Resensi Film: Raise The Red Lantern, Potret Kesengsaraan Perempuan Tiongkok

200px-raise_the_red_lantern_dvd.jpg

Baru-baru ini saya menikmati film Raise The Red Lantern, besutan Zhang Yimou (1991). Bintangnya, si gaek cantik Gong Li. Film ini bercerita tentang getirnya nasib seorang selir di zaman 1920-an. Waktu itu masa Dinasti Manchu.

Ngenesnya nasib perempuan Tiongkok memang menjadi tema yang menarik. Sepanjang zaman, dari era dinasti kuno, masa Manchuria, pendudukan Jepang, zaman Kuomintang, era Komunisme, atau bahkan hingga kini kaum hawa lekat dengan derita.

Karya satra maupun film negeri panda memigura sosok wanita dengan apik. Silakan baca Angsa Liar (The Wild Swans) gubahan Jung Chan. Atau simak pula Jasmine Women (Joan Chen dan Zhang Ziyi). Atau, nikmati film Gong Li lainnya The Curse of Golden Flowers (bersama Chow Yun Fat).

Bagi saya, jalan cerita hanyalah bumbu pemikat. Yang membuat saya kesengsem adalah setting dan latar tempatnya. Latarnya adalah kompleks perumahan besar milik pria kaya.

Pada masa itu, pria berkantong tebal (bisa jadi pejabat, atau pebisnis sukses) selalu bisa menikmati selir yang banyak. Rumahnya pun luas dan besar. Seperti kompleks. Tiap gang ada blok rumah petak sendiri. Selain buat selirnya, juga untuk para babu, jongos, dan pembantunya.

Yang membuat saya kepincut adalah suasana masa lalunya. Arsitektur perumahan tersebut kuno banget. Gambaran itu memerangkap kenangan saya di kampung halaman. Saya selalu menikmati jalan-jalan di kompleks Pecinan, di dekat Pasar Rogowangsan, Kota Pati sana.

Di sana, waktu serasa mati. Semuanya sepi. Sepanjang jalan dihiasi oleh rumah kuno ala Pecinan. Di ujung jalan, berdiri Vihara Buddha yang agung. Serba merah, pengaruh kelenteng China. Suasananya tenang. Ada toko obat tabib China dengan berak-rak laci obat berlabel tulisan China. Ada juga rumah makan yang menyajikan menu China: swieke dan babi panggang.

Begitu khas mencetak kesan. Setiap pulang Pati, saya selalu menikmati membunuh waktu ke Pecinan. Setelah menelusuri alun-alun, saya menembus jalan sebelah timur, dan sampailah di Pecinan.

Kembali ke lentera merah (red lantern). Ini film mengisahkan kegetiran nasib seorang perempuan bernama Songlian (Gong Li). Songlian memutuskan drop out kuliah setelah berjalan satu semester lantaran kekurangan biaya. Lagipula, waktu itu, buat apa seorang wanita berpendidikan tinggi-tinggi?

Tentu ini bukan peran yang asing bagi Gong Li. Dia pernah memikat pemirsa menjadi geisha (Memoire of Geisha, bersama Zhang Ziyi dan Michelle Yeoh). Li juga pernah apik berperan sebagai permaisuri yang merana dalam The Curse of Golden Flowers.

Waktu itu, anak perempuan berparas cantik adalah investasi tersendiri. Jika bisnis Anda bangkrut atau kondisi keuangan sedang terpuruk, takperlu khawatir. Tinggal nikahkan saja anak putri Anda kepada pria kaya. Meskipun hanya menjadi selir.

Songlian adalah istri keempat Tuan Chen. Petualangan hidupnya bermula ketika bersentuhan dengan dunia perseliran. Intrik dan persaingan terselubung antar-istri begitu terasa. Belum lagi perasaan benci dari pembantu.

Kala itu, wanita merasa tak berguna jika tak mampu melahirkan anak laki-laki. Setiap istri berlomba, siapa yang lebih dulu bisa memberikan seorang putra. Tak ayal, persaingan dan saling sikut tak terelakkan.

Meishan, istri ketiga, adalah seorang pemain opera. Suaranya bagus parasnya cantik. Zhouyun, istri kedua, adalah pemijat handal. Di luar nampak baik bermuka manis, padahal berhati ular. Sedangkan Yuru, istri pertama, mampu memberikan putra sulung.

Suatu hari Songlian membuka pintu ruang di atap rumah. Ternyata ruang itu digunakan untuk gantung diri para selir generasi sebelumnya. Itulah ganjaran bagi selir yang selingkuh.

Perselingkuhan adalah warna jamak yang dilakukan oleh selir ketika terlalu lama tak dijamah oleh sang tuan. Konsekuensinya, bermacam hukuman kejam. Tergantung si tuan. Apakah disuruh minum racun, atau dibantai tanpa ampun.

Keluarga Chen punya tradisi, menyalakan lentera merah. Jika rumah petak seorang istri dihiasi lentera merah, malam hari itulah jatahnya melayani si tuan. Rupanya ada seorang pembantu yang selalu membayangkan dirinya menjadi selir. Di kamar pribadinya, Yang, pembantu itu, menghiasi ruangan dengan lentera merah.

Kebetulan, Yang berkomplot dengan istri kedua. Mereka sangat membenci Songlian. Suatu ketika, Songlian membuka kamar Yang. Didapatinya lentera merah dan… sebuah boneka voodoo bertuliskan nama Songlian. Ini suruhan istri kedua -yang di depan orang selalu berwajah manis.

Karena berbagai pertengkaran, Songlian membuka aib Yang. Dihukumlah Yang dengan berlutut di depan rumah, di tengah turun salju. Ambruklah ia dan dilarikannya ke rumah sakit. Esok harinya, Yang sudah tiada. Sebelum mati, dia meracau menyebut nama Songlian.

Sejak itu, mulailah Songlian merasa bersalah dan tertekan. Songlian juga memegang kartu istri ketiga. Rupanya Meishan punya affair dengan dokter pribadi. Suatu ketika, Songlian mabuk dan keceplosan.

Akhirnya terkuaklah, Meishan bermain cinta dengan si dokter di sebuah hotel. Malam harinya, Meishan digantung di ruang atas atap. Songlian makin depresi. Sehari setelah kematian Meishan, dia nyalakan lentera merah di blok rumah istri ketiga itu. Sambil, dia nyalakan gramafon yang memutar lagu opera. Seisi rumah geger, mengira hantu Meishan gentayangan.

Akhirnya Songlian dianggap gila oleh si tuan. Bukannya makin memperhatikan Songlian, alih-alih, Tuan Chen malah menyunting wanita kelimanya.

3 responses to “Resensi Film: Raise The Red Lantern, Potret Kesengsaraan Perempuan Tiongkok

  1. Film ini sangat berkesan bagi saya, setelah Memento Mori dan Jasmine Women.

  2. sejak dulu ampe sekarang memang wanita selalu jadi objek seksual dan penyiksaan.

  3. ada yg tau belinya dimana?
    saya cari di glodok udh ga ada..
    tx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s