Menggagas Asuransi Profesi Jurnalis

Sudah saatnya kuli tinta tak gentar akan gugatan (sue).

Mantan Presiden Indonesia Soeharto menggugat kasasi (dan dimenangkan oleh Mahkamah Agung) majalah sohor, Time. Tak tanggung-tanggung, nilainya setriliun rupiah. Padahal, modal minimal membuka sebuah media cetak Rp40 miliar. Jelas-jelas angka gugatan ini sangat membangkrutkan sebuah media. Kalau kita tilik Undang-Undang Pers pun, nilai denda maksimal hanya Rp500 juta.

Namun sebenarnya, baik jurnalis per individu maupun media sebagai institusi dapat menyiasati gugatan tak masuk akal seperti itu. Saya baru saja datang ke kantor, pagi mendung ini (23/10). Rasa penat belum pergi benar, sisa perjalanan Yogyakarta-Gambir semalam.

Masuk kantor, saya menyapa konsultan edisi bahasa Inggris Hukumonline (tempat saya bekerja), Rob Baiton -sekaligus maaf-maafan pada suasana Syawalan, meski dia nonmuslim. Dia berasal dari Ausie. Lantas dia menyodorkan secarik kertas print-out email dari koleganya, Nicole Murphy. Nicole sendiri adalah pengajar jurnalisme di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT).

Isi perbincangan mereka berdua, Nicole menanyakan apakah jurnalis Indonesia ikutan professional indemnity and public liability insurance? Rob mengulang menanyakan hal itu kepada saya. Saya jawab, setahu saya belum ada perusahaan asuransi di Indonesia yang menawarkan jasa seperti itu. Paling-paling cuma asuransi keselamatan kerja atau kesehatan. Muhammad Yasin, redaktur pelaksana kami, sebelumnya juga ditanyai Rob. Jawabannya pun sama: tidak ada. Rob pun memasang tampang kurang puas. Dia bilang negeri kanguru sudah punya produk semacam ini. Apalagi, dia sudah mengobok-obok search engine maya, tetap saja hasilnya nihil.

Saya tanya balik, apa manfaat asuransi jenis itu? Rob menguraikan, asuransi ini untuk menalangi, misalnya gugatan hukum yang gedenya mengiris akal sehat dan rasa keadilan -contohnya yah kasus Time itu. Intinya untuk menangkal pihak-pihak yang kepala batu, emoh menempuh mekanisme hak jawab, perundingan, atawa mediasi. Pihak tersebut tentu saja yang gerah atas pemberitaan media.

Saya tanya lagi, sama halnya ini juga berguna bagi dokter yang dituding malpraktek? Persis, jawab Rob.

Berangkat dari hal itu, kira-kira bisa gak yah, industri asuransi negeri ini melempar produk yang satu ini?

Sttt, kita tanggalkan dulu deh debat, kalau ini asuransi yang mengkover kerja profesi wartawan, berarti jurnalis profesi dong, bukan buruh??? Tetap saja jurnalis itu buruh. Hanya lantaran dia bertugas melayani publik (dengan informasi), makanya ada irisan karakter profesi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s