Mengenang Bapak (3) Kami Keluarga Demonstran

Pram boleh punya karya apik Keluarga Gerilya. Tapi kami punya kisah nyata sebagai keluarga demonstran. Dan Bapak adalah salah satu bagiannya.

Desember 2005 lalu. Ribuan massa memadati Taman Mini Indonesia Indah. Rupanya mereka adalah pensiunan BRI se-Indonesia. Mereka menuntut jatah pensiun yang lebih layak. Maklum. Puluhan tahun mengabdi, dilepas begitu saja dengan jatah bulanan yang pas-pasan. Padahal mereka masih butuh demi menyambung hidup dan menambal kebutuhan anak yang makin membesar, terutama untuk kuliah. Mereka gak butuh Serikat Pekerja BUMN yang seringkali hanya menjadi kedok batu loncatan elit karyawan tertentu. Di tengah gelombang massa itu, berdirilah Haryanto bin Taman, ayah saya.

Bapak adalah anak terakhir dari lima bersaudara. Dia lahir dari keluarga biasa-biasa saja di Jepara. Pemimpin kultural tidak, pejabat struktural juga bukan, pemuka agama pun tidak. Hanya orang biasa. Namun dia punya jiwa kepemimpinan yang besar. Jiwa sosial yang besar pula. Kepeduliannya tinggi. Makanya dia didapuk menjadi koordinator aksi kala itu. Syukurlah, tuntutan mereka berhasil terpenuhi.

Kami, anak-anaknya, mewarisi ‘darah juang’. Winuranto Adhi, kakak saya, adalah pentolan Partai Rakyat Demokratik Jawa Timur. Dia salah satu mahasiswa buron yang tertangkap dan mendekam di LP Medaeng, setelah sempat nginep di Bakorstanas Surabaya. Rezim pongah Orde Baru yang akhirnya terguling juga, begitu takut pada sekelompok muda idealis. Kakak belajar di Universitas Muhammadiyah Malang 1995-2001. Kini menjadi editor Majalah Perkawinan, setelah melanglang di Koran Memorandum, Majalah Trust, Harian Bisnis Indonesia Edisi Jawa Timur, dan Majalah Lisa.

Saya sendiri aktivis kampus. Sebenarnya saya pegiat pers mahasiswa (persma) Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, EQuilibrium. Saya merasa perjuangan pena saja tak cukup. Perlu diimbangi perjuangan turun ke jalan. Saya pernah kolaps lantaran mogok makan seminggu menentang kenaikan biaya pendidikan, pada semester pendek 2002. Saya kuliah 2000-2004. Kini saya menjadi jurnalis Hukumonline.com.

Adik saya, Ginanjar Rah Widodo, adalah calon pegawai Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan. Dia lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara 2003-2006. Kini dia dinas di Tobelo, Maluku Utara. Sewaktu SMA, ketika baru-barunya kelas tiga, dia demo menentang kenaikan biaya sekolah. Aksinya serempak seluruh siswa dari kelas satu hingga kelas tiga. Itulah aksi pelajar pertama di kota kecil Pati. Buntutnya, kepala sekolah SMA Negeri 1 Pati dicopot.

Sadar tak sadar, kita kehilangan seorang tokoh perlawanan. Saya bangga menjadi bagian dari keluarga demonstran ini. Dan kami tak butuh diembeli nama besar di buku sejarah. Begini saja, sudah cukup.

4 responses to “Mengenang Bapak (3) Kami Keluarga Demonstran

  1. rupanya darah juang menitis secara otomatis ya.

  2. Buah tak jatuh jauh dari pohonnya, kali…

  3. Salut dg perjuangan keluarga demonstran, Smoga bkn hanya dari kluarga demonstran saja yang dapat menjadi demonstran (aktivis). Hidup regeneration of “tokoh Perlawanan”!!

  4. Terima kasih atas komentarnya. Yah semoga memang makin banyak orang yang berani melawan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s