Kalau sudah tak Cinta lagi, Mengapa Marah-Marah Kehilangan?

Kasus “klaim” tarian tradisional Reog dan lagu daerah Rasa Sayange oleh Malaysia harusnya membuat kita sadar. Inilah indikasi awal, kelak, kita harus bertandang ke negeri asing hanya untuk menikmati kesenian asli milik kita sendiri. Buah dari tidak seriusnya kita merawat kekayaan bangsa.

Apa yang dilakukan kaum muda Indonesia saat ini, kecuali pamer harta, pamer materi, pamer keindahan fisik dan duniawi, sambil mendendangkan lagu-lagu pop bertema cinta (yang ngaku-ngakunya nge-rock)?

Apakah kita sudah merawat budaya tradisional sendiri? Cobalah merenung kapan kita terakhir kali mendendangkan lagu Rasa Sayange? Kapan terakhir kali kita mengapresiasi dan setidaknya menonton, jika tak mau berlatih menekuni Reog? Kapan terakhir kali kita mengenakan kebaya? Kapan terakhir kali kita belajar aksara jawa? Kapan terakhir kali kita belajar tembang macapat?

Berpanjang-panjang tahun yang lalu? Atau bahkan memang tidak pernah melakukannya sama sekali?

Emosi dan atensi kita, dengan sedemikian parsialnya oleh informasi berita, telah disedot hanya untuk pertentangan kanak-kanak seperti ini. Dengan jumawa, kedua pihak Indonesia-Malaysia, tak mau ngalah dan sama-sama merasa benar. Meskipun akhirnya sikap negeri jiran yang menginjak-injak hak tenaga kerja kita akhirnya melunak.

Sekarang saya hendak membuat analogi. Kita punya maestro keroncong semacam Gesang dan Waljinah. Adakah yang tahu, keroncong datang dari Portugal. Adakah Luis Figo atau Cristiano Ronaldo protes atas kecintaan orang Indonesia terhadap keroncong?

Islam lahir di tanah Arab. Adakah orang Arab yang marah ketika kini Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia?

Tanah kita juga penghasil tembakau kelas dunia. Adakah orang Indian yang marah karena hasil bumi kita?

Ludruk dan ketoprak juga subur di Suriname (yang dibawa oleh orang Jawa), dan dikenal juga di Belanda. Adakah kita marah atas hal ini?

Malaysia sebenarnya tidak “terlalu main klaim”. Negeri jiran ini hanya menjelaskan bahwa di daerahnya memang ada, sekali lagi, memang ada, kesenian semacam ini yang tumbuh subur. Celakanya, pihak pemerintah Malaysia tidak menjelaskan dari mana datangnya. Duta besar Malaysia untuk Indonesia hanya menjelaskan secara lisan bahwa kesenian ini memang dibawa oleh orang Jawa yang merantau ke sana.

Kesenian, sebagai produk cipta, rasa, karsa, dan karya manusia atawa budaya, serta juga agama dan tata nilai lainnya, adalah hal yang bersifat diaspora. Bisa menyebar ke mana saja dari dan oleh serta untuk dinikmati siapa saja. Tak heran jika wayang juga selain muncul di India, juga subur di Jawa.

Masalahnya, ketika kita tak menyayangi dan merawat kesenian dan kebudayaan kita sendiri, ketika pihak lain justru memunculkannya, lantas kenapa mencak-mencak? Dalam hal ini saya tak membela negeri Petronas itu.

Ah, sudahlah. Berhentilah memaki dan menghujat. Segeralah merawat mutiara budaya kita, selagi masih ada di genggaman kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s