Satu lagi Bukti, Sepak Bola Indonesia Memang Tempe

Urawa Red Diamonds dengan gagahnya takluk dengan skor tipis 1-0 dari raksasa Italia, AC Milan hari ini. Urawa merupakan jawara Liga Champions Asia 2007 dan Milan adalah juara di kontinen biru, Eropa.

Dalam perjalanannya menuju tangga teratas penguasa benua kuning, Urawa justru sempat ditahan imbang oleh klub asal Indonesia, Persik Kediri. Sayang, kehebatan klub Indonesia tahun depan tak dapat kita saksikan. Sekali lagi, klub merah putih absen.

Entah lelucon edisi yang ke berapa, masyarakat Indonesia yang haus akan prestasi, kalau tak semua setidaknya saya, harus tersayat hatinya menyaksikan polah konyol persepakbolaan kita.

Lantaran alasan jadwal kompetisi yang molor, Indonesia dicoret dari pendaftaran Liga Champions Asia 2008. Kompetisi dua wilayah jelas membuat jadwal molor dan melelahkan. Segerbong dampak buruk ikutan (opportunity loss) jelas menanti. Pemain lelah. Ogah-ogahan dipanggil tim nasional.

Padahal, dalam liga manapun, idealnya memang jumlah klub sedikit, idealnya 20 tim seperti yang lazim dilakukan oleh negara Eropa, dengan jadwal yang sederhana. Tak perlu playoff, cukup juara ditentukan dari pemuncak klasemen (table). Kalaupun ingin membuat sistem playoff, tirulah Liga Jepang (J-League) atau Liga Argentina. Juara paruh musim pertama (apertura) akan diadu dengan juara setengah putaran terakhir (closura).

Indonesia masih menghindar dari format kompetisi sejati. Sempat kita mengenal itu pada tahun 2003 namun kembali lagi ke bentuk dua wilayah. Begitu banyak tim yang berbondong-bondong gagah-gagahan tampil di divisi utama. Namun cekak persiapan.

Pertama, hanya menyusu kas APBD. Sudah berpuluh tahun praktek ini dilakukan. Celakanya, tidak dibarengi dengan pembangunan jangka panjang. Duit selalu habis untuk beli pemain asing yang kurang mampu mentrasfer pengetahuan dan kecakapan kepada pemain lokal. Hingga kini, tak ada klub yang memiliki stadion, tim yunior, serta sekolah sepak bola yang memadai.

Kedua, sistem degradasi ditiadakan. Tak ada tim yang terlempar ke kasta terendah. Justru hendak menambah kuota tim yang menari di Liga Utama. Suasana kompetitif tak dirangsang sama sekali.

Jelas saja kondisi manja seperti ini bukanlah modal kokoh untuk mengarungi kompetisi internasional. Sudahlah. Sepak bola kita memang bermental tempe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s