Infoganda, Apa itu?

“Infoganda sama halnya dengan infotainment,” ujar Frank Rich, kolumnis The New York Times, penulis buku The Greatest Stories Ever Sold.

Frank, spesialis kebijakan AS, bersuara dalam sebuah diskusi bedah bukunya, pada acara Oprah Winfrey. Acara ini sebenarnya ditayangkan setahun silam. Namun baru saja disiarkan oleh Metro TV pada Kamis pagi ini (29/11). Buku tersebut membedah hubungan mesra media dan pemerintah Bush Jr (entah disadari atau tidak), kedua kubu saling mendukung sehingga mempropagandakan kebijakan-kebijakan pemerintah. Celakanya, pemberitaan tersebut justru mendistorsi dan (baik sengaja atau tidak) menyembunyikan fakta yang sebenarnya.

Hal ini bermula dari kejelian Bush memanfaatkan momen peristiwa 9 September 2001. Perang terhadap terorisme semakin berkumandang. Pertempuran di Afganistan, Irak, perburuan Al Qaeda dan Osama bin Laden. Frank berpendapat publik Amerika begitu tersedot perhatiannya pada nama Osama, orang yang sebelumnya tak pernah mereka kenal. Frank juga berpendapat dari dulu pun elit Amerika memang sudah gatal tangan ingin menyerang Irak.

Hanya, Frank merasa dukungan publik makin dikadali dengan makin larutnya pertempuran dan berbeloknya arah fokus pemerintah Paman Sam itu sendiri. Contoh kasus perang di Afganistan misalnya. Awalnya rakyat bersatu, 94% mendukung serangan ke Afganistan. Namun tatkala Osama tak diketahui rimbanya, mau berbuat apa lagi? Tindakan-tindakan selanjutnya dari militer AS inilah yang makin melenceng dari amanat dukungan rakyat semula.

Sama halnya invasi ke Irak. Robohnya patung Saddam begitu berulang-ulang ditayangkan terus-menerus seakan-akan itulah peran besar AS menata wajah Timur Tengah yang ideal. Frank dalam hal ini mengibaratkan keruntuhan Tembok Berlin. “Tembok itu ambruk bukan karena peran AS. Namun memang lantaran keinginan warga Jerman sendiri untuk bersatu. Media seolah-olah menceritakan bahwa itu peran kita,” tukas Frank.

Frank juga menyoroti lakon seorang komentator sohor soal kebijakan pendidikan. Program tayangan yang disponsori departemen pendidikan itu mendukung penuh peran pemerintah. Ternyata, si komentator dibayar dengan fee 250 ribu dolar AS. “Dengan tarif seperempat juta dolar, bagaimana dia bisa memberikan komentar dan kritik yang objektif? Pasti dia membela pihak sponsornya,” ujar Frank gusar.

Pada bagian terakhir bukunya, Frank mengulas penanganan lamban terhadap korban badai Katrina. Frank geram, media hanya mengutip pernyataan khas birokrat: kondisi sedang terkendali, kami menangani masalah dengan baik. Apakah ada masalah di lapangan, kami belum menerima informasi itu. “Bagaimana bisa mereka belum memperoleh informasi jika teve sudah berulang kali memberitakannya?” teriak Frank.

Intinya, Frank kecewa, media yang seharusnya menjadi alat proporsional yang berperan penting dalam mendudukkan masalah pada tempatnya, justru juga kehilangan arah membidik isu dan hanya menuruti kehendak pemerintah. Media hanya mengapungkan masalah ke permukaan. Selanjutnya, apakah tuntas mengupas dan menyuguhkan (pilihan) akar masalah serta solusinya? Nampaknya masalah ini juga paralel dengan media di Indonesia.

Saya ingin sekali membaca buku itu. Sukur-sukur sudah ada tarjamah dalam bahasa Indonesia. Ada yang punya? Pinjam dunk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s