Jalan Kaki (lagi) dengan Ibu

Subuh ini saya dan Ibu salat bersama. Habis itu, dia mengajak saya jalan-jalan. Senang banget rasanya.

Selasa kemarin (13/11) Ibu kembali kontrol ke dokter. Hasilnya? Walah, naik lagi itu tekanan darah. Dari 160 jadi 170. Memang, akhir-akhir ini Ibu main hantam segala makanan. Apalagi Dhe Jum, istri Dhe Yan kakak Ibu, datang. Dhe Jum-lah yang memasak hidangan dan berkatan peringatan 40 hari Bapak. Tentu saja, masakan Dhe Jum nyamleng tenan. Mak nyus.

Sayang, masakan lezat itu sebenarnya kurang gathuk dengan pengidap darah tinggi seperti Ibu. Tapi saya sendiri kasihan melihat beliau bosan. Makanan yang itu-itu saja. Hambar bin anyep alias tak berasa. Muka Ibu pucat lemes kalau makan menu yang monoton.

Hingga akhirnya terkereklah tekanan darahnya. Kendati demikian, Ibu terlihat lebih giras. Lebih bertenaga. Dia ingin kembali jalan-jalan. Sesuatu yang tertunda lantaran hujan selalu datang di pagi hari.

Kali ini kami menyusuri jalan besar, Jalan Sudirman. Suasana masih sepi. Orang-orang juga berlalu lalang lari pagi atau sekadar lari-lari anjing atawa jalan santai menuju atau pulang dari alun-alun. Sebagian lagi berbelok ke Gedung Alverna, kompleks sekolah TK, SD, dan SMP Kanisius untuk senam pagi. Kami hanya sampai di depan Toko Remaja. Toko ini dulu jaya sekali. Rame. Segalanya lengkap.Hingga tiga lantai, bahkan. Saya selalu beli mainan Atco, semacam Lego sewaktu kecil di toko ini. Mainan itu masih tersimpan hingga kini. Tapi kini nampaknya ini toko kalah saingan dengan swalayan baru yang lebih modern. Ada Toko Chandra di sebelahnya persis, ada Toko Surya Baru, pesaingnya sejak dulu. Belum lagi Indomart sudah masuk sini.

Ibu mulai terasa lelah. Kami pun berbelok membelah gang menuju bekas Kantor Agraria. Kini gedung kantor itu rata dengan tanah. Waktu saya masih kuliah beberapa tahun lalu, bekas bangunan itu kami pakai main voli. Kini sudah nganggur, mangkrak. Orang-orang RT kami, RT 01/RW 01 Pati Lor, menyebutnya Kantoran. Dulu bangunan itu punya empat pilar atau sokoguru. Konon, masing-masing soko ditungguin satu gendruwo. Ah, saya sih tak percaya. Poskamling di seberangnya masih begitu-begitu saja. Di depan pos ada gereja kecil.

Kami membelah jalan kampung, gang sempit. Senang rasanya melihat ibu bertenaga. Tapi tetap harus hati-hati, tekanan darahnya jangan sampai meninggi lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s