Rainy Morning

Mendung makin memberat. Hingga jatuh menjadi renyai hujan di pagi ini.

Tadi malam segala barang yang kuperlukan sudah aku pak. Sore ini aku harus bergegas ke Pati. Pagi ini matahari malas-malasan menampakkan dirinya. Tertutup awan kelabu. Lumayan, batinku. Maklum, saban hari ibukota selalu diwarnai mengkilatnya terik mentari. Bikin gerah dan panas.

Kutusuri jalan kampung Permata Hijau. Sesuai dengan namanya, kawasan ini memang menyuguhkan permata nan menghijau. Kompleks perumahan mewah yang selalu nampak lengang (punya rumah besar tapi tak mau menempati, apa gunanya?) berpadu dengan hamparan halaman luas yang berisi tanaman hias.

Tujuanku waktu itu ke Carrefour. Bukan untuk belanja, tidak pula untuk menguras isi tabungan ke ATM. Hanya jalan-jalan membunuh waktu. Seperti biasa, pusat belanja ini seakan menjadi mesin penghisap kocek. Berapa banyak orang, tak pernah henti, bertandang ke sini. Aku nikmati saja suasana ini. Lantaran mungkin setidaknya dalam waktu sebulan aku tak ke sini.

Mentari makin meninggi. Kuputuskan melangkah pulang. Malas ngangkot. Jalan saja. Blusukan di areal perumahan megah. Kunikmati saja suasana yang sepi.

Mendung mulai menghitam. Sebentar lagi hujan. Biarlah dia membasahi hatiku yang sudah terbang ke kampung halaman. Tinggal ragaku yang bakal menyusul nanti sore. Aku akan pulang. Pulang sekaligus pergi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s