Wajah Pati Kian Sumpek

Bagaimanapun juga, Jakarta adalah kiblat. Hampir dua minggu liburan mudik Lebaran saya manfaatkan mendekam di kota kelahiran, Pati Bumi Mina Tani. Semuanya berangsur berubah. Alun-alun makin rame. Dan semuanya berkaca pada Jakarta. Di sudut-sudut terbangun properti: plasa. Padahal, tak jarang setiap gerai sepi pengunjung. Daya beli masyarakat dikuras sedemikian rupa, seolah-olah kondisi kota kecil ini sama dengan kapital negara ini.

Becak naga (odong-odong) berseliweran menusuri bundaran alun-alun. Padahal, di tanah Betawi, becak yang mengangkut bocah dengan alunan lagu anak-anak ini berseliweran di gang-gang perkampungan padat. Bukan di pusat kota.

Ah, aku ingin pulang kampung untuk menikmati keunikan yang tak ada di Jakarta. Bukannya menjumpai duplikat Jakarta.

One response to “Wajah Pati Kian Sumpek

  1. Pati, katak hendak jadi lembu. Mau niru Jakarta tapi gak memper babar blas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s