Sebuah Angin Segar: Infotainment (Sudah) Berbenah Diri?

Kabar-Kabari, edisi Minggu 18 November 2007. Program infotainment yang ditayangkan oleh stasiun teve RCTI pukul tiga sore itu membuka acaranya dengan sebuah adegan Maia Ahmad menjemput paksa ketiga anaknya, Al, El, dan Dul. Ketiga bocah pria itu sedang take di sebuah lokasi syuting untuk sebuah sinetron. Maia, yang masih berstatus istri resmi musisi Ahmad Dhani itu keberatan ketiga anaknya main sinema layar kaca. Alasannya, baru saja salah satu putranya terbaring di rumah sakit esok harinya sudah kudu cari duit. Lagipula ketiganya sebentar lagi ujian sekolah. Yang jadi persoalan, Maia merasa dilangkahi. Sebagai ibu kandung mereka, Maia tak pernah dimintai persetujuan akan kegiatan sinetron Al, El, dan Dul. Inilah babak lanjutan dari perseteruan rumah tangga Maia-Dhani.

Narasumber yang terkutip pernyataannya: Maia, Dian adik perempuan Dhani yang menemani ketiganya di lokasi, serta pihak manajemen produksi. Kabar-Kabari, menariknya, mengutarakan, “hingga kini Ahmad Dhani belum dapat dimintai keterangannya,” tegas si narator.

Sama halnya heboh tertangkapnya (kembali) Roy Marten lantaran memakai narkoba (bukan narik kolor bawah). Sejumlah infotainment menjamah Roy sendiri sebagai narasumber, keluarganya, sahabat dekatnya yang seorang mantan pembalap, pihak kepolisian di Surabaya -tempat Roy tertangkap, bahkan, sebagai sumber pelengkap agar komprehensif, seorang dokter pun diwawancara untuk mengutarakan pendapatnya. Dadang Hawari, si dokter, beropini dalih Roy yang pakai shabu-shabu demi proses penyembuhan adalah salah. “Narkoba adalah barang haram. Seseorang yang berproses penyembuhan dengan menggunakan barang haram adalah salah. Penyembuhan harus diawasi oleh dokter terapis dengan obat yang aman, bukannya memakai sesama narkoba,” jelas Dadang. Poinnya adalah, infotainment sudah merambah isu penting. Tak melulu memuntahkan ludah sensasi tanpa isi. Hak asuh anak, porsi kasih sayang (afeksi) ortu kepada anak, atau bahkan isu kejahatan narkoba dikupas dengan narasumber yang memadai. Artinya, di lain sisi, infotainment dalam berbagai contoh berita akhir-akhir ini sudah berusaha menjaga prinsip cover both side -sebelum terlalu muluk disebut cover all side. Mereka tak hanya menurunkan berita hanya berdasarkan “sebuah sumber yang terpercaya”. Sumber di sini sudah jelas siapa yang berkicau, dan sumber awanama (anonim) memang seharusnya masuk dalam kotak wayang.Inikah kemajuan dunia berita-hiburan kita? Rasanya penilaian saya ini terlalu dini. Waktulah yang akan menjawabnya. Namun saya yakin para pekerja infotainment makin lama makin memperbaiki kualitas pemberitaan mereka.

Namun di sisi lain, berita hiburan masih mengandung beberapa kekurangan. Anak-anak seringkali kurang terlindungi dan akhirnya terpajan. Berita soal Maia di atas, misalnya. Ketiga anaknya rentan terganggu dengan tereksposnya peristiwa itu. Bahkan, peringatan pihak produser dan Dian, adik Dhani, supaya Maia “menyingkirkan” sorotan kamera, tak dia indahkan. “Biar masyarakat tahu,” begitu malah Maia balik menantang. Meskipun bukan pelaku kriminal, dalam hal berisiko pada kondisi psikologi mereka, sebaiknya infotainment juga melindungi jati diri anak-anak. Misalnya pada pemberitaan perceraian, kisruh rumah tangga, atau isu sensitif lainnya. Al, El, serta Dul masih disebut nama lengkap mereka. Di sini kita sedang tidak berbicara soal akurasi. Prinsip tersebut memang penting, namun ini adalah hal yang berbeda.

Asal-usul infotainment

Mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatmadja dalam sebuah kesempatan beberapa bulan lalu mengurai istilah infotainment. Menurut Atmakusumah, istilah tersebut pada dasarnya ditujukan pada jurnalisme sastrawi. Artinya, lewat uraian kata-kata nan memikat, layaknya cerita novel, jurnalis meurunkan laporannya bagi pembaca. Hasilnya, sebuah informasi yang menghibur pembaca. Cuma, di Indonesia, istilah tersebut dipakai (dipelintir?) untuk mendeskripsikan berita-berita soal entertainer (baca: selebritis dan artis).

Yang dipermasalahkan Atmausumah serta banyak jurnalis lain adalah mutu berita infotainment. Prinsip cover both side: cek, ricek, dan kroscek terabaikan. Anak-anak artis, atau teman artis, yang bukan merupakan sumber relevan di lingkaran pertama seringkali jadi sasaran sekadar demi mendapatkan kutipan on the record. Belum lagi materi berita yang “remeh temeh” hingga menjurus hak privasi. Hingga mengemukalah perdebatan infotainment termasuk produk jurnalistik atau kagak?

Pendapat “penengah” muncul dari Pemimpin Redaksi Kontan Yopie Hidayat. Mas Yopie dalam sebuah rapat redaksi (kala itu saya ikut ketika masih bekerja di Kontan) mengingatkan kita jangan mencibir para reporter infotainment. “Toh mereka juga menyajikan informasi. Oplah tabloid kita gak ada bandingannya dengan omzet mereka yang laku keras, loh. Apa terbitan mereka bukan media? Publik toh mengonsumsinya juga. Kita jangan sok jadi wartawan yang merasa paling benar,” tegasnya.

Atmakusumah tidak meributkan “dampak jahat” berita infotainment. Misalnya pasangan artis yang akhirnya benar-benar bercerai setelah gencar dikipasi berita miring. Menurut Atmakusumah, “agenda setting” sebuah media sah-sah saja. “Apa bedanya dengan karir pejabat atau politisi yang tamat akibat pemberitaan?” tukasnya. Yang Atmakusumah sayangkan, yah itu tadi: mutu berita yang di bawah standar.

Publik nampaknya senantiasa menantikan berita hiburan yang makin bertanggung jawab dus bernas. Setuju?

Menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Peter Salim dan Yenny Salim, 2002), bernas berarti butir padi yang padat berisi. Atau bisa juga bermakna ucapan atau pendapat yang dapat dipercaya. Jadi, berita nan bernas kurang lebih berarti mengandung substansi yang benar-benar ada isinya serta dapat dipercaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s