Mengenang Bapak (2)

Rabu (3/10) malam itu saya serasa kehilangan akal. Segala kenangan berseliweran memaceti otak saya.

Di kamar depan, masih terletak balsem Geliga di atas lemari kecil. Bekas buat kerikan Bapak. Habis kerikan Ayah mengucurkan deras keringat hingga beliau mangkat. Saya berlalu meninggalkan kamar. Ke kamar belakang. Di sinilah Bapak biasa melepas penat bersama Ibu. Lalu saya ke halaman belakang. Di sana masih teronggok tiga pelepah pohon pisang. Bekas memandikan Bapak. Tergeletak pula sampo dan sabun serta losion Citra.

Burung-burung beterbangan hinggap dari sisi sangkar yang satu ke sisi lainnya. Selama ini Bapak merawat delapan burung. Pengisi waktu seusai pensiun dini. Diam-diam Kipli ndlosor di atas tanah. Kucing jantan putih-merah itu minta disayang. Padahal sebelumnya dia gak mau dijamah orang. Kalau didekati pasti lari. Tapi Kipli berubah karena selalu disayang Bapak.

Murjayanti, calon istri saya, sudah pulang ke Solo seusai mengantar Bapak ke kubur. Dia melayat bersama Mbak Muji, kakak ketujuhnya dan Mas Sujarwo, kakak keduanya. Juga ada Aji, anak sulung Mas Jarwo.

Saya lebih suka panggil dia Golok. ‘Nama udara’ Bapak sewaktu ngebrik alias bermain radio amatir -Mbah Golok. Saya lebih anggap dia teman daripada seorang ayah. Dan dia tak masalah meski kami berlaku di depan banyak orang. Tak ada yang tertutupi dari hubungan kami.

Malam itu serasa hampa. Semoga doa tahlil dan surat Yasin terkirim dengan baik untukmu.

Kamis (4/10) adalah malam ganjil Ramadan. Siang serasa panas gerah. Angin bertiup kering membawa debu. Namun malam serasa sejuk. Silir. Kendati tanpa hujan. Langit begitu cerah. Tiada mega mendung menggantung. Lazuardi begitu biru tua. Namun terselubung selaput tipis putih. Adakah rombongan malaikat turun ke sini mengumandangkan doa? Inikah Malam Seribu Bulan? Semoga Bapak pun turut mengincipi malam berkah ini.

2 responses to “Mengenang Bapak (2)

  1. barang-barang yang kerap bapak pakai, pasti akan meninggalkan kenangan tersendiri. jangan tahan air mata kalau ingin menangis.🙂

  2. Iya Mbak Femi. Saya tak pernah malu karena menangis untuk alasan yang satu ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s