Balada Pelayan Resto Fastfood

Yogyakarta, Minggu, 16 September 2007. Dia tak mampu menikmati makanan yang dia sajikan sendiri.

Minggu malam sehabis melepas magrib. Udara cerah. Saya dan Mur, pacar saya, memutuskan mengisi perut di McDonald Malioboro Mall. Maklum, perut belum nendang benar. Hanya terisi dua potong lumpia dan beberapa butir lengkeng beserta sekantong plastik kolak. Buka puasa belum pada menu utama, kira-kira begitu.

Lantas kami memesan satu menu. Duduklah kami di sudut, menghadap dinding kaca yang tembus pandang keluar. Kayak akuarium saja. Sambil ngobrol ngalor ngidul dan nyruput minuman bersoda, kami menanti menu pesanan. Sekali-kali saya lempar pandangan keluar, melihat mobil-mobil yang parkir atau hendak keluar.

Mur memecah ngelangut saya. “Coba lihat Mas yang itu,” ujarnya sambil menunjuk salah satu pelayan. “Kasihan, kayaknya lelah bener,” sambungnya sambil menyeruput semangkuk sup.

Pelayan yang dimaksud berjalan pelan. Langkahnya terseret. Sesekali mendusin melempar keluh. Punggungnya bungkuk udang. Terpaksa benar dia membersihkan meja bekas pembeli. Beberapa sampah tergeletak dan tercecer. Di seberangnya, terngakak-ngakak gerombolan muda-mudi melepas waktu. Dandanan mereka borju nian.

Saya menerawang keluar. Terpantul segurat wajah tipis saya dari kaca. Lamat-lamat wajah tersebut tumbuh jenggot. Saya kira Santa Klaus. Mana ada Santa Klaus muncul puasa-puasa? Setelah lebih cermat saya tamati, rupanya dia Karl Marx.

“Jangan kaget bung,” hardik Marx.

“Kok tumben muncul Kek?” sapa saya.

“Kamu lihat si pelayan? Itulah fakta alienasi. Percayakah kini, buah pikirku?” sambungnya berusaha meyakinkan.

“Keterasingan apa?”

“Dia terasing, bekerja sekeras mungkin namun hasilnya? Dia tak mampu menikmati makanan sajiannya sendiri.”

Saya tertegun beberapa jurus. Saya teringat perdebatan para peneliti dengan pengusaha makanan cepat saji. Kubu pengusaha berpendapat, pekerja remaja dan pelajar sangat terbantu lantaran memperoleh pengalaman. Mereka mengicipi suasana ketat, harus menyajikan dengan cepat dan tepat. Mereka dipacu membuat keputusan dengan cepat dan tepat.

Namun para peneliti menilai, hasilnya mereka kecapekan. Esoknya mereka aras-arasen berangkat sekolah. Yang mereka ingat hanya french fries dan burger. Prestasi mereka merosot, dan tentu saja, karena minim pengalaman, upah mereka pun minim.

“Tahukah kau, pengusaha sedang melobi parlemen guna menyetujui upah sub-minimum. Upah yang lebih rendah dari upah minimum. berlaku untuk pekerja dini usia,” Marx makin merepet.

“Kek, di sini, para buruh juga menjerit lantaran pemerintah mau mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pesangon,” saya mencoba nyambung dengan bahan pembicaraan Marx. Namun bayangnya keburu lenyap.

“Bi, ngobrol sama sapa sih?” Mur memecah lamunan saya.

“Gak pa-pa, Mi,” jawab saya gagu.

Azan isya menyapa telinga.

Mas pelayan menggelengkan kepala, membersihkan meja yang ditinggalkan muda-mudi tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s