Cukup Delapan Rakaat

Tarawih, artinya salat yang bersambung-sambung.

Ramai orang berdebat, sebaiknya salat tarawih delapan atau dua puluh rakaat. Kalau saya sih tak banyak pikir. Saya cukup ambil yang pendek saja. Bukan lantaran malas bin pragmatis. Begini argumennya.

Istri Nabi Muhammad, Siti Aisyah, bercerita, Nabi melakukan salat tarawih sendirian (tidak berjamaah) dengan delapan rakaat. Cuma dalam prakteknya, Sang Nabi selalu merapal surat-surat panjang. Sehingga, Nabi menghabiskan waktu sangat lama.

Para sahabat ingin mencontoh perilaku Muhammad yang senantiasa khusyuk berserah diri berlama-lama. Dengan membaca surat yang lebih pendek, mereka mengambil dua puluh rakaat. Bisa empat rakaat kali lima kali, atau dia rakaat kali sepuluh kali. Inilah uniknya salat tarawih. Salat yang bersambung. Boleh saja sih kita bablas sekali salat dua puluh rakat. Tapi saya yakin, sang imam bakal bingung lupa menghitung sudah sampai rakaat keberapa.

Jadi, mau ambil delapan rakaat silakan, dua puluh rakaat nggih monggo. Tak usah dadi padu (jadi pertengkaran). Kalau saya sih, cukup delapan rakaat dengan surat nan pendek-pendek. Dasar pemalas. Hehehe…

One response to “Cukup Delapan Rakaat

  1. Mengapa kok harus disambung-sambung? Supaya kita akurat menghitung jumlah rakaat, juga biar gak lelah. Maklum, tarawih butuh waktu cukup panjang. Bahkan, sebagai jeda menjelang salat witir, diselingi pula ceramah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s