Komentar Film Spirited Away: Fantasi yang Terlalu Liar

Baik tokoh maupun jalan cerita sangat membingungkan.

Pernahkah terbayang ada manusia laba-laba yang punya delapan tangan nan panjang? Atau manusia kodok? Penyihir berkepala besar? Kutu pekerja? Kepala gelundung? Bayi raksasa? Bocah lelaki yang berubah menjadi naga? Serta makhluk aneh lainnya?

Atau jalan cerita yang (agak) menyesatkan hingga kita susah memahami? Misalnya, kedua bapak-ibu kita berubah menjadi babi? Semua terjadi (dan sah-sah saja) dalam sebuah film kartun, yang berjudul Spirited Away. Film besetan sutradara Hayao Miyazaki ini menyabet Academy Award 2001.

Adalah Chihiru Ogino (suara oleh pemeran Suzuran, Rumi Hiiragi), gadis bocah berusia sepuluh tahun. Bersama kedua ortu, mereka bermobil hendak liburan. Di tengah jalan, mereka berhenti menemukan perkampungan sepi. Anehnya, di sana tertata rapi dan tersaji makanan yang lezat. Ayah-ibu Chihiru melahapnya.

Rupanya, makanan tersebut hanya untuk ‘tetamu’, yakni para roh yang datang setiap malam hari. Karena menyantap makanan tanpa izin, terkutuklah kedua orang tua Chihiru menjadi babi.

Perkampungan tersebut dipimpin oleh penyihir Yubaba. Untuk menyelamatkan kedua ortunya, Chihiru harus bekerja untuk Yubaba. Dia kudu teken kontrak, dengan berubah nama menjadi Sen. Chihiru tak bakal mampu kembali ke dunia nyata jika tak memiliki identitas atau tulisan namanya. Untunglah, Chihiru masih menyimpan sebuah kartu pos yang tertera nama aslinya dalam lempitan bajunya.

Selanjutnya, Chihiru bertualang dengan dibantu oleh Haku, bocah lelaki yang bekerja pula untuk Yubaba. Haku mampu berubah menjadi naga. Chihiru dibantu pula oleh para manusia yang terperangkap dalam dunia Yubaba. Salah satunya, Rin, anak perempuan yang terpaksa bekerja sebagai pembersih pemandian. Ada pula si manusia laba-laba Kamaji yang bekerja tiap malam meramu bumbu dan racikan obat bagi para tamu. Ada pula kutu yang tak pernah henti menyuplai batubara supaya tungku Kamaji selalu menyala. Ada juga roh tanpa wajah yang menelan manajer pemandian, seorang pembantu, dan seorang manusia katak. Serta, anak Yubaba, si Boh, bayi raksasa bersama burung hantu berkepala manusia. Bantuan terbesar justru dari kembaran Yubaba, Zeniba. Hingga Chihiru mampu menyelamatkan kedua ortu dan kembali lagi ke dunia nyata.

Sebagai pelekat kesan, film ini ditutup oleh soundtrack Itsumo Nando Demo (Always with Me) yang dibawakan oleh Youmi Kimura.

Coba bayangkan, pernahkah Anda menemukan sebuah perkampungan yang ternyata bukan untuk alam kita?

4 responses to “Komentar Film Spirited Away: Fantasi yang Terlalu Liar

  1. Film Indonesia-kah ini?

    Kami rindu film Indonesia asli.

    Film Indonesia adalah film yang judulnya memakai bahasa Indonesia(kecuali untuk piala Oscar tentu akan disiapkan judul Internasional/Inggrisnya),kredit titlenya memakai bahasa Indonesia, semua pemainnya juga orang Indonesia termasuk orang di belakang layar, dan lokasi syuting filmnya di Indonesia. Tapi sayang seribu sayang, banyak “film Indonesia” sekarang masih sering menggunakan artis pranakan, atau produser pranakan (keturunan India atau Tionghoa,dll) lalu itu disebut “film Indonesia”.
    Kecuali kalau film itu bercerita tentang perjuangan mengusir penjajah/meraih kemerdekaan, wajar film itu memakai orang Belanda atau orang Jepang, atau bahkan kedua2nya.
    Ada beberapa orang film/sinetron yang bukan orang Indonesia asli:
    Cinta Laura, Kirana Larasati punya darah Arab, Agnes Monika,Raam Punjabi,Leo Sutanto,Nirina Zubir lahir di Madagaskar, dan masih banyak yang lain.
    Padahal banyak lho orang Indonesia asli yang kualitas aktingnya lebih bagus dari mereka, dari Sabang sampai Merauke.
    Gak apa-apa sih mereka main film Indonesia,cuman jangan sampai mereka lebih menguasai dunia perfilman/sinetron dibandingkan wajah-wajah lokal. Dan tidak dapat dipungkiri juga bahwa produser-produser seperti Shanker atau Leo Sutanto juga sudah banyak membantu dalam membangkitkan kembali film Indonesia. Terima kasih untuk kalian.

    Wajarlah kalau film-film perjuangan memang malas mereka buat karena mereka bukan orang Indonesia asli.

    Ini bukanlah e-mail anti pranakan, karena kami sendiri punya banyak teman akrab dari berbagai belahan dunia, tapi kami ingin melihat film Indonesia yang betul-betul Indonesia dan kualitasnya bagus.

    Tentu saja Lembaga Sensor Film (LSF) harus dibubarkan karena LSF menghalangi kreatifitas,LSF tidak tahu menilai sebuah film.
    Contohnya:film tentang perjuangan menegakkan kemerdekaan, trus adegan perangnya disensor, bodoh kan itu namanya.
    Kami rindu film-film perjuangan, seperti Tjoet Nya Dhien atau Soerabaia’45 yang punya spesial efek yang bagus.
    Kapan ya film tentang Pangeran Antasari, Bung Hatta,Yos Sudarso dan lain-lain pahlawan Nasional muncul kembali?

    Majulah film Indonesia!!!!!

  2. apanya yg salah , film itu bagus,kok.
    memang sih fantasinya sangat aneh dan sangat berbeda dgn fantasy orang2 hollywood.

  3. Tak ada yang salah dalam film ini. Saya pun sepakat ia film bagus.

  4. Saya tidak menemukan hal yang salah dengan itu. Justru ini film yang luar biasa. Imginasinya yg sangat hebat! Itulah yang namanya karya Seni. Belajar mengapresiasikan karya seni. Tidak ada yang salah dalam hal seni🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s