Takar Buku Panduan Liputan Bisnis

Buku panduan nan sangat praktis. Sangat berguna bagi jurnalis pemula, terutama yang menggeluti bidang ekonomi-bisnis. Komprehensif menerangkan kondisi ekonomi makro dan pasar uang. Pun membedah ranah mikro dengan liputan perusahaan. Pembaca bakal terbantu dengan beragam alamat situs serta ‘kamus kecil’ daftar istilah. Sayang, buku ini melupakan liputan usaha kecil dan menengah. Pun, soal syariah.

  

Judul buku Business and Economic Reporting: Meliput Perusahaan, Pasar Uang, dan Ekonomi Makro
Penulis Anya Schiffin, Margie Freaney, dan Jane M. Folpe
Penerjemah Asriyadi Alexander
Editor Budi Setiyono
Penerbit Pantau, atas izin International Center for Journalists
Tahun terbit 2007, diterbitkan dan didistribusikan secara terbatas
ISBN 978-979-97945-3-6
Ukuran dan tebal 15 cm x 20 cm, 81 halaman (termasuk lampiran)

 Hampir tiga tahun ini saya menjadi jurnalis bidang ekonomi dan bisnis. Masa yang saya jalani sejak pertama kali menjadi pewarta hingga kini. Ranah liputannya demikian luas. Perbankan, kredit macet, pergerakan suku bunga dan kurs plus inflasi, regulasi pemerintah, perburuhan, pasar modal, indeks harga saham, obligasi dan surat berharga lainnya, real estate dan properti, bisnis sektor riil, perusahaan, merger dan akuisisi, privatisasi, anggaran dan defisit negara, perdagangan ekspor-impor, prospek investasi, perpajakan, waralaba dan lisensi, peta persaingan usaha, serta profil pengusaha sukses.  

Meski beragam tema liputan, toh yang kita hadapi melulu itu-itu belaka. Angka, angka, dan angka. Berapa besar pertumbuhan, kenaikan, penurunan, dan sejumlah rupiah atau dolar yang tentu saja bukan milik saya.  

Namun demikian, liputan ekonomi punya karakteristik tersendiri. More and less, lebih susah daripada bidang lainnya. Bidang ekonomi mengandung beragam istilah yang lebih rumit daripada bidang humaniora, apalagi olahraga. Pun, tak kalah menantangnya dibanding liputan di medan konflik (untuk mengungkap sejumlah skandal dan praktek bisnis yang merugikan publik).  

Karena itulah, sebenarnya jurnalis ekonomi sangat membutuhkan sebuah panduan. Semacam pegangan know-how dan how-to. Sayangnya, sejak awal karir, saya tak pernah memperoleh bekal atau diklat yang memuaskan. Semua redaktur berasumsi (dan menuntut) jurnalis anyar bisa memperoleh sejumlah info yang mereka inginkan.  

Berangkat dari kondisi itulah, keberadaan buku ini menemukan arti pentingnya. Meski ditulis oleh author manca, buku ini tidak kehilangan konteks lokal. Entah menjelaskan pasar modalnya, perbankan dan kredit macetnya, serta suasana makro lainnya.  

Buku ini terdiri dari lima bab. Bab pertama menjelaskan sifat dasariah liputan bisnis. Bab kedua menerangkan kiat meliput perusahaan. Bab ketiga menjabarkan teknik meliput ekonomi makro. Bab keempat mengupas liputan komoditas serta ekspor-impor (eksim). Serta bab terakhir menekankan pentingnya peran jagad maya atau internet. Buku ini juga menyertakan beberapa contoh liputan media dari berbagai negara yang relevan dengan masing-masing tema. 

Hal yang paling penting (menurut hemat saya) terletak pada bagian awal. Bab pertama menawarkan tips yang sangat mendasar (rule of thumbs). Jangan cepat percaya pada selembar press release. Jurnalis juga jangan cepat puas jika hanya memperoleh kutipan dari bagian humas. Kuli tinta harus mampu menebar jaringan sumber, hingga level petinggi perusahaan. Selain itu, jurnalis dituntut kudu bisa mengunyah sejumlah angka hingga pembaca mampu mencerna berita dengan mudah. Pendekatan narasumber hingga level personal mungkin sangat berguna. Selain memperdalam impresi sang jurnalis di lapangan, hal ini juga bermanfat untuk menyajikan fakta secara memikat. Sentuhan kemanusiaan lebih menarik pembaca awam, yang bakal suntuk jika langsung disodori sejumlah angka yang kering dan kaku.  

Misalnya, tulisan apik jurnalis Wall Street Journal tentang penggelapan pajak seorang bos perusahaan ternama. Untuk menggambarkan penyalahgunaan uang perusahaan, jurnalis justru menggambarkan dengan detil betapa besar dan megahnya rumah seorang kepala eksekutif. Lalu, pembaca ditikam dengan pernyataan, berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk memperoleh properti semewah itu? Rupanya si eksekutif tak butuh sepeser pun doku, melainkan cukup merogoh pinjaman dari perusahaan dia bekerja –tanpa bunga (halaman 15).  

Di mana letak si kecil?

Sayangnya, buku ini agak melupakan sektor usaha kecil dan menengah (UKM, small and medium enterprises atau SMEs). Nampaknya para penulis masih silau terpukau oleh kebesaran angka (big figure and picture) roda ekonomi makro.  

Padahal, di negara mana pun, si kecil merupakan skrup perekat mesin ekonomi. Bahkan, di Indonesia, jumlah unit sektor ini menghiasi lebih dari 90% unit usaha yang ada. Selain itu, bidang ini berfungsi sebagai trampolin pengaman jatuhnya para pengangguran. Namun, mereka masih menjadi anak tiri lembaga pembiayaan (sebenarnya ini masalah klasik). Nah, sebenarnya dari penggalan gambaran kondisi tersebut, sektor ini sangat kaya bahan bagi para jurnalis.  

Meliput sektor UKM juga butuh skill dan ketrampilan tertentu. Maklum, para pelaku usaha ini masih tabu, tepatnya malu, bicara soal laba dan omzet. Justru itulah, faktor penghalang utama yang seringkali dihadapi oleh para jurnalis menggali fakta. Ditambah, maaf, kurangnya pengetahuan dan pendidikan para pelaku usaha ini pada umumnya, jarak antara jurnalis (yang mewakili para pembaca) dan narasumber makin melebar. 

Lantaran itulah, tentu saja, wartawan juga butuh tips dan kiat meliput bidang UKM. Sayang, harapan ini tak terjawab oleh buku ini.  

Bisnis kaum berpeci

Sayang, syariah juga belum disentuh sama sekali. Padahal saat ini pola bisnis ‘halal’ sudah dilirik negara Barat. Justru ekonomi syariah maju pesat di ranah Inggris dan daratan Eropa lainnya. Siapa sangka, Bank HSBC punya unit syariah terbesar.  

Syariah juga punya instrumen unik, yang jauh berbeda dari wahana investasi ribawi ala kapitalisme. Hingga kini, Indonesia masih belum punya surat utang syariah alias sukuk. Malaysia dan Singapura sudah terlebih dahulu punya dan sistemnya sudah mapan.  

Sayang, sekali lagi sayang, para penulis alpa memasukkan syariah dalam bahasannya. (Mungkin) mereka berbeda keyakinan alias bukan muslim. Tapi, syariah bukan masalah muslim atau non-muslim.

2 responses to “Takar Buku Panduan Liputan Bisnis

  1. Harganya berapa? Belinya dimana?

  2. Wah, kalau saya dapet gratis dari Pantau. Waktu itu, hari Kamis (23/8) saya liputan di DPR, kebetulan ada event kebebasan akses informasi di sana. Pantau ikut buka stand. Saya iseng-iseng isi formulir pengunjung dan dapat buku ini deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s