Sehari Menjadi “Ayah”

Saya belum pernah menikah. Betul, saya punya angan menikah dengan si calon tapi tidak untuk dua-tiga bulan ke depan. Pun saya tak pernah berbuat hal-hal yang memungkinkan menghasilkan anak di luar ikatan suci pernikahan. Usia saya masih muda -25 tahun. Belum merasa siap punya seorang anak. Namun saya punya pengalaman berharga begitu kompleksnya perasaan menjadi seorang bapak, meski hanya sehari. Sebagai catatan, ini tulisan bukan untuk mengumbar retaknya rumah tangga orang lain. Saya ingin meminta pandangan dan saran dari Anda semuanya. Sebut saja namanya Ti (sengaja tak saya tulis nama sebenarnya). Anak gadis kelas dua sekolah dasar. Dia sekolah di sebuah SD dekat rumah saya. Bocah ini pendiam, minder, introvert, menaik diri dari pergalan bocah pada umumnya. Maklum, maaf, dia produk dari gagalnya perkawinan. Ti punya seorang adik perempuan yang masih bayi belum genap setahun. Actually, adiknya dua. Namun anak sebelum si bungsu lahir ini meningal di waktu bayi.

Ni, ibunya, acapkali bertengkar dan bertengkar dengan si suami, sebut saja Ri. Keduanya adalah kenalan alarhum ayah saya. Keduanya masih muda, sekitar 30-an tahun umurnya. Rumah tangga begitu meruncing suasananya. Sejak awal, karena beda agama, pernikahan mereka tak direstui ortunya Ni. Selanjutnya, hari demi hari dihiasi oleh konflik. Pernah Ri berantem hingga tak tahan menjegal kaki istrinya hingga jatuh. Tak terima lantaran jadi keseleo, Ni mengambil gelas dan… prak (bukan prang atau pyar seperti gelas jatuh ke lantai, saya hanya ingin mencari-cari onomatope yang tepat). Pecahlah itu beling di kepala bagian depan Ri. Darah segar deras mengucur membasahi bajunya. Syok atas perlakuan istri, Ri mengunci diri di dalam kamar selama tiga hari. Tak keluar tak mandi tak ganti baju pun tak makan. Ni hanya mengirim makanan di muka pintu yang rapat tekunci. Khawatir akan kondisi suaminya, Ni bergegas ke rumah kami minta tolong Bapak. Bapak pun berhasil menenangkan Ri. Ibu pun turut menasihati jangan pernah memukul kepala.

Pernah pula pertengkaran kembali terulang. Puncaknya, Ri keluar rumah tiga bulan, cari kontrakan (atau kos sendiri), meninggalkan istri selagi hamil anak kedua. Hingga kelahiran anak lelaki itu, Ri pun tak pernah tahu. Bahkan, innalillah, hingga si buah hati itu dipanggil Tuhan, Ri pun tak pernah tahu. Beruntung ada seorang kawan yang pernah melihat Ri ngekos di sebuah daerah. Ditemuilah Ri oleh si teman, diceritakanlah bahwa sebenarnya dia punya anak kedua namun meninggal.

Situasi seperti itu rupanya kurang mampu menjadi pelajaran berharga bagi keduanya. Puncaknya, Ri meragukan anak ketiganya. Banyak kabar yang beredar bahwa Ni punya selingkuhan. Ri mengusir Ni dan tak pernah sudi menerima dia kembali. Singkat kata: cerai. Yang menjadi tujuan pertama Ni mengungsi adalah rumah kami, bulan Puasa lalu. Kala itu ada Bapak dan Ibuk. Selama dua malam Ni menginap membawa anaknya. Bapak dan Ibuk menilai Ni memang bukan seorang ibu yang baik. Seringkali abai. Bahasa Jawanya (khususnya Pati dan sekitarnya), bluboh. Anda tahu bluboh? Kurang lebih artinya ceroboh dan tak sadar pada tanggung jawab dus suka seenaknya sendiri. Sukanya tiduran, anaknya berangkat sekolah dibiarkan begitu saja, kalau habis makan tak pernah cuci piring dan digeletakkan begitu saja. Jika pulang sekolah, yang menjemput Ti adalah Bapak dengan sepeda jengki. Hingga hari ketiga Ni di rumah kami, dia dijemput oleh kakak-kakaknya dan ibunya. Itupun dia sempat mendekam di kamar tak mau keluar. Bapak berpesan pada ortu dan Ni, supaya rukun.

Karena sudah tak diterima kembali oleh suaminya, dan sedang dalam proses perceraian, Ni tinggal bersama orang tuanya. Sayang, sekali lagi sayang, dia pun acapkali berantem dengan ortu dan tak akur dengan kakak-adiknya. Ni anak keenam dari delapan bersaudara, namun dua kakaknya sudah meninggal. Hingga kini tinggal enam bersaudara. Ni merasa menjadi anak yang paling tak pernah dapat kasih sayang daripada saudaranya.

Puncak keretakan hubungannya dengan ortu, untuk kedua kalinya, Ni menuju rumah kami. Yang pertama saya memang belum ada di Pati. Yang kedua ini, saya ada karena menemani Ibu yang baru saja hampir dua bulan lalu kami kehilangan Bapak yang tiada. Selasa lalu (27/11), Ni mengusungi barang bersama anaknya ke sini pagi hari. Pukul 10 dia jemput Ti dari pulang sekolah. Dia minta izin barang sehari dua hari tinggal. Ibu sebenarnya keberatan karena tensinya masih tinggi. Selasa ini saya bawa Ibu ke dokter. Aduh, tipes saya kumat lagi, menggejala lagi. Solusinya, mereka harus cari kos-kosan saja. Mbak Ngat, pembantu rumah tangga kami, membantu mencarikan kos buat Ni.

Kami lihat sendiri perlakuan Ni terhadap Ti. Dia sering bentak, senggrang, sendor Ni jika melakukan hal yang dianggap salah. Tak segan pula tangan mendarat di pipinya. Saya lihat Ti primbik-primbik menahan tangis. Kala itu Ti punya tugas sekolah kliping tentang lingkungan hidup. Dia minta tolong saya cari berita soal itu. Lantas potongan berita dari koran itu ditempelkan di atas kertas buku gambar. Sayang, buku gambar Ti sudah penuh. Ti hendak menghapus semua gambar. Disentaklah dia oleh ibunya. “Tempelkan saja langsung. Kamu sampai capek juga gak bakal bisa hapus semua kertas,” begitu bentak Ni. Ni sebelumnya juga mengeluh, seharusnya Ti bersama ayahnya saja. Dia sedang repot mengurus bayi kecilnya.

Saya tenangkan saja Ti, saya janjikan mengajak beli buku gambar nanti malam seusai mengantar Ibu periksa di dokter. Bibirnya menekuk melengkung ke bawah. Air matanya masih bisa tertahan di pelupuk mata. Sore hari saya bersama Ibu ke dokter. Tinggallah Ni, Ti, adiknya, dan Mbak Ngat di rumah. Kata Mbak Ngat, Ni bicara, “Kamu sama ayah saja yah. Jangan sama ibu.” Akibatnya Ti menangis.

Malam harinya saya dan Ti jalan-jalan. Saya gamit tangannya. Saya ajak dia ke alun-alun. Beli pempek khas Pati. Juga mampir dulu ke toko buku. Sebenarnya saya ingin suasana cair. Namun dia selalu menjawab lirih dan singkat setiap pertanyaan yang saya ajukan. Minim ekspresi. Tak berhasil saya gali uneg-uneg si bocah. Tapi saya tahu dan baca, dia menyiratkan kegembiraan, suasana yang jarang dia rasakan di tengah amarah ibunya saban hari. Pempek sepiring habis ludas dia lahap.

Malam harinya seusai keliling alun-alun, saya sinaoni si Ti (sinau artinya belajar, sinaoni artinya menemani sambil membimbing anak belajar). Di tengah kesibukan kami menempel potongan berita lingkungan ke kertas buku gambar, ibunya menyela dan memaksa Ti mencari hape yang “hilang”. Kalang kabut. Ti merasa tak pernah bawa hape sebelum dan pada saat jalan-jalan dengan saya. “Anak ini biasanya ceroboh,” tuding Ni sambil bicara kepada saya. Eh ternyata telepon genggam itu hanya tertimbun bantal. Hape itu berbunyi setelah saya sarankan dimiskol saja sehingga dapat ditemukan. Setelah itu saya ajak Ti melanjutkan buat kliping sampai selesai. Malam menjelang tidur, Ni bicara kepada Ti di depan saya. “Tuh, Oom Yacob sayang sama kamu kan. Makanya jangan anggap gak ada orang yang sayang sama kamu. Semuanya sayang kok.” Sebelumnya, Ti memang berbisik menceritakan pengalaman jalan-jalan itu kepada ibunya.

Rabu pagi (28/11) Ti bangun tidur pukul 05:30. Saya masih tiduran sehabis subuhan. Ti mandi sendiri, salin baju sekolah sendiri. Sedangka si ibu masih terpejam alias tidur -bersama si bayi. Saya temani Ti sarapan nasi tempe. Maklum, Mbak Ngat masih masak dan belum jadi sayur buat sarapannya. Lalu saya antarkan Ti ke sekolah dengan sepeda jengki pukul enam. Saya bilang mau jemput jam sepuluh pulang sekolah nanti. Pukul sepuluh kembali saya ke sekolah. Dulu saya sekolah di salah satu SD di kompleks ini. Hanya beda sekolah dengan Ti kini. Saya jemput dia di depan kelasnya. Sempat saya hendak bicara berpesan kepada si guru, hendak diskusi singkat bagaimana perkembangan pelajaran dia. Namun saya urungkan karena masih banyak siswa. Apalagi saya bukan siapa-siapanya Ti secara langsung.

Siang hari kembali Ti ditampar ibunya gara-gara rebutan jatah biskuit dengan adiknya. Mbak Ngat yang melihatnya. Mbak Ngat cerita kepada saya. Setelah makan siang, Ni berniat pamit cabut dari rumah kami. Dia putuskan mengungsi ke rumah temannya di kota K dekat kami tinggal. Saya cuma khawatir, sekolah Ti bagaimana? Kami tinggal di sebuah kota kecil nan tenang tak seperti Jakarta. Jarak sekolah yang jauh pun bisa ditempuh dengan angkot atau sepeda tak kurang dari tiga puluh menit. Ti harus susah payah bangun lebih pagi lagi, naik bus antar kota untuk sekadar berangkat sekolah. Suatu hal yang bukan biasa bagi kami, orang yang tinggal di kota kecil yang tak kenal kemacetan dan kesemrawutan.

Setidaknya ada satu kemajua kecil. Ni bersedia juga cuci piring. Selama ini, Ni, meskipun wanita, tak akrab dengan pekerjaan domestik semacam ini. Maklum, sejak kecil serba kecukupan. Bukannya saya mempertahankan pandangan gender yang kolot di mana wanita hanya jadi teman belakang (konco wingking: dapur, sumur, kasur). Tapi keterampilan semacam memasak, cuci piring, cuci pakaian sangat berguna, apalagi bagi wanita yang sedang mengasuh anak kecilnya. Percayalah. Kesampingkan dulu lah pandangan kesetaraan gender yang seringkali menyesatkan dan kebablasan itu.

Kamis hari ini (29/11) siang hari seusai sidang, Ni kembali mampir ke rumah kami. Dia hendak mengepak barang yang masih tertinggal. Ni ngobrol dengan Ibuk. Dia berkeluh kesah, sebenarnya tak mau dia jadi orang bluboh. Dia tak mau sekadar ongkang-ongkang. Dia ingin berbuat sesuatu. Dia ingin ada bukti yang bisa dia tunjukkan kepada ortu bahwa dia bisa berbuat lebih baik. Namun hatinya makin teriris, ketika dia mampir ke rumah ortu, malah sang ayah dengan sambil lalu bilang, “Itu pakaian anak-anakmu sudah dikemasi Ibumu biar kamu bisa segera pergi dari sini.”

Ni melanjutkan keluh kesahnya, dia hendak ke kota S ke rumah salah satu kakaknya. “Saya ingin lembaran yang baru. Di tempat di mana masyarakat tidak kenal saya. Kalau di sini akan selalu dipandang miring oleh para tetangga apalagi saya kini janda. Saya juga tahu selama masih tinggal dengan orang tua, pertengkaran bakal berlanjut. Saya tak mau kedurhakaan ini makin berlanjut. Saya juga sadar hingga kini belm bisa balas jasa orang tua. Tapi terkadang lelah dan tak kuat saya menghadapi tudingan kesalahan atas masalah yang sudah-sudah, yang telah lampau jadi berlarut-larut.”

Setiap kali diingatkan oleh Ibuk dan Mbak Ngat, supaya mengalah dengan orang tua, Ni kurang setuju. Ibuk dan Mbak Ngat menyarankan pulang saja ke orang tua. Mengalah. Posisi dia di bawah. Jangan memberontak. Berdamai. Namun, dia untuk poin ini susah bukan kepalang. “Pak Har (nama panggilan Bapak saya) juga pernah menyarankan itu Bu. Tapi, maaf, Anda semua kurang tahu sifat ortu saya. Sehari dua hari mungkin damai. Setelah itu berantem lagi dengan saya. Segala sesuatu yang saya kerjakan salah. Masalah yang sudah larut selalu diungkit kembali.”

Yang terpenting, Ibu juga berpesan supaya jangan galak-galak kepada Ti. “Dia memang seringkali bandel,” kilahnya. Kayaknya poin yang satu ini juga masih menjadi hal yang berat bagi Ni. Dia pun bergegas hendak kembali ke kota K. Seperti yang saya tebak, Ti hari ini tak berangkat sekolah. Bahkan rencananya dia hendak pindah menuruti ibunya entah akan melanglang ke mana saja. Turut ke rumah bibinya di kota S.

Siang itu, Ni berpamit meninggalkan rumah kami dengan sepeda motornya. Debu menyertai kepergiannya.

Kini Bapak telah tiada. Harapan Bapak hanya mendamaikan Ni, Ri, dan keluarganya. Ketika menemui Ri empat mata, Bapak pernah berpesan, kalau bisa berdamailah dengan istri. Kalau memang sudah tak mau menerima kembali, pulangkanlah kepada ortunya dengan baik-baik. Jangan pernah mengusir mencampakkan begitu saja. Kalau Bapak masih ada, tentu kecewa berat harapannya belum terkabul.

Mbak Ni, dulu Anda saling mencintai dengan Mas Ri. Kini bisa jadi rasa sayang itu berbalik menjadi rasa benci yang sama besarnya. Namun jangan lampiaskan kepada Ti, buah hati kalian. Rasa penolakan Anda terhadap kehadiran Ti adalah keliru. Perkembangan mental, moral, psikologi Ti pasti akan terganggu. Kehidupan pribadi anak sekecil itu tentu oleng, apalagi nanti jika dia harus hidup bermasyarakat. Saya bukan psikolog, bukan Kak Seto, bukan ahli perkembangan anak, bukan anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pun bukan anggota Komnas Perlindungan Anak. Harapan saya, terimalah Ti seikhlasnya, seikhlas Anda mengeluarkannya dari rahim dengan penuh suka cita dan perjuangan. Anda seorang perempuan yang tentu berasa lebih peka daripada saya. Anda berpendapat belum mampu membalas jasa ortu memang benar. Dan tak ada seorang anak pun yang bisa membalas luasnya samudra kasih orang tuanya. Kalau Anda hendak membalas kasih sayang ortu, curahkanlah kepada anak Anda sendiri, termasuk kepada Ti.

Kesadaran Anda untuk berbuat lebih baik adalah langkah awal yang tepat. Yakinlah bahwa Anda sedang mengawali jalur yang benar. Namun perhatikan pula tumbuh-kembangnya kedua anak Anda. Keinginan Anda supaya jadi manusia yang lebih giat, ingin cari kerja, tak sekadar berpangku tangan menikmati keserba-adaan adalah kunci awal menuju kondisi yang lebih baik. Harapan saya, sifat keras kepala Anda semoga bisa makin mencair.

Mas Ri, meski Anda tak bersama dengan Mbak Ni, Anda pun perlu memikirkan masa depan buah hati Anda. Pikirkan jalan keluar pola asuh Anda dan Mbak Ni terhadap kedua anak tersebut. Jangan lupa tetap memberi nafkah kepada mereka. Sebaik apapun anak-anak mendapat perlakuan dari orang lain (yang bersimpati), tetap saja mereka butuh akar mereka, ayah-ibu mereka sendiri, untuk bergantung. Untuk bersandar. Untuk berteduh.

Buat ayah ibu Mbak Ni, saya harap ada titik terang Anda bisa menerima Ni kembali. Tanpa perlu menjabarkan lagi masa lalu yang kelam. Bagaimanapun, anak butuh akar untuk bepegang. Psikologi Ni sedang guncang begitu hebatnya. Apalagi dia juga menghadapi tekanan pandangan miring dan gunjingan masyarakat. Orang-orang luar begitu merasa berhak turut komentar, tanpa berkaca pada masalah keluarga mereka masing-masing. Kita masih hidup di tengah masyarakat yang masih menyembah berhala gosip dan kasak-kusuk. Saya yakin bimbingan dan penerimaan Anda berdua terhadap Ni adalah langkah awal menuju jalur yang benar. Dia hanya butuh waktu menjadi wanita yang dewasa, mandiri, prigel, tak ongkang-ongkang, tak bluboh. Dia sudah ada niat untuk lebih bertanggung jawab. “Apa enaknya sih jadi orang bluboh?” keluh dia kepada Ibuk sewaktu pamit tadi siang. Karena itu, proses dia menuju baik begitu butuh bimbingan dari Anda.

Buat Ti, semoga kamu baik-baik saja. Kota kecil ini masih jauh dari lirikan KPAI atau Komnas Perlindungan Anak. Pun tak ada lembaga yang memadai yang menaruh perhatian besar terhadap perkembangan anak. Di sini belum ada psikolog anak. Maaf, aku tak bisa berbuat banyak untukmu.

Aku hanya berharap buat kalian, Mbak Ni, Mas Ri, ortu dan saudara Mbak Ni, juga buat Ti dan adik, aku hanya berharap kehidupan yang lebih baik. Buat kita semua. Jika memang kita menghormati almarhum Bapak yang menanam harapan itu, marilah mewujudkan harapan beliau. Supaya kita hidup rukun adanya.

Saya hanyalah orang yang jauh di luar lingkaran keluarga kalian. Selebihnya, niat baik kita bersama yang menentukan semua warna kelanjutan drama kehidupan ini.

2 responses to “Sehari Menjadi “Ayah”

  1. Pingback: Ti Harus Pindah Sekolah « My Thoughts, My Activism, My Life, Myself…

  2. Himawan Andi Kuntadi

    Tulisan yang mengharukan. So moving…

    Apalagi saya sekarang juga seorang ayah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s