A Tribute to Kenji Nagai

Satu lagi jurnalis gugur di medan konflik. Kenji Nagai, pemotret yang berusia setengah abad itu syahid di tengah kecamuk Myanmar (27/9).

“Kekuasaan adalah kekuatan orang-orang papa.” (Aung San Suu Kyi) 

Orangnya pendiam. Namun hal itu tak menyurutkan kemampuannya mendekati narasumber. Tiap kali jurnalis Jepang ini menjamah daerah konflik, yang dia kedepankan adalah simpati terhadap para korban. Afganistan maupun Irak telah ia ‘taklukkan’. Namun roda nasib berhendak lain di tanah Burma. Kenji tertembus peluru tajam, dari bawah dada hingga ke punggung. Kala itu dia hendak membuat laporan tentang aksi protes massa terhadap pemerintah militer Myanmar. Kenji terjebak di tengah kacaunya suasana ibukota Myanmar, Yangoon.

Tentara begitu gelap mata dan ringan tangan, menghantam siapa saja yang mengabadikan proses pembubaran gelombang massa yang semakin membesar. Siapa saya yang membawa kamera atau hape berkamera bakal kena pukul ala barbar.

Junta militer menuai gelombang protes yang terus-terusan. Aksi damai para biksu diimbangi dengan penyekapan dan pembantaian. Wihara lumpuh. Padahal memukul rahib sama berdosanya dengan menganiaya orang tua sendiri.

Jalur internet juga lunglai. Penguasa militer nan pongah hendak memotong akses informasi. Mereka pengen menutup mata dunia yang ingin melihat apa yang sedang terjadi di tanah Aung San Suu Kyi ini.

Inilah bukti nyata, otoritarianisme adalah musuh demokrasi. Kediktatoran adalah musuh kebebasan pers.

Selamat jalan Kenji…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s