Resensi Film Jasmine Women: Beratnya Menjadi Seorang Ibu

Dedicated to All Mothers.

Sepenggal kalimat tersebut membuka film besetan sutradara Hou Yong ini (selesai 2004, edar 2005). Jasmine Women disadur dari novel Su Tong yang berjudul Women’s Life. Ini film bercerita tentang penderitaan wanita dari masa ke masa.

Film ini terasa istimewa karena digawangi oleh dua aktris, Zhang Ziyi dan Joan Chen. Zhang masihlah Zhang yang bandel, pemberontak, keras kepala, orang yang tak mau dihalangi niatnya. Sudah jamak Zhang berperan dengan watak seperti itu (Crouching Tiger Hidden Dragon, Hero, House of Flying Daggers, Memoirs of Geisha). Adapun Chen berperan sebagai wanita yang sabar, mengalah, meski memendam kepedihan atas kebandelan anaknya.

Uniknya, Zhang ketiban tiga peran. Yakni Motou muda (nenek), Lily muda (ibu), serta Xiao Hua dewasa (anak). Sedangkan Chen memerani dua lakon. Yaitu ibu Motou dan Motou tua.

Bagaimana rasanya jadi seorang ibu yang hanya punya seorang anak perempuan yang keras kepala? Dan itu senantiasa turun-temurun berlanjut? Jawabnya ada pada film yang satu ini. 

Bermula pada setting China 1930-an. Motou dan ibu adalah penjaga studio foto. Motou adalah gadis yang berambisi menjadi bintang film terkenal. Kala itu, ada aktor ganteng yang senantiasa menjadi idola, Gao Zhanwei. Cita Motou menjadi nyata ketika bertemu produser Tuan Meng.

Ibu Motou tak setuju dengan jalan karirnya. Namun Motou keras kepala. Hingga dia hamil dari hubungan dengan Meng. Sayangnya, nasib bicara lain. Produksi film Meng terbengkalai lantaran kedatangan tentara Jepang. Meng kabur entah ke mana.

Terpaksalah Motou melahirkan anak perempuan, Lily. Sementara itu, si ibu punya pacar baru, seorang tukang cukur. Celakanya, si paman diam-diam mengincar Motou. Hingga sang ibu memergoki mereka berdua. Bunuh dirilah Ibu Motou.

Cerita berlanjut pada kehidupan Lily dewasa (1950-an). Lily punya pacar aktivis partai komunis, Zhou Jie. Menikahlah mereka. Motou sebenarnya kurang sreg jika Lily harus ikut susah payah menjalani kehidupan bersama keluarga pegiat partai.

Namun cinta Lily tak bisa terbendung. Sayang, keduanya tak dikaruniai anak. Hingga A Jie dan Lily mengadopsi anak perempuan, Xiao Hua. Lily punya penyakit halusinasi. Dia selalu membayangkan A Jie fedofil dan mengincar anak mereka.

Hingga suatu malam Lily menuduh A Jie berbuat tak senonoh terhadap A Hua. Lily mengancam bakal melaporkannya ke partai. Tertekanlah A Jie hingga dia bunuh diri. Lily pun menyusul sang almarhum suami. Diasuhlah A Hua oleh Motou tua.

Tiga belas tahun kemudian, beranjaklah A Hua menjadi siswa SMA. Dia punya pacar Xiao Du yang akan melanjutkan studi di bangku kuliah. Menikahlah keduanya diam-diam.

Setelah Motou mengetahui, marah besar dia. Namun A Hua tetap bersikeras. Bahkan A Hua tengah hamil. Sayang, A Du punya pacar yang lain di tempat kuliah. A Hua pun meminta cerai.

A Hua sempat berniat mencelakai A Du dengan menyalakan gas di dalam kamar mereka. Niat A Hua terhenti lantaran pendarahan. Sejak itu, A Du meninggalkannya dan berpaling ke wanita lain.

Penderitaan A Hua makin terasa dengan meninggalnya Motou sang nenek. A Hua susah payah melahirkan anaknya seorang diri, di tengah dini hari, di tepi jalan di tengah hujan. Akhir cerita, A Hua mengasuh anak perempuannya (1980-an).

Film ini makin terasa dalam dengan soundtrack yang berjudul Mo Li Hai Kai (artinya bunga melati yang tengah mekar). Lagu ini juga berkumandang pada saat penutupan Olimpiade Athena 2004 silam.

Perempuan memang bagaikan bunga melati yang mungil namun mewangi, hingga harumnya sirna jika dipetik. Makanya, jangan sekali-kali memetiknya. Lain kata, jangan sampai melukai hati seorang wanita. Di tengah keringkihannya, perempuan memendam kekuatan yang mampu menekan segala penderitaan. Percayalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s