Saya Rindu Kampung Halaman

Pati, kota pensiunan nan sepi. Saya senantiasa rindu bisa menghirup atmosfer nyaman kota kecil di ujung pantura Jawa Tengah ini.

Puasa semakin berat saja rasanya. Jiwa dan raga tergerus rutinitas yang membosankan dan menjemukan. Saya merasa makin terkucil dan terasing, jauh dari dunia spiritualitas. Padahal harusnya bulan suci ini sangat tepat untuk lebih mendekatkan diri ke Sang Pencipta.

Saya justru merasa ada yang hilang. Ketika sekolah maupun kuliah, kita masih bisa menikmati masa jeda alias liburan. Sekarang, dunia kerja, terlalu memuja materialitas. Tak ada alasan untuk absen sedetik.

Mungkin saya adalah orang yang tak kuat merantau. Saya selalu terngiang pada suara meong kucing saya di rumah. Pasti mereka sudah besar. Atau sang induk beranak cemeng lagi.

Saya rindu pergi ke masjib agung dekat alun-alun. Sehabis tarawih, muter-muter dulu cari hawa di pusat kota. Cari kudapan favorit, mpek-mpek khas Pati. Makanan ini beda loh dengan mpek-mpek palembang. Mpek-mpek pati berisi potongan berbagai gorengan: bakwan jagung, pia-pia (kalau di sini disebut bakwan -tanpa jagung), tempe mendoan, lumpia, tempe goreng, tahu goreng, dan lain sebagainya. Lantas beragam gorengan tersebut ditimpal guyuran kuah dan bumbu kacang. Bumbu kacangnya beda dari bumbu pecel. Bumbu in lebih kental lantaran dicampur tepung.

Atau melahap soto kemiri. Bukan dibuat dari kemiri, melainkan soto ini khas dari Desa Kemiri. Kuahnya kuning bersantan. Gurih dan manis jika ditambah kecap. Ayo sikat dengan berbagai pilihan potongan bagian ayam: kepala, ampla-ati, rongkong, dada mentok, sayap (ini kesukaan saya), sempol (paha), atau pupu gending. Wow sedap.

Setelah itu begadang, menunggu penjual nasi goreng di perempatan Toko Lawet menggeber dagangannya. Sambil melihat pemandangan jalan yang sudah sepi. Permai nian.

Lantas tidur, bangun sahur, salat subuh. Sejenak tidur lagi, esok paginya membantu ibu menyapu rumah dan halaman. Mandi, lalu bermain dengan si kucing. Nonton teve, atau ngetik dengan komputer jinjing.

Siang hari tidur, sore bantu-bantu bersih-bersih rumah. Petang buka, salat magrib, ngaji, menanti waktu isya dan tarawih. Demikian seterusnya hingga lebaran tiba. Walhasil, saya tengah babak belur terkapar dihajar rasa kangen yang tak tertahankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s