Mengenang Bapak (4) Mantan Kiper Tangguh

Badannya memang sudah ringkih tergerus usia. Anda bisa lihat header ini (berbaju hitam sedang menyulut rokok). Wajahnya lebih tua daripada usia sebenarnya. Kendati kondisinya merosot, Bapak adalah kiper nan hebat (dulu). Bapak lahir di Jepara 55 tahun silam. Dia teman sepermainan ikon sepakbola Kota Kartini, Kamal Junaidi. Kamal mendahuluinya. Dan nama Kamal diabadikan menjadi tajuk stadion kebanggaan warga Jepara, kandangnya Laskar Kalinyamat, Persijap.

Lantas Bapak hijrah ke Pati. Dia bekerja di BRI. Hobi bersepak bola masih bisa tersalurkan. Kadang juga ikut voli. Maklum, perusahaan seringkali punya wadah kebersamaan karyawan, sesuai dengan minat mereka. Selain berolah raga, Bapak juga meramaikan band BRI. Tiap kali acara halal bihalal atau ultah perusahaan ini, Bapak tampil sebagai pembentot bas.

Dia bermain kidal. Mengandalkan tangan kiri. Sebagai kiper, Bapak kudu jatuh-bangun. Konsekuensinya, tulang selangka kanannya sempal. Selain memperkuat Tim BRI, Bapak juga bagian dari tim elit se-Pati waktu itu, Tunggul Wulung. Berkali-kali klub ini menjuarai kompetisi lokal.

Sayang klub ini bubar lantaran terbelit minimnya modal. Maklum, olah raga belum bisa menjadi industri subur nan menjanjikan (karir atletnya). Bahkan, para pembesar (orang yang membesarkan, bukan orang yang sok besar) klub kudu tekor merogoh kocek pribadi membelikan sepatu dan peranti lainnya yang dibutuhkan para pemain. Untunglah kala itu ada seorang keturunan Tiongkok yang bersedai membandari klub. Namun sepeninggal beliau, eksistensi Tunggul Wulung pun memudar pada 1980-an.

Waktu SMP, saya bangga memakai seragam hijau-ungu. Di dada tertulis Tut Wuri Handayani. Di belakang, tertera nomor punggung 1 bernama Haryanto. Itu kostum kiper Bapak. Sayang, jersey tersebut saya berikan kepada teman sepermainan yang menjadi kiper tim kecil kami dan tidak kembali. Gandung, teman saya itu, sudah keburu pindah ke Blora.

Teringat saya pernah memakai sepatu bola Bapak, padahal dia hendak main. Sepulangnya dari kantor sore hari, dia mencari saya yang bermain di tetangga belakang. Geli juga saya mengingatnya. Waktu itu saya belum sekolah. Kalau tidak sepatu, yah kaos tangannya yang saya pakai iseng.

Engkau lelaki, kelak sendiri (Iwan Fals)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s