Satai atau Sate?

Suatu ketika, di saat saya masih menjadi jurnalis Kontan hampir setahun lalu, saya terlibat perbincangan menarik dengan redaktur bahasa, Tri Adi Sarwoko. Mas Tri sengaja merombak kata “sate” menjadi “satai”. Katanya, “memang kaidahnya begitu.”

Mas Tri mencontohkan. Menulis “cabe” yang benar “cabai”. Harusnya memang memakai diftong (huruf vokal dua sekaligus) “-ai”. Bukannya huruf “e”

Mari kita simak berbagai contoh kata berikut ini: santai, balai, bengkalai, lambai, rangkai, permai, cerai-berai, belai, samurai, cukai, selesai, pandai, semai, sorak-sorai, lunglai, kedai, keledai, jablay.

Namun, tak jarang kita juga menjumpai beberapa kata yang ditulis dengan menggunakan “-e”. Contohnya: cabe, kedele, sate, ummm… apa lagi yah? Masalahnya: yang mana yang benar?

Pengucapan huruf “e” sendiri punya tiga warna.

Pertama, “e” pepet. Contohnya, seperti yang kita ucapkan untuk kata: telat, tekan, kerbau,kerja, ke, dan lain sebagainya (kecuali orang Batak yang seringkali mengucapkan “e” yang satu ini menjadi jenis ketiga. Hehehe. ..).

Kedua, “e” dengan tanda condong ke kiri atas. Itu kalau kita mengucapkan kakek, nenek, tokek, pendek, dewi, komeng, cimeng, dan lain sebagainya.

Ketiga, “e” dengan tanda condong ke kanan atas. Misalnya, jika kita melafalkan dewasa, dewa, desa, dekan, demisioner, dan lain sebagainya.

Menariknya, Mas Tri juga pernah berpendapat bahasa Indonesia pun mengenal bentuk tak beraturan (irregular). “Bukankah bahasa Inggris juga punya kata kerja tak beraturan?” ujarnya suatu ketika.

Mas Tri juga pernah menulis sebuah makalah tentang bahasa jurnalistik. Dalam artikelnya, dia mengakui bentuk kembar. Ada China-Cina, risiko-resiko, apotek-apotik, praktek-praktik, dan lain sebagainya. Hanya, seharusnya asing-masing media kudu konsisten memilih salah satunya serta tak berubah-ubah atas pilihannya.

Dalam amatan saya, sebagai salah satu contoh saja dari beribu misal, Tempo memilih “Cina”. Sedangkan Kompas dan Kontan menunjuk “China”. Meski pilihan setiap media berbeda, saya lihat toh mereka konsisten memegang kata yang mereka pilih.

Masih menurut Mas Tri. Katanya, bahasa jurnalistik tak dapat ditekuk sedemikian rupa, menjadi teramat baku bagaikan bahasa resmi ala Depdiknas. Bahasa jurnalistik mempertimbangkan kedekatan antara media dan pembaca. Walhasil, bahasa jurnalistik adalah \”rasa”.

Bertolak dari argumentasi soal rasa itulah, menurut saya, adalah sah saja jika kita menulis “cabe” atau “sate”. Lidah kita kok rasanya sudah condong mengucapkan “sate” karena kata tersebut pengucapannya lebih condong ke “-e” daripada “-ai”.

Lain halnya dengan “permai” atau “selesai” atawa “santai” yang memang dari sononya berasa “-ai”

Sebagai argumen lain, “kere” dan “kerai” bermakna beda. “Kere” berarti lawan kata “kaya” alias “miskin”. Sedangkan “kerai” artinya tirai bambu khas Jawa. Jadi, biarlah yang “e” tetaplah begitu, dan yang “ai” juga tetap begitu.

Ups, kata “oke” berasal dari bahasa Inggris “okay” yang seringkali disingkat OK. Nah, nulisnya “oke” atau”okai” yah?

Bagaimana menurut Anda?

4 responses to “Satai atau Sate?

  1. OKE deh!! hehe… =)

  2. Thx. Kalo mau comment ke multiply kok susah yah. Apa harus punya blog juga di multiply. Yang jelas aku sudah mampir hehehe…

  3. kalau gitu, enaknya makan sate-gulai apa satai gule ya?

  4. Enaknya makan gule sate sambil santai… hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s