Tes Psikologi Murjayanti Sangat Bagus

Kamu memang selalu membuatku bangga…

Saya punya calon, seorang atlet panjat dinding asal Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta. Murjayanti namanya. Dia selalu bercokol di depalan besarkategori lead (kesulitan atau difficulty) dan bouldering (jalur pendek). PON Palembang 2004 lalu dia gondol emas kategori boulder perorangan putri.

Oh yah. Dalam panjat (entah tebing alam atau dinding) je… sok tahu saja padahal gak pernah bisa, setidaknya ada empat kategori. Speed (kecepatan), kesulitan, jalur pendek, serta tebing alam. Varian dari itu yah nomor ekstrem (termasuk dalam wadah X-game ESPN yang menampilkan skateboarding, freestyle bike, dll).

Umumnya, final diikuti oleh delapan orang. Itu kalau jumlah pesertanya di bawah 26 orang. Kalau lebih dari itu, harus ada babak semifinal dulu, yang disaring menjadi 16 orang sebelum ke delapan besar alias final. Kecuali speed yang menggunakan sistem head to head secara gugur. Bisa 32, 16, 8, semifinal, dan final (ditambah perebutan juara tiga).

Doi berspesialisasi lead dan boulder. Pernah bertengger sebagai ranking satu boulder se-Indonesia. Kini dia masih terkontrak oleh produsen equipment Eiger. Ujung-ujungnya yah saya ikut ketiban untung: tas, baju, celana, dompet, topi, dan segala macam merek Eiger gratis punya. Hehehe…

Kolega dia adalah Etti Hendrawati yang sering dipanggil Mbak Etak. Saya pernah wawancara Mbak Etak sekali untuk rubrik Tokoh di Mingguan Kontan. Mbak Etak adalah penguasa nomor speed dan pernah menjuarai even dunia.

Mereka harus bahu-membahu dalam PON Kalimantan Timur 2008, Juli nanti. Dalam seleksi daerah oleh KONI DIY, para atlet harus turut berbagai tes fisik dan psikologi. Saya agak khawatir hasil tes fisiknya ada kekurangan. Dia terlalu kurus dan harus nambah 2-3 kg lagi. Mungkin juga terlalu susah nuruti dan mikirin saya -yang seringkali terlalu menuntut. Maaf Mur kalau aku menyusahkanmu.

Tapi dia antusias dan bangga setelah menerima hasil tes psikologi dan IQ. Katanya dalam sebuah sms, dia dapat predikat Sangat Baik. Hanya lima atlet DIY dari semua cabang yang memperolehnya.

Kata dia, itu juga karena sudah terlatih sabar dan hidup keras. Saya merasa memang terlalu menyusahkan dia. Hubungan jarak jauh hampir tiga tahun ini mungkin menempa dia (dan saya) untuk sabar menahan kangen, meredam emosi yang memang seharusnya diledakkan, dan lain sebagainya.

Dia baru saja datang dari Jakarta mengikuti sebuah kejuaraan di kompleks militer. Speed dia dapat nomor 15, di babak 16 besar apesnya langsung ketemu Mbak Etak. Tapi dia mengaku kalah dengan bangga di tangan Si Ratu “Cicak” itu. Akhirnya memang Mbak Etak juara satu di nomor ini.

Untuk lead, dia dapat nomor lima. Si juara tetap anak Jawa Timur, Wilda (sebenarnya asal Makassar yang dikontrak kontingen Jatim). Yah, saya yang gak tahu seluk beluk panjat babar-blas hanya menyarankan tekun latihan karena atlet senior maupun yang muda yang sedang on-fire adalah saingan berat.

Saya hanya berdoa dia bisa mempertahankan emas PON-nya, mungkin itulah kejuaraan akbar terakhir baginya. Dia sadar, persaingan makin berat. Saya sempat menyarankan dia melepas nomor speed yang memang bukan spesialisasinya. Dia pun menyetujui, apalagi Anang, si asisten pelatih menyarankan demikian. Tapi apapun keadaanmu, aku selalu mendukungmu. Aku sayang kamu, Mur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s