Sepak Bola Indonesia, Masih Mental Tempe

Kering kerontang sudah dukungan dan harapanku padamu. Apa memang kau tak layak diharapkan?

Kini kita hanya bisa menonton final SEA Games Thailand vs Myanmar.

Myanmar, negeri yang belum mengenal demokrasi, yang dipimpin oleh seorang jenderal diktator Than Shwe yang takut pada seorang perempuan lemah bernama Aung San Suu Kyi, yang pemimpin negerinya selalu percaya pada klenik dan nasihat dukun untuk berpindah ibukota ke tengah belantara, harusnya bisa kita kalahkan.

Bagaimana tidak? Sekitar 30 menit sisa pertandingan kita sudah melawan 10 orang akibat terusirnya salah satu pemain. Banyak peluang muntah dan mentah terbuang percuma. Myanmar toh sebelumnya dilumat Thailand. Setidaknya kita bisa mengalahkannya. Sayang, hasil akhir hanya kaca mata.

Akibatnya, kita tersingkir secara menyakitkan. Tak ada lagi kata-kata yang pantas yang seringkali dipaksakan untuk pantas didengar, misalnya kalah terhormat, kecuali memang kita bermental tempe. Inikah hasil dari gemblengan nglencer ke Argentina?

Pasukan muda kita rupanya tak belajar dari mental pengurus yang tak pernah menyerah. Yah, meskipun dituding korup, tak becus ngurus, toh para pengurus selalu sibuk hingga tetes keringat terakhir mempertahankan jabatan mengurus.

Ketentuan FIFA pun dilawan. FIFA menulis aturan, seorang ketua pengurus badan sepak bola harus steril dari kasus pidana apalagi korupsi. Nampaknya tak berlaku bagi si cukong gula alias juragan beras.

Tim-tim lokal juga tak kalah ngototnya. Mereka akan serentak bersolidaritas boikot kompetisi jika susu memanjakan dari tetek APBD distop. Tahun ini, pun tak ada degradasi. Sistem kompetisi tak bersemi dengan semestinya.

Tak ada klub yang sehat keuangannya. Punya saham yang dijual ke publik, punya pendapatan dari penjualan merchandise, punya media semacam Real Madrid TV atau MU TV, punya sistem sponsorship yang matang, dan lain sebagainya. Hingga kini, tak satupun klub yang punya akademi pembinaan bibit muda yang memadai. Tak satupun klub yang punya stadion megah. Segala dana miliaran itu habis ludas untuk transfer dan gaji pemain asing yang tak bisa mentransfer kecakapannya demi kebangkitan prestasi lokal.

Indonesia, Indonesia. Bukan Thailand yang menang. Bukan pula Myanmar yang beruntung. Bukan Indonesia yang apes (untuk kesekian kalinya). Melainkan, Indonesia memang sudah kalah sebelum pertandingan usai.

Melihat prestasi yang selalu terjun bebas, tak relevan lagi kita bernostalgia pernah menahan imbang Rusia (kala itu Uni Sovyet), yang kini menjungkalkan Inggris dari keramaian Euro 2008.

Negara berkembang (dan miskin, bahkan) semacam Brazil, Argentina, Kolombia, Cile, Peru, Kamerun, Togo, Pantai Gading, Senegal, Nigeria, dan lainnya masih memiliki nyala harapan di setiap dada rakyatnya. Mereka bisa melepaskan sejenak beban kehidupan dengan mendukung tim nasional di kancah Piala Dunia. Sedangkan kita? Sudah miskin, minim prestasi lagi.

2 responses to “Sepak Bola Indonesia, Masih Mental Tempe

  1. Pingback: Satu lagi Bukti, Sepak Bola Indonesia Memang Tempe « My Thoughts, My Activism, My Life, Myself…

  2. Kalau mau lihat yang mental baja, MU contoh terbaik.

    Cerita selanjutnya, klik aja link di bawah ini :
    http://tobadreams.wordpress.com/2008/05/12/manchester-united-juara-chelsea-harus-belajar-sportif/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s