Detik.com Kini Pakai Hyperlink

Inilah keunggulan media online dibanding nawala cetak, radio, maupun televisi. Dalam ruang yang ringkas (concise), media online dapat membuat jendela informasi seluas mungkin.

Silakan simak situs berita yang mapan di negeri ini, Detik.com.  Ada hal yang baru. Dalam batang berita, kini situs tersebut juga menawarkan fitur hyperlink atawa pranala atau tautan alias kaitan.

Hyperlinking sudah diterapkan oleh “adik” Detik, Hukumonline, beberapa tahun yang lalu.

“Adik”? Karena Arief Surowidjojo, advokat senior, adalah pemegang saham kedua media ini. Meski demikian, secara entitas bisnis keduanya murni terpisah. Tak ada hubungan sama sekali, entah sister company, holding, group, induk-anak perusahaan,  perusahaan sepupu (seperti Transtv-Trans 7) dan lainnya.

Situs berita memang bercirikan sajian informasi yang padat dan ringkas (concise). Namun, di balik kepadatannya, tetap harus menyajikan prinsip kelengkapan jurnalistik. Sepanjang amatan saya, keringkasan berita online di Indonesia terbelah menjadi dua arah. Pertama, Detik dan Okezone menganut berita yang umumnya ringkas, hanya beberapa paragraf, bahkan cukup satu narasumber. Toh bisa running dilanjutkan oleh berita yang berkembang selanjutnya (memang ada beberapa rubrik yang menyediakan space yang lebih luas). Kedua, Hukumonline yang mengetengahkan berita yang “lebih utuh” layaknya berita koran atau media cetak. Tentu kedua aliran ini punya reasoning sendiri.

Saya memilih yang kedua, bukan karena saya bekerja di Hukumonline. Berita lempang (straightnews) semacam itu, bagi saya, adalah jatah radio dan teve. Perkembangan dilaporkan singkat. Kalau ada hal lain lagi, silakan dilaporkan dalam breaking news. Kalau berita online sepenggal-sepenggal seperti itu, siapa sih yang rela mantengin komputer hanya untuk menanti perkembangan berita yang seincrit-incrit? Lagipula, orang juga punya kesibukan lain selain di depan meja komputer melulu. Kecuali, jujur saja lah, para redaktur dan asisten redaktur cetak (khususnya harian) yang menyimak situs online supaya si reporter (yang bersamaan liputan pada lokasi yang sama dengan reporter online itu) tidak “kecolongan” info. Iya kan?

Kembali ke hyperlink. Fitur seperti ini sukses diterapkan oleh Wikipedia yang menampilkan kata atau gabungan kata yang tertera berbeda warna, yang jika diklik akan menampilkan halaman lain. Fitur inilah yang belum dimiliki oleh media cetak, radio, maupun televisi. Baru internet yang bisa.

Karena itulah, media internet ini mengada. Media online didirikan bukan lantaran akal-akalan meniadakan besarnya ongkos cetak dan sirkulasi. Media online memang memiliki keunggulan (dan kekurangan) yang tak dimiliki oleh media cetak dan elektronik. Sama halnya, media lainnya yang punya keunggulan yang tak dimiliki oleh media online. Walhasil, masing-masing punya karakter tersendiri.

Detik yang baru-baru saja menerapkan hyperlinking masih menautkan kata-kata dan gabungan kata tertentu ke berita Detik sendiri. Sedangkan Hukumonline bisa saja hyperlinking ke berita sebelumnya yang masih ada kaitan dengan berita tersebut, pun bisa jadi hyperlinking ke sumber informasi lainnya: bisa situs berita lainnya, pres rilis, situs organisasi, dan lain sebagainya. Hukumonline menyadari, sesuai dengan ujaran Pemimpin Redaksi Ibrahim Assegaf, hyperlinking merupakan manifestasi dari banyaknya sumber informasi dan situs kita bukanlah satu-satunya sumber informasi yang lengkap. Pembaca dituntun dan ditunjukkan ada sumber informasi lainnya.

Masih ada satu lagi keunggulan media cyber. Yakni intensitas interaksi dengan pembaca. Dengan adanya forum tanggapan yang dapat diunggah secepatnya (setidaknya lebih cepat daripada surat pembaca yang baru muat beberapa hari kemudian setelah dikirim), media online memimpin dalam menyerap tanggapan pembaca. Bahkan, siapa tahu, dari tanggapan pembaca itu, timbullah usulan liputan berita yang baru. Detik dengan sangat bagus mewadahi dan mengelola suara pembaca dalam forumnya.
Walhasil, media online memimpin dalam menerapkan, apa yang disebut Kovach-Rosenstiel, jurnalisme “prosumer”. Si konsumen, pun bisa turut serta “memproduksi” berita. Pendek kata, hai pembaca, media kami adalah restoran. Silakan pesan menu berita yang Anda inginkan, jika kami belum punya bahan “bumbunya” berilah pada kami agar bisa mengolahnya lebih lanjut.

Setidaknya dengan melihat dua keunggulan media cyber yang belum dimiliki oleh media jenis lainnya, tidaklah muluk jika Phillip Meyer pernah meramal, dekade ke depan, media online-lah yang merangsek. Hal ini sudah ditandai dengan merosotnya 40% oplah media cetak Amerika Serikat, bahkan media terkemuka sekalipun.

Catatan: tulisan ini merupakan pandangan dan pendapat pribadi, bukan mewakili sikap media atau pihak atau organisasi yang disebutkan di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s