Mengenang Bapak (1)

Hampir seminggu ini dia meninggalkan kita. Tahu tak tahu, sadar tak sadar, kita kehilangan sosok ‘perlawanan’ ini.

“Ra tangi cung? Gak saur?” (Gak bangun Nak? Gak saur?). Pesan singkat itu selalu menyeruak dari layar hape saya saban dini hari. Dan seperti biasanya, senantiasa saya abaikan tak membalasnya. Sms itu dari Bapak. Hingga sms itu tak datang lagi pada Rabu (3/10). Alih-alih, pesan singkat itu berganti panggilan telepon dari rumah Pati. Bukan dari beliau, melainkan dari Mbak Niknok, tetangga dekat, yang mengabarkan bahwa Bapak telah dipanggil Yang Punya. Lidah saya kelu perpaku dan tak dapat melakukan apa-apa. Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, tempat semalam kami rapat, dengan berat langkah kami, saya dan kakak, tinggalkan meluncur bergegas pulang.

Tak terbesit satu pun firasat. Cuma saya pernah bermimpi, gigi atas tanggal. Mimpi itu menghampiri saya pada Minggu malam. Tak saya gubris. Saya juga akhir-akhir ini menulis soal kematian. Soal kisah sopir taksi yang ditinggal (almh) istri, tentang film Memento Mori, resensi film Emily Rose, kisah tentang gadis muda yang meninggal akibat kerasukan… Ginanjar Rah Widodo, adik saya, pernah dikirimi pesan singkat Bapak, “Le, saiki aku wis sregep salat.” (Nak, sekarang aku sudah rajin salat). Beliau hanya bolong dua kali salat tarawih. Termasuk Selasa malam menjelang kepergiannya, lantaran badan terasa tak enak. ‘Pertanda-pertanda’ tersebut sayangnya tidak kami tangkap dengan apik.

Bapak hari itu masih sempat saur. Lalu mencuci piring. Menunggu tukang sampah, hendak membayar iuran bulanan. Lalu ngobrol kecil dengan tetangga. Lantas dada serasa sesak. Minta dikerok Ibu. Tak cukup, minta air panas guna menyeka dadanya. Lalu beliau minta baringan di kamar belakang. Peluh keluar deras. Bantal kasur basah karenanya. Kemudian Bapak pindah ke kamar depan. Sebelumnya minta ditemani Ibu. Lalu dia minta ditinggal saja barang sejenak. Tak berapa lama Ibu kembali ke kamar, Bapak sudah berpulang pada pukul 07:00.

Haryanto bin Taman namanya. Lahir di Jepara, 14 Juli 1952. Beliau tutup usia pada 55 tahun. Bapak disemayamkan di kompleks Segaran, Kaborongan Pati Lor Pati. Lama sebelumnya, Bapak pernah bilang pengen dikebumikan di Jepara saja. Lantas saya sarankan kakak meminta pendapat Pak Muslim, ulama setempat. Pak Muslim menyerahkan keputusan pada keluarga kami saja. Hingga kami memutuskan disemayamkan di sini saja. Area ini juga memeluk jasad Nenek Siti Mutmainah, ibunya Ibu. Nek, kini anak menantumu menemanimu…

Banyak orang yang kehilangan beliau. Tetangga RT 1/RW 1 khususnya, dan warga Pati Lor umumnya. “Kita kehilangan putra terbaik kelurahan ini,” tutur Pak Lurah memberi sambutan. Para pegawai dan pensiunan BRI, tempat Bapak mengabdi, juga berbondong melayat. Bapak dicintai dan dikagumi banyak orang.

Beruntung kami, saya, kakak, dan kakak ipar, sampai rumah pukul 14:00. Sudah banyak orang menunggu kedatangan kami. Ibu terduduk terisak lemas. Pun Dhe Sri, kakak kandung Ayah. Dhe Sri hanya bisa tersimpuh di depan jenazah. Juga ada putra-putri Dhe Sri, keponakan Bapak. Mereka sangat kehilangan. Langsung saya dan kakak menyalatinya. Rombongan mengantarkan jenazah dan mengebumikannya pukul 15:00. Saya hanya bisa berkirim surat Yasin saban malamnya. Semoga bisa lancar membacanya tujuh hari berturut-turut. Bapak, maafkan anakmu yang tak bisa membahagiakanmu.

5 responses to “Mengenang Bapak (1)

  1. Kawan-kawan,
    Terima kasih atas ucapan belasungkawa dan panjat doanya. Berbagai pesan singkat maupun panggilan telepon telah kami terima. Berbagi kesedihan akan menyisakan setengahnya, dan berbagi kebahagiaan akan melipatgandakannya. Bapak/suami kami, Haryanto bin Taman, telah dipanggil Sang Pemilik, Rabu 3 Oktober 2007, pukul 7 pagi. Jenazah telah disemayamkan di Pati, hari itu juga pada pukul 15.00.

    Selasa malam, saya dan kakak bersama pengurus menghabiskan waktu di meja rapat AJI Jakarta. Tiada firasat apapun. Hanya saya tak bisa tidur sehingga membunuh waktu dengan berinternet dan nonton MU-Roma. Mata tak mau terpejam hingga azan subuh berkumandang. Hingga datanglah panggilan telepon dari Pati.

    Adik saya, Ginanjar Rah Widodo, sebelumnya alang kepalang gembiranya menerima kabar dari beliau, “Le, aku saiki rajin salat (Nak, aku sekarang rajin salat).” Tarawih hanya bolong dua hari. Namun di balik pesan itu tak terbesit pun firasat. Sama halnya saya yang bermimpi gigi atas tanggal, Minggu malam sebelumnya.

    Bapak adalah pria yang membanggakan. Di saat kita, kaum jurnalis -yang notabene menggenggam kunci akses informasi, tengah terengah-engah merenda metode juang, baik dalam menjalani profesi maupun sebagai buruh, beliau sudah melewati tahap perjuangan ‘paska-buruh’ .

    Di saat kita masih tertatih berjalan mewujudkan kebebasan berserikat di media masing-masing, dia sudah melakukan lebih dari apa yang hendak kita lakukan. Tak hanya buruh, kaum pensiun pun berserikat! Bersama enam ribuan mantan karyawan BRI se-Indonesia, Bapak (sebagai koordinator aksi) melabrak direksi untuk memperjuangkan hak pensiun yang layak. Dan berhasil. Jiwa sosialnya tinggi. Dan yang paling membanggakan, dia lakukan tanpa pamrih. Dia sudah melakukan sesuatu, jauh melebihi apa yang dia mampu. Tamatan STM ini telah tunai menguliahkan ketiga putranya hingga lulus semua.

    Sekali lagi terima kasih atas semua dukungan dan doanya. Kami atas nama keluarga tak mampu membalas setimpal. Jika ada sesuatu yang kurang berkenan dari beliau, mohon dimaklumkan. Jazakumullah khairan kasira.

  2. Dia kadang kasih pertanda lewat banyak hal yang mengitari kita, cob. sayangnya, keseharian dan rutinitas mengaburkannya.

  3. Pertanda baru jelas terasa setelah mereka yang kita cintai telah tiada.

  4. Yacob, ndherek belasungkawa ya .. biarpun sudah telat banget…

  5. @bram: Inggih Dhik Bram. Bram jangan nakal yah… Salam buat Ibuk dan temen-temen di Kontan…ūüėČ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s