Tiba di Pati

Malam buta, azan subuh masih jauh belum berkumandang. Rabu, 31 Oktober 02.45 WIB. Akhirnya kupeluk udara kota kecil ini…

Jalanan sepi. Pedagang nasi goreng sudah kukut. Gedung SMP Negeri 8 (dulu namanya Sekolah Teknik alias es-te) dingin dan kelam berdiri. Lapangan voli dan basket terhampar lowong. Dulu aku bermain sepak bola di sini. Dulu masih berumput. Kini tergantikan oleh lantai kavling.

Beberapa menit melangkah, tibalah di rumah, Jalan Kyai Saleh No. 16. Tukang becak Pak Totok yang menjaga Toko Matahari Elektronik (seberang persis rumah kami) masih melek juga.

Di depan rumah sudah menunggu dua ekor kucing kami, Mila dan anaknya, Si Baja Hitam. Mereka kalau malam hari sengaja dikeluarkan dari rumah.

Kuketuk pintu rumah. Mas Wiwin, kakak, membukanya. Lantas muncul Ibu dari kamar. Kukecup keningnya.

Tiada yang lebih nyaman daripada keluarga. Kuhempaskan segala lelah hanya di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s