Puasa Sebentar Lagi

Harusnya hati ini tergerak untuk senantiasa makin mendekati-Mu.

Lagi-lagi, hari ini saya bangun kesiangan. Lewatlah waktu subuh. Salat minta rezeki, duha, juga saya lewatkan. Kembali saya ngorok terbantai lelah. Rasa penat sisa demo kemarin masih terasa.

Duhur ini saya hanya selesaikan dua lembar mengaji. Padahal, sebelumnya, saya bisa melalap tiga hingga empat lembar (setengah atau sepertiga juz) sehari.

Lagi-lagi, bukan karena kemampuan menurun, namun lantaran malas. Padahal, rasa malas bisa menggerus ketrampilan.

Ramadan datang beberapa hari lagi. Namun entah mengapa, saya belum merasakan kerinduan. Mungkin terlalu sibuk kerja. Apakah ini ciri-ciri ujub? Silau terhadap dunia?

Ah, bukankah selama belum mapan (secara materi), saya memang harus terpaksa kerja banting tulang? Apakah salah? Setahun lalu, ketika dalam suasana Ramadan, saya menganggur sehabis keluar kerja. Toh tak mampu mendekatkan diri lantaran ‘banyak waktu luang’.

Ah, semoga saja pencerahan-Mu menghinggapiku. Sehingga saya mampu menjadi Ya’qub si penanggung segala derita, yang benar-benar Yahya (baca: hidup).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s