Mengenang Bapak (9) Dua Kucing Kami pun Menyusulnya

Si Kipli dan Koplo, dua kakak beradik kucing kami mati pada hari ketiga Lebaran (15/10).

Keduanya adalah anak Mila, kucing mungil kembang telon. Keduanya juga sama-sama bercorak putih-merah. Kipli sebenarnya punya saudara sebaya, Saprul. Keduanya bercorak kembar. Namun Saprul dibuang Ibu karena nakal. Sedangkan Kipli pendiam. Kipli kesayangan Bapak. Dia suka membangunkan Bapak dengan menggigit-gigit jari kaki Bapak di subuh hari.

Sedangkan Koplo lahir kemudian, dengan saudara sebaya, Si Baja Hitam. Si hitam lucu, kakinya berambut (bukan bulu loh) putih. Jadi dia kelihatan kayak pake sepatu putih. Atraktif. Suka pencolotan dan main-main. Beda dari Koplo yang kurang trengginas dan lemes.

Nampaknya Koplo mengidap penyakit sehingga pertumbuhannya lambat. Puncaknya, pagi itu dia mati lemas karena sudah lama tak doyan makan. Saya sudah berusaha mengobatinya setiap hari dengan meneteskan larutan kapsul Dumex. Dengan rutin saya bersihkan matanya yang bloloken. Saya sedih kehilangan dia. Pagi itu saya gali kuburnya, di halaman belakang rumah.

Sedangkan Kipli lemes sudah tiga hari. Dia tak berdaya, dan selalu pergi ke kamar mandi atau tempat cuci piring. Dia rebahkan badannya, dia sandarkan perutnya ke lantai basah. Rupanya dia keracunan. Ada orang yang menjebaknya dengan makanan. Sebelumnya dia juga pernah keracunan. Namun berkat air kelapa, dia muntahkan racun itu dair perut.

Adik dan saya sudah berusaha mendulangkan air kelapa ke mulutnya. Namun Kipli tak berdaya. Adik mencobanya dengan susu. Pun tak ada hasil. Lalu berganti dengan air madu. Sia-sia. Dengan air larutan Dumex. Malah parah: badannya dredeg alias menggigil dengan mata melotot.

Lalu kami biarkan dia pergi ke kamar mandi. Mendinginkan perutnya yang panas. Sayang, seperti yang saya tebak, dia hanya tunggu waktu. Saya hanya bisa mengelusnya lalu saya tinggalkan sejenak hingga dia menyusul Koplo pada hari yang sama, di malam hari.

Kembali, saya, kali ini bersama adik, menggali kubur Kipli di dekat Koplo. Mbak Ngatmi, pembantu rumah kami, esok harinya ikut bersedih. Kata dia, Kipli kesayangan Bapak. Mungkin dia memang ingin menyusul beliau.

Kini kucing kami tinggal Mila dan anaknya, Baja Hitam. Serta sekali-kali kucing jantan dewasa kami turut pulang kalau waktu makan: Si Behek dan Dikin. Kalau Dikin sih jarang banget pulangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s