Nasib Buruh Kebun Sawit

Mereka berangkat dengan biaya yang didapat dari utang sana-sini. Setiba di tanah rantau, mereka harus nambah utang guna beli peralatan. Belum lagi dibebani sewa kompor (alat masak) dan ngontrak kamar. Harga sebiji kelapa hanya seribu rupiah.

Ini obrolan keluarga kami dengan para tetangga yang melayat ke rumah. Maklum, Bapak baru saja mangkat. Seusai tahlilan, acara berlanjut dengan jagongan di teras depan. Tak terasa malam makin melarut namun keintiman kami makin terasa dengan berbagi cerita. Keakraban sudah menjadi ciri utama. Dasar, kisah sedih bisa dibungkus pula dengan bumbu ger-geran. Begini ceritanya.

Beberapa bulan lalu, ada lima orang warga RT 1/RW 1 Pati Lor, tempat tinggal kami, yang hendak berangkat ke Sumatra. Alasannya, hendak mengadu nasib di kebun sawit. Gengsi keluarga masing-masing makin membumbung, ketika melepas putra terbaik mereka ke tanah seberang. Motifnya sederhana: demi mendongkrak rezeki. “Si Fulan mau merantau ke Malaysia,” timpal ibunya bangga. Padahal, pemiliknya memang cukong jiran, hanya punya kebun di Sumatra (masih tanah Indonesia juga).

Sayang, ongkos transport jadi kendala. Ada orang tua yang hanya bisa nyangoni anaknya Rp50.000. Padahal per orang harus menyediakan tiket seharga Rp500.000. Mengutanglah mereka.

Setiba di sana, harapan tak kunjung menyata baik. Untuk mengunduh buah kelapa, buruh kudu punya alat penggerek. Semacam tongkat penyonggek. Harganya Rp900.000. Utang lagi utang lagi.

Hasilnya juga tak seberapa. Mereka hanya menerima upah Rp1.000 sebuah. Untuk keperluan pangan, alah-alah, mereka dipalak sewa kompor. Tak jarang mereka harus berbagi rasa, sepiring bersama dengan buruh lainnya. Belum lagi urusan sewa kamar. Aduh…

Ini kerjaan macam apa? Cobalah bayangkan, Anda adalah seorang juragan yang punya pembantu rumah tangga. Anda gaji dia, namun Anda rampas kembali dengan alasan harus sewa kamar karena nginep di rumah Anda; sewa listrik dan air karena numpang mandi di rumah Anda; bayar makan karena nebeng di rumah Anda.

Atau, bayangkan jika Anda adalah pemilik surat kabar. Namun Anda palak jurnalis Anda dengan menyuruh berlangganan koran yang mereka tulis sendiri. Atau sunat gaji karena sudah ‘menyewa’ peranti kantor: internet, telepon, alat perekam, atau kamera. Memuakkan.

Ketiga orang tetangga gak kuat dan hanya bertahan dua bulan. Lantas mereka kabur balik kampung. Kini mereka kembali menganggur. “Wah, bisa-bisa utang mereka dibebankan kepada teman sekampungnya yang masih tinggal. Mandor atau juragan kan gak mau tahu,” tutur adik saya lirih, mengomentari.

Tiada beda dengan kondisi kolonoal Belanda. Sumatra memang tenar dengan hasil kebunnya. Namun kulinya sengsara alang kepalang. Kalau melarikan diri dan tertangkap, mereka bakal terjerat hukuman berat. Poenale sanctie.

Hey, sadarlah, minyak yang kita gunakan menggoreng, sabun yang kita gunakan mandi, berasal dari jerih payah parah siapa???

2 responses to “Nasib Buruh Kebun Sawit

  1. Saya sangat prihatin mendegar cerita saudara, tapi cerita saudara hanya segelintir cerita dari banyak cerita yang baik dan sukses. Banyak saya temukan orang2 dari tanah jawa yang merantau ke sumatera untuk bekerja di perkebunan sawit yang hidupnya cukup makmur — setidaknya mereka bisa makan nasi setiap hari dengan ikan/ayam dan sayuran segar yang dapat memenuhi kebutuhan 4 sehat mereka. Jadi tidak pada tempatnya menvonis sesuatu hanya karena dari sepenggal cerita/bukti saja. Seperti pepatah “gara2 nila setitik, rusak susu sebelanga”

  2. Saya jadi agak geli membaca komentar Saudara. Tulisan di atas tak ada satu maksud untuk merusak citra sebelanga perkebunan sawit. Bukan pula memvonis sesuatu hanya dengan sepenggal bukti/fakta. Bukan pada tempatnya? Hmmm ini makin bikin saya tergelitik. Lantas di manakah tempatnya kebebasan berbicara? Toh ini blog saya pribadi. Saya tahu betul, informasi harus berimbang. Seperti halnya posting komentar Anda yang menceritakan kisah sukses orang rantau, tak saya moderasi sama sekali. Saya tahu betul, sebagai jurnalis, harus berimbang. Sayang, ini blog, bukan media. Buah pikir saya pribadi, inilah tempatnya. Jika ada komentar sebagai info (asal berdasar pada fakta, yang mungkin, memang belum saya ketahui) penyeimbang dari para pembaca, saya sangat bersyukur. Supaya bisa cover both side -istilah jurnalistiknya. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s