Ngobrol Bareng Kwik Kian Gie

Sekian lama ekonom dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini tak menampakkan batang hidungnya. Kali ini Kwik Kian Gie turun gunung. Kamis siang itu (27/9), Kwik diundang oleh Panitia Kerja Bantuan Likuiditas Bank Indonesia DPR (Panja BLBI). Kapasitasnya sebagai mantan Menteri Koordinator Bidang Keuangan era Presiden Gus Dur. Datang pula mantan Menko Ekonomi lainnya, Rizal Ramli.

Sebelum acara dimulai, saya berkesempatan ngobrol banyak dengan pria asal Juana, Pati -well, sedaerah dengan saya. Rupanya dia sudah mulai berbincang dengan Ruis si jurnalis Kontan dan Pedro sang pewarta Rakyat Merdeka. Saya pun turut nimbrung. Tutur katanya halus dan runtut. Beda nian dengan orasi berapi-apinya di muka Panja BLBI. Apalagi ketika berkonfrontasi dengan para anggota dari Fraksi PDIP. Berikut petikan obrolan santai ini:

DPR saat ini menggalang interpelasi soal BLBI. Tanggapan Bapak?
Buat apa? Semuanya tidak jelas. Yang diinterpelasi apa, yang dimasalahkan apa? Kalau peristiwa itu merugikan negara, memang iya. Kalau itu urusan besar, itu iya. Tapi ketika masalah itu muncul pertama kali, berentet kebijakan yang diambil salah, sudah ada yang mengingatkan langkah itu salah. Tapi tidak digubris. Tidak dianggap dan jalan terus. Ketika sudah rusak total seperti ini, empat tahun kemudian, rame lagi. Mestinya DPR tanya, ada apa -meskipun telat mikir? Kalau saya secara teknis disuruh menjelaskan, urutannya seperti apa, saya bisa. Tapi saya kira anggota DPR sudah tahu sudah hafal.

Menurut saya, mungkin BLBI ini menarik bagi anggota dewan yang masih baru. Mereka kan terpilih pada 2004. Jadi buat mereka menarik secara akademis. Mungkin mereka tidak sadar. Sebab ini adalah kesalahan fatal di masa lampau. Tapi kesalahan itu sudah dilakukan. Ibaratnya nasi sudah jadi bubur, buburnya sudah habis dimakan. Eksistensinya sudah tidak ada.

Bisa juga DPR gerah melihat pemerintah lamban menangani kasus ini?
Kalau kenyataannya, memang riil. BLBI tidak ditanggapi secara cepat. Memang masih belum selesai. Jadi yang utang kepada negara dengan cara perbankan sebagian memang sudah selesai sesuai dengan cara yang dikehendaki oleh pemerintah. Tapi empat pihak yang menghebohkan sowan ke Istana kan belum tuntas. Sampai sekarang kan tidak selesai. Bagaimana Menkeu menyelesaikan?

Kalau diungkit lagi mengancam kepastian investasi?
Yah, bisa. Oleh karena investor berpikir, kalau saya melakukan sesuatu yang sudah sejajar seperti saat ini, sama sekali sudah cocok dengan kebijakan pemerintah, nanti empat tahun kemudian diungkit lagi? Berpikirnya kan seperti itu.

Yang lebih penting di kemudian hari, jangan mengambil kebijakan yang menimbulkan krisis. Makanya sebaiknya DPR menelaah kebijakan tim ekonomi sekarang ini, membuka peluang krisis kembali atau tidak? Menurut saya iya. Karena tidak ada lagi pembatasan keluar-masuknya modal. Modal jangka pendek mudah masuk, kalau ditarik juga kacau lagi. Kalau begitu akan terulang krisis lagi.

Memangnya kebijakan sekarang seperti apa?
Liberal total. Semuanya dibuka. Kalau menurut pendapat saya, dari dulu saya terang-terangan, kalau tim ekonomi dipegang oleh mahzab tertentu, hasilnya yah begini ini. Mulai dari Pak Wijoyo Nitisastro, terus menurun ke generasi selanjutnya, Ali Wardana, Subroto, Moh Sadli, Emil Salim, JB Sumarlin, lalu sekarang nampak dalam personifikasi tiga orang: Boediono (Menko), Sri Mulyani (Menkeu), dan Marie Pangestu (Mendag).

Mahzab ini pernah berhenti sebentar saja, hanya satu tahun. Ketika saya menjadi Menko dan Bambang Sudibyo sebagai Menkeu. Tapi kelompok ini kan tidak tinggal diam. Mereka menggencet habis saya. Presiden Gus Dur disuruh segera pecat saya, cepetan mecat. Dan akhirnya tidak memecat, tapi lewat reshuffle. Sebelum kocok ulang saya sudah mengundurkan diri. Dalam reshuffle Pak Bambang Sudibyo kena kocok ulang karena beliau gak mau mengundurkan diri.

Setelah itu, Bu Megawati Sukarnoputri naik sebagai presiden, mahzab itu masuk lagi. Boediono (Menkeu), Rini Suwandi (Menperindag), Laksamana Sukardi (Meneg BUMN). Semua liberal. Pro Amerika. Sampai saat ini. Lobi Amerika sangat kuat menekan kita.

Ada manfaatnya bagi kita gak mahzab Berkeley ini?
Itu tergantung prasyarat yang kita persiapkan sendiri. Itu yang krusial. Kalau hanya asal buka, tidak transparan, masyarakat tidak boleh tahu, DPR tidak boleh tahu, yang tahu hanya sesama menteri, yah sangat bisa terjadi. Yang banyak data itu Pak Amin Rais. Dia sudah berteriak modal asing masuk hanya untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia. Lewat pertambangan, mereka mengeduk kekayaan alam dengan cara tidak transparan.

Lalu sektor lain juga boleh masuk dengan bebas. Telepon boleh, satelit boleh, semua jatuh ke tangan mereka. Tidak ada batasnya sama sekali, pembedaan barang mana yang penting bagi rakyat (Pasal 33 UUD 1945) sudah terbuka sama sekali. Sektor edukasi dan pelayanan kesehatan, teve juga boleh, bensin pun boleh, asing boleh masuk.

Kalau kondisi tidak berubah, ke depannya bakal seperti apa?
Elit pemodal asing bakal makin makmur, kekuatan adikuasa memang menghendaki kebijakan kita seperti ini. Hasilnya, jika kita kejar pendapatan nasional melulu (PDB), hanya mengakibatkan kemelaratan bangsa Indonesia, sebagian besar rakyat kita. Dan ini akan berlangsung hand in hand terus-terusan. Bisa sangat lama. Sama seperti Belanda menjajah. Orang Indonesia yang jadi kroni Belanda sangat makmur. Tapi rakyatnya hanya hidup dua setengah sen sehari. Itu bisa berlangsung ratusan tahun, kenapa sekarang tidak. Hanya sekarang praktis rakyatnya dijajah oleh elitnya sendiri, tanpa ada pemberontakan.

Pemimpin mana yang menurut Bapak bisa merombak wajah Indonesia?
Susah menunggu perubahan lewat proses demokrasi. Apa benar Pemilu 2009 membawa perbaikan? Oleh karena itu, cara konstitusional sudah tidak bisa diharapkan lagi. Komunitas madani, cuma bersuara dan tidak ada dampak konkret. Perbaikan hanya bisa diperoleh dari pemimpin manusia yang tegas. Menurut saya ada. Saya rasa Pak Ryamizard Ryacudu. Dia oleh Pak SBY dijanjikan betul-betul jadi panglima, tapi di tengah jalan SBY ingkar janji. Ryamizard adalah pemimpin yang tidak mau menonjol. Kalau tidak dibutuhkan yah tidak. Sepanjang yang saya kenal, iya. Dia ngerti persis neoliberalisme. Tapi tak banyak omong.

Satu-satunya yang berani Gus Dur. Bu Mega, anak kandung Bung Karno saja langsung takluk kok. Makanya nanti saya mau tanya pada anggota Fraksi PDIP, Anda mau apa? Presidenmu saja begitu kok. Itu kan presiden saya juga. Mau apa sok jadi oposisi? Toh juga menjadi antek Amerika. Hahaha.

Tapi tetap jadi partai wong cilik kan?
Apa iya? Kalau dilihat prospeknya kan tidak. Wong ciliknya sendiri merasa ditinggal. Kita lihat saja, kalau Bu Mega keliling apakah dia dipuja atau dihujat? Bisa saja hujatan itu ditutup-tutupi hanya dengan bertandang ke hotel-hotel.

Sekarang kegiatan Bapak apa?
Saya sih cuma ngurus Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII) di Sunter. Kalau saya sih sehari-hari masih di tempat lama. Di Jalan Taman Tanah Abang. Itu kantor saya yang duluuu sekali. Yang pasti tidak ngajar neoliberalisme. Pasti tidak. Hahaha…

Nulis?
Masih. Tapi tak bisa kontinu. Jenuh loh. Tiap hari harus cari topik apa. Sekarang temanya apa sih?

Kawasan ekonomi khusus, peraturan pesangon…
Yah bisa saja sih.

Sejurus kemudian, pintu ruang tunggu tamu terbuka. Dari luar, masuklah legislator asal Partai Amanat Nasional Dradjad Wibowo. Dradjad dengan berat hati memotong perbincangan kami. Dia mengingatkan, rapat dengar pendapat bakal dimulai. Di dalam ruang sidang, Rizal Ramli telah menunggu.

8 responses to “Ngobrol Bareng Kwik Kian Gie

  1. ngobrol dengan kwik kian gie, saya jadi ingat masa-masa sering larut dalam diskusi2 di kantong-kantong kampus dahulu. paparan tentang bobroknya sistem manajemen negeri ini, garong-garong brengsek itu, terlalu sering kita dengar, hampir seperti kaset usang, dan endingnya sering klise: then what? so what gitu loh? ‘ketidakberdayaan’, letih, perih, dan mungkin terancam apatisme.
    Ingat tapal kuda, ingat sintesa, diskusi-diskusi tentang perlawanan terhadap neo-lib…dan cemooh kami sendiri tentang masturbasi intelektual yg sudah jadi mode itu. Ah, romantika. Betapa jauhnya… kangen juga.

    Tentang Kwik. Ini subyektif, tapi saya dari dulu memang salah satu pengagum Kwik Kian Gie. Saat saya berjalan pulang selepas acara tersebut… saya sempat melihatnya naik mobil, ia tengah meneguk air mineral. Pasti haus, di dalam ruangan tadi, dia orasi..dan emosi. Pria bermata sipit yang nasionalismenya mungkin lebih tebal dr saya sendiri (hehe). Dan, yg ada di benak saya adalah kalimat ini… kalimatnya Gie, Aktivis yang takluk oleh Semeru itu,
    “Hidup adalah soal keberanian. menghadapi tanda tanya. menerima perih pedihnya. tanpa kita bisa menawar. tanpa kita bisa mengerti. terimalah, hadapilah.”
    Pencari kebenaran selalu kesepian (kah?)
    Ah, atau saya saja yang terlalu sentimentil….

  2. Sudahlah semuanya sudah berlalu. Sekarang biaya kuliah mahal. Yang mampu kuliah hanya anak-anak borju. Sense of crisisnya tumpul. Atau memang mereka mengidap crisis of sense. Jangankan aksi. Diskusi pun enggan. Yang penting lulus cepet dengan IPK cum laude dan cepet dapet kerja mapan. Gitu toh?

  3. Kuliah jadi mahal karena neolib menjadikan segala sektor sebagai komoditas!
    Disamping itu, kapitalisasi sektor pendidikan merupakan saringan efektif untuk mencetak agen-agen yang akan mempertahankan status quo. Namun, di tengah arus neolib yang kian deras, masih ada segelintir manusia yang berusaha melawan arus. Diskusi kritis di FE masih susah payah kita pertahankan, Bung!
    Doakan…kapan-kapan kita undang, mau?

  4. RIFQI_yang pernah di EQ

    miris mas klo liat kampus sekarang
    hanya sejumput otak kelabu yang nyadar
    itupun samar
    yang namanya neolib itu dah bener2 menggregoti dunia pendidikan
    susah pokokmen
    ke kampus rasanya cma pusing krn liat begitu banyaknya hal yg harus diubah (krn baru tau akhir2 ni klo ada sesuatu yg hrs diubah)

  5. @Riskha: Kapan-kapan kita undang, mau?
    Kayak saya gak pernah (mau) diundang EQ saja…

    @Rifqi: Miris kalo liat kampus sekarang.
    Sejak dulu memang miris. Tapi harus ada aksi daripada gak bisa berbuat apa-apa. Hanya diskusi kayak yang ditawarkan Riskha juga gak bakal mengubah keadaan, tanpa dibarengi dengan aksi nyata.

  6. jadi ngerasa makin banyak yang harus dipelajari…muak jg c ma kuliahan dikampus….pgn cpt kluar…
    tapi bukan sbg pecundang akan ketidakberdayaan….
    bis pulang kmpuang ngerasa kok ilmu gw kayak ilmu ngawang????
    entah apa arti ilmu sekarang…….
    buat riska: mang msh di EQ?????

  7. @desti: yah segala ilmu pasti ada manfaatnya. Cuma, mencari ilmu gak hanya terpaku di bangku kuliah. Jika ingin berguna bagi masyarakat, tak cukup dengan hanya mengunyah buku diktat berbahasa asing, yang tak nyambung babar blas konteksnya dengan masyarakat lokal kita.

    Buktinya, terlalu banyak doktor atau master di bidang ekonomi, toh jurang kesenjangan makin menganga.

  8. Pingback: Sekitar Kompilasi “Visi Mahasiswa Kost-kost an” « Jayalah Indonesiaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s