Mengenang Bapak (5) Yayuk dan Bambang

“Yuk, Yayuk…”

“Jenengku Lala e Dhe…” (Namaku Lala kok Dhe)

Itulah sekelumit godaan Bapak kepada anak-anak kecil. Dan anak itu tak terima namanya diganti seenaknya. Kalau cewek dipanggil Yayuk, kalau cowok dipanggil Bambang. Parapan (julukan) itu selalu Bapak lontarkan kepada anak-anak kecil. Bapak memang penyayang anak. Mungkin lantaran dia mengidamkan seorang cucu. Mas Wiwin baru saja menikahi Mbak Gita Juli lalu. Betapa bangganya waktu itu, Bapak sudah punya mantu. Meski dua anaknya (saya dan adik) belum menyusul si sulung.

Saya punya sepupu, Mas Amin yang sudah punya anak dua -bersama istrinya, Mbak Niken. Mas Amin adalah putra Pak Dhe Fauzan -yang tinggal di Bojonegoro. Sewaktu pesta pernikahan, Bapak mewakili Dhe Yan sebagai wali. Maklum, Dhe Yan fisiknya sudah melemah. Dhe Yan adalah kakak ketujuh ibu saya. Sedangkan Ibu adalah anak bontot dari sepuluh bersaudara. Sebenarnya Ibu punya satu adik, namun meninggal ketika kecil. Dhe Yan dan istrinya, Dhe Jum, punya dua anak: Mas Amin dan Dhik Dwi. Praktis saya hanya punya satu adik (sepupu) perempuan.

Putra Mas Amin sangat senang jika dekat dengan Bapak. Selalu nyaman bersama Si Mbah. Mereka bercengkrama memandikan burung, menyemprotnya dengan sprayer. Atau sekadar bermain. Manut nian dia dengan Bapak.

Selain penyayang anak kecil, Bapak juga penyuka binatang. Kami selalu memelihara kucing. Sebagian besar nama mereka berasal dari ide Bapak. Ada Duryat, Dikin, Mila, Behek, Bujel, Kikik, Fefe, dan nama lucu lainnya. “Bapakmu nek njenengi kucing lucu-lucu,” komentar para tetangga (Bapakmu kalau memberi nama kucing lucu-lucu). Setelah pensiun, Bapak juga mengisi hari memelihara burung.

Kebiasaan me-Yayuk-Bambang-kan nama orang lain juga menular ke kami, anak-anaknya. Terutama Mas Wiwin. Teman sekolahnya dia ganti nama menjadi Pongge (isi buah durian dalam Bahasa Jawa) atau Ramso. Pernah Ibu kebingungan cari-cari Mas Wiwin. Pamitnya, kakak dolan ke Ramso, di kampung Kauman. Celakanya, semua tetangga tak tahu dan tak pernah dengar nama Ramso di sana. Dasar, karena nama Ramso khusus dari Mas Wiwin, sebagai bahan iseng di sekolah. Usut punya usut, nama aslinya siapa, sayang saya lupa. Yang jelas, jauh dari Ramso.

Adik saya punya kawan sekolah namanya Wibi. Lantas Bapak ganti menjadi Mulyono. Alah-alah, sewaktu Anjar, adik saya, bertandang ke rumah Wibi, adik Wibi menyahut, “Gak ada Wibi. Yang ada Mulyono.” Bahkan ‘Mulyono’ dengan bangganya menerakan namanya di dada kiri seragam sekolah: Mas Moel. Dasar. Wabah ganti nama dengan cepat menyebar.

Tapi itu bukan demi maksud olok-olokan. Melainkan semata untuk lebih akrab. Jiwa sosial Bapak begitu tinggi. Mudah akrab dengan kalangan manapun. Bahkan di antara kami sekeluarga, punya nama parapan tersendiri. Ayah memanggil Mas Wiwin Pupon atau Raja Firaun. Sedangkan Anjar dipanggil Nolmbu. Saya? Mereka panggil Dodik. Bapak kami panggil Golok (Mbah Golok, nama udara Bapak sewaktu marak brik-brikan atau radio amatir) atau Gondol -gak nyambung banget dengan nama aslinya, Haryanto. Sedangkan Ibu tetap dipanggil Bu Is.

One response to “Mengenang Bapak (5) Yayuk dan Bambang

  1. Yang lebih heboh lagi, ada seorang anak Bapak ganti namanya menjadi Tarsan, lantaran wajahnya mirip pelawak Srimulat itu. Lucu kalau mengingatnya. Kini semuanya menjadi kenangan yang indah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s