Kelab, Klab, Klub: Inkonsistensi Kompas?

Kompas edisi Minggu, 25 November 2007. Harian nasional pada edaran hari ini menyerap kata “club” dengan tiga cara yang berlainan.

Kompas Minggu merupakan bacaan wajib bagi kami sekeluarga. Langsung saya menuju halaman karikatur, menengok Benny dan Mice, Sukribo, Panji Koming, Timun, serta Kompopilan. Selanjutnya saya baru menengok halaman 16, kover belakang sesi pertama. Di sana ada pojok ilmu pengetahuan serta rubrik fotografi. Lantas halaman olah raga pada bagian tengah sesi pertama. Barulah saya jamahi rubrik-rubrik lainnya. Sukur-sukur ada lowongan kerja yang menantang. Hal itu rutin saya lakoni saban Minggu.

Kali ini, ada hal yang benar-benar menggelitik, untuk menghindari kata “mengusik”, minat saya. Pada halaman muka sesi pertama, jurnalis Jimmy S Harianto menyajikan “Warnai Kotamu dengan Jazz”. Tulisan ini merupakan reportase semarak Jakjazz 2007. Berita ini menggunakan kata “kelab”. Coba simak penggalan tulisan yang bersambung ke halaman 15 ini:
…Sebuah penampilan kolektif dari para pemusik, yang sehari-hari berprofesi sebagai DJ, produser rekaman, bahkan pemilik kelab malam.

Kemudian saya sambangi sesi kedua. Pada headline di halaman 17 itu (Rubrik Kehidupan), jurnalis Dahono Fitrianto dan Frans Sartono menyuguhkan “Merayakan Kembali 1980-an”. Setelah paragraf lead, keduanya menulis:
Salah satu klab malam yang memiliki ruang khusus untuk musik disko ala 1980-an adalah X2.

Hmmm, dua cara sudah Kompas lakukan untuk menyerap kata “club”. Saya mereka-reka, jangan-jangan ada lagi warna ketiga, yang selama ini saya kenal: klub. Sontak saya putar arah membaca halaman olah raga yang tersedia di sesi pertama. Pada pojok kanan bawah halaman 10, Kompas menampilkan “Hadapi Cagliari, Pembuktian Ronaldo”. Mari kita daras nukilan tulisan dengan byline AFP/ADP ini:
ROMA, JUMAT – Striker yang tiga kali terpilih sebagai pemain terbaik dunia, Ronaldo, akan menjalani laga pembuktian bagi klubnya, AC Milan, ketika “Rossoneri” bertandang ke Stadion Sant’Elia melawan tuan rumah Cagliari, Minggu (25/11).

Mungkin saja Kompas hendak membuat suatu perbedaan. Klab dan kelab untuk sebuah tempat minum-minum, kumpul-kumpul, kongkow-kongkow di tengah malam yang diiringi oleh alunan musik. Sedangkan klub untuk perkumpulan atau tim olah raga. Siapa tahu, bisa saja. Namun, disadari atau tidak, hal ini menyiratkan inkonsistensi.

Taat bunyi vs taat eja
Sebuah inkonsistensi? Bisa jadi. Metode penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia memang inkonsisten. Kadang kita menggunakan taat bunyi, namun kadang pula kita memakai taat eja.

Contoh taat bunyi:
team – tim
game – gim
club – klab, kelab

Contoh taat eja:
striker striker
taxi – taksi
club – klub
final – final
round – ronde
contact – kontak
contract – kontrak

Jika kita menggunakan taat bunyi, hasilnya kurang-lebih akan seperti ini:
straiker, teksi, klab, fainel, raun, kontek, kontrek

Seringkali kita menemui bentuk kembar. Misalnya:
risiko – resiko
apotek – apotik
nggak – enggak – gak
selebritis – selebritas – selebriti
Cina – China
Prancis – Perancis

Hal itu memang tak dapat dipungkiri. Namun kita perlu konsisten memilih salah satunya. Karena itulah sebuah media yang baik senantiasa istiqamah memakai kata pilihannya. Sekali pilih, tidak berubah. Bukannya esuk dhele sore tempe (pagi bilang kedele, sore bilang tempe) alias mencla-mencle.

So, bagaimana Kompas? Bagaimana dengan kita sendiri? Pilih yang mana? Atau pilih clap-clup saja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s