkan dua peran. Pertama, pihak yang selalu nggojlogi, yang posisinya di atas karena sering ngerjain. Gembongnya yah Basuki, Mamiek, Nunung, Eko itu. Sedangkan posisi yang di bawah selalu menjadi korban usil kawannya. Contohnya yah Gogon, Tukul (yang ini sukses dengan acara Empat Mata), Tatang anaknya Gepeng, Tessy, Kadir, Doyok.

“Ada Bang Yos loh Mas. Dia ikut nonton,” ujar saya sekenanya berusaha menyambung-nyambungkan obrolan. Kala itu, Sutiyoso masih menjadi Gubernur Jakarta.

“Makanya itu aku lagi mikir sindiran apa yang pas buat dia. Kalau kita singgung masalah banjir gimana,” tuturnya kepada salah seorang temannya yang juga berperan sebagai salah satu Punakawan.

Dari pertemuan singkat itulah, saya menilai Basuki adalah seniman tulen. Lewat seni, dia teguh mempertahankan warna hidupnya. Lewat seni, dia menyentil kesadaran penguasa dan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s