(Memang) Harus Pulang

Tak setitik pun ada keterpaksaan. Memang demikianlah adanya. Memang demikianlah pakemnya. Sepeninggal Bapak, Ibu jadi sendirian. Dia hanya ditemani oleh Mbak Ngat, pembantu kami. Juga ada Bambang dan Yayuk (nama aslinya Bayu dan Ika), dua anak Mbak Ngat yang bersedia menjaga Ibu di malam hari. Sejak minggu lalu, kami, ketiga anaknya, kembali ke kota tempat kami bekerja. Kakak dan saya di Jakarta sedangkan adik di Tobelo, Maluku Utara.

Kendati sudah ada kawan di rumah, rasa sepi Ibu tak pernah terusir. Jumat lalu (26/10), tensinya memuncak, 250/130. Masyaallah… Kata dokter, Ibu butuh istirahat dan kalau bisa dikancani oleh anaknya.

Itulah yang memantapkan saya harus pulang. Saya hendak tinggalkan sejenak ingar-bingar ambisi megejar masa depan (?) -atawa yang jamak orang menyebutnya karir. Tak perlu lagi berpikir muluk. Orang tua adalah nomor satu.

Syukurlah, Sabtu (27/10) Ibu kontrol dan tensinya turun menjadi 200. Berkat perawatan tlaten Mbak Ngat yang menyuguhkan timun, sledri, dan semangka.

2 responses to “(Memang) Harus Pulang

  1. sabar ya… hmm, aku juga tengah menghadapi dilema yang hampir mirip. tentang ibu, tentang kesepian orang tua, tentang egoisme anak…
    Moga ibu cepat segar:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s