Karawang, Sumatera, Samudera (Gara-Gara Pengaruh Jawa?)

Pramoedya Ananta Toer pernah geram. Almarhum maestro sastra ini sebal, Bahasa Indonesia terlalu permisif mengadopsi ‘pola’ Jawa.

Misalnya, ketika kita menulis atau menyebut Karawang, Sumatera, Samudera, atau jenis lainnya. Itu adalah bentuk pengaruh Jawa, yang terlalu menyeret-nyeret pengucapan. Misalnya, ‘bengi’. Kurang mantap kalau tidak diucapkan ‘mbengi’. Sama halnya dengan ‘mbalik’, ‘nderek’, dan lain sebagainya. Kenapa tidak lugas bengi, balik, derek?

Sama halnya, kenapa tidak tegas saja menyebut Krawang, Sumatra, Samudra, trampil, justru, dan sebagainya? Toh kita tidak menyebut ‘praktis’ menjadi ‘peraktis’? Sama halnya ‘trengginas’, bukannya ‘terengginas’. ‘Trenggiling’, bukan ‘terenggiling’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s