Alun-Alunku kok Diplester Serampangan sih…

Di sinilah aku pernah mengukir berbagai gol dengan beragam gaya: sundulan kepala, baik sambil melompat maupun meluncur menjatuhkan badan, tendangan salto, baik bicycle memunggungi gawang maupun tendangan gunting dari arah samping, tendangan first-time, baik hypervolley maupun setengah volley atau sepakan kura kaki, atau gol dari gocekan melalui beberapa pemain lawan.

Ah kini tempat itu semakin hancur tak tertata karena tarik-tarikan kepentingan ekonomi kelas bawah dengan rerancang tata kota yang semrawut. Alun-alunku “hilang” sudah.

Jangan anggap saya ini pemain bola beneran loh yah. Itu hanya sepenggal kenangan masa sekolah dulu. Saya sering bermain dengan kawan-kawan sekampung di alun-alun. Hari sore memang nikmat untuk melepas beban berlari riang di atas rumput hijau yang tebal, takkan sakit dan berdarah jika tubuh terjatuh karena memang empuk dan memanjakan kaki.

Kadangkala kami tantangan dengan kampung lain. Kadang menang, kadang kalah. Kadang juga bermain campuran dengan orang dewasa.

Minggu pagi atau hari libur pagi setelah saya menyapu halaman rumah adalah masa terindah karena mentari hangat menyusupi kulit kami hingga memuntahkan keringat sehat.

Masa-masa hujan, lebih nikmat lagi. Lumpur dan rumput selalu berpadu menghiasi pakaian kami. Alhasil, Ibu ngomel sepulang saya ke rumah. “Iya iya, gak ngulangi lagi,” janji saya setengah sebel. Tapi toh lanjut terus. Dasar.

Kini tanah permai itu berganti menjadi ranah yang kasar, berdebu, berkerikil. Maklum saja, beberapa tahun ini alun-alun, karena konsekuensinya sebagai pusat kota, kayak gula yang dikerubuti semut pedagang kaki lima. Langkah dan lapak mereka membajak rumput itu.

Banyak amat yang mereka jajakan. Mulai dari pernak-pernik mainan anak-anak, makanan yang menghasilkan limbah buangan yang lumayan banyak, pakaian dan poster, kaset bajakan, sarana bermain anak-anak: luncuran dan mandi bola, ada juga mobil-mobilan pakai batu batere gede, bahkan becak naga alias odong-odong yang sering menembus gang-gang sempit tanah Betawi ada juga di sini.

Bukannya saya anti wong cilik. Tapi seharusnya ditata rapi. Saya sudah tak dapat lagi menikmati lapangnya samudra wilis itu. Sekali giring bola ah terantuk batu, tertusuk kerikil. Kayaknya kini mulai jarang anak yang bermain bola di alun-alun. Atau bahkan tak ada?
Dinas Tata Kota mungkin menangkap juga masalah ini. Plester paving tepi alun-alun diperluas. Mungkin untuk mewadahi pedagang kaki lima yang makin berjibun. Lahan rumput, akibatnya, makin sempit. Eh, tapi kok… ladalah, di tengah, gundukan tanah menggunung. Mau gali apa? Mungkin saja mau bikin paving yang membelah diameter alun-alun sebagai lahan pejalan kaki, kayak alun-alun di Malang. Tapi, melihat segunduk tanah yang bikin pemandangan makin semrawut, saya sangat kecewa. Lagipula alun-alun Malang atau Jepara lebih luas daripada punya Pati.

Hilang sudah kenangan indah sejalan dengan makin hilangnya ciri asli alun-alun itu…

Harusnya:

1. Perbanyak tong sampah supaya mendidik masyarakat dan pedagang membuang sampah dan limbah pada tempatnya. Terlalu banyak seruan kosong dari pemerintah jaga kebersihan, akan mendenda orang yang buang sampah sembarangan, tapi kok gak pernah menyediakan sarana tempat di mana harus buang sampah.

2. Jangan hanya memanfaatkan keberadaan pedagang kaki lima sebagai sumber pendapatan pemda dengan mencatut retribusi. Keberadaan mereka perlu ditata rapi. Memang benar, mereka adalah sumber ‘ekonomi bayangan’ yang menghiasi, diperkirakan, lebih dari 90% pendapatan nasional.

3. Alun-alun adalah tempat penting untuk mempertahankan ruang hijau dan paru-paru kota. Jangan gusur lahan rumput itu.

Warga cilik kayak saya, berteriak kayak gini, didengar sukur, gak didengar, memang sudah biasa.

3 responses to “Alun-Alunku kok Diplester Serampangan sih…

  1. hi, wong pati…. q juga pati asli. Born n grow up in pati, really miss my hometown so much. Desa blaru rumahku, parent and sibling n relatives are there. want to know more how~s that place now, will u fill in more 4me??????? pengen temenan nich…tak tunggu ya.

  2. Sekarang alun alun malah tambah indah bro, aku kagum banget. Taman taman yang tertata begitu indah, di hiasi pula penataan lampu hias yang begitu indah, sungguh alun alun tulungagung berbeda dengan alun alun yang dulu, pedagang kaki lima yang dulu semrawut di sekitar alun alun sekarang sudah tidak terlihat lagi, sungguh indah alun alun kotaku.

  3. junia dan jarandrock,
    iyah, alun-alun adalah pusat kota. bersih-kotornya, rapi-semrawutnya alun2 bisa jadi cerminan kota kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s