Mengenang Bapak (6) Nonton Film Pernikahan Kakak

Bapak tak kesampaian melihat album foto pernikahan anak pertamanya.

Setiap arwah yang telah berpulang, akan pulang kembali ke rumah keluarganya setiap Ramadan. Dan pintu griya kami selalu terbuka untuk kalian.

Bapak begitu ingin melihat album foto maupun film rekaman perayaan pernikahan Mas Wiwin, kakak saya. Acara pernikahan itu terdiri dari lamaran (Juni), akad nikah (21 Juli), serta pesta adat Karo (28 Juli). Maklum, kakak dapat seorang Karo dari marga Sinulingga.

Sebenarnya sudah lama film dan foto itu jadi. Lagipula foto tersebut diambil dengan kamera digital. Berkasnya sudah tersimpan di laptop saya. Pun dikopi pula dalam sebuah keping kompak. Sayang, belum juga kakak memilih-milih ratusan gambar tersebut, mana saja yang mau dicetak. Film-nya pun sudah digandakan menjadi sejumlah keping. Piringan tipis itu juga sudah dikirim ke rumah via titipan kilat.

Sayang, film itu berformat digital versatile disk alias dvd. Sesampai di rumah paket itu, Bapak dan Ibu senangnya bukan main. Mereka ingin nian melihat hasil rekaman video itu. Bapak berlari ke tetangga belakang, minta diputarkan. Maklum, di rumah kami tak punya pemutar dvd (dvd player). Celaka, tetangga hanya punya vcd player. Ada yang menyarankan, dvd itu diubah saja (converted) ke format vcd. Tapi, satu keping dvd memorinya bisa saja menjadi enam keping vcd.

Akhirnya Bapak bisa melihatnya setelah seorang temannya menawarkan nonton saja di kediamannya. Kakak dan istri sebenarnya sudah berjanji membawa album foto pernikahan mereka, Lebaran nanti. Sayang, niat tersebut tak tercapai lantaran Bapak mangkat Ramadan ini (3/10).

Jumat malam menjelang Lebaran (12/10), di luar sana berkumandang takbir dari masjid besar. Kami berkumpul di rumah: Ibu, kakak, saya, dan adik. Saya pulang bawa laptop. Kami buka file foto pernikahan. Di sanalah kami bisa mengintip wajah beliau. Lantas kami putar film pernikahannya, mulai dari akad nikah hingga pesta adat. Di sana juga terlihat Bapak. Begitu gembiranya dia. Mengantarkan anaknya ke jenjang perkawinan. Bapak dan Ibu juga turut menari khas Batak beberapa babak. Gerakannya lucu karena tak terbiasa.

Lalu kakak dan adik pergi beli pempek khas Pati. Ibu beranjak tiduran ke kamar, serta sesekali mengerjakan beberapa hal: membuka-buka berkas arsip Bapak atau berkaca di meja rias. Tinggal saya sendiri yang masih di ruang tengah meneruskan nonton film. Ditemani Kipli, si kucing kesayangan Bapak. Dia baru saja pulang sehabis dolan seharian. Di tengah kami berdua, serasa ada yang hadir. Entah siapa, tak ada tapi nyata. Sebutir kaca mencair hangat dari mata saya. Saya usap dengan kaos.

Bapak, kau pasti turut menonton film ini, bersama kami. Juga tentu ada nenek dan kakek. Kalian pasti pulang ke sini selama puasa ini, menjaga kami yang masih di alam dunia ini. Kami sayang kalian setiap hari…

…Lebaran, malam pertama (13/10). Kami sekeluarga berkumpul di ruang tengah. Pintu luar diketuk. Ternyata para tetangga yang hendak bertandang. Lalu menyusul pula Bang Min, Pak RT. Kami putar lagi film pernikahan kakak. Para tetangga senang dan antusias melihatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s